Layar ponsel Lewi menampilkan lingkaran berputar tanpa henti, mengejek usahanya yang sia-sia di tengah kepekatan kabut pegunungan Sichuan. Sinyal sudah lama menghilang, peta digitalnya pun ikut mati."Sial, aku benar-benar tersesat," gerutu Lewi sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dengan tangan yang gemetar akibat udara dingin.Dia melangkah lagi, kakinya menelusuri jalan setapak yang dipenuhi lumut basah. Di dalam ranselnya, sebuah buku silsilah tua bersampul kulit kusam bergesekan pelan setiap kali dia bergerak, benda itu adalah peninggalan mendiang ayahnya, satu-satunya alasan pemuda asal Jakarta ini nekat terbang jauh ke Tiongkok."Ayah bilang jawabannya ada di sini," gumamnya pelan, menepuk ranselnya sendiri. "Semoga saja benar."Ayahnya dulu selalu berbicara tentang ikatan leluhur dan rahasia yang terkubur di pegunungan ini, tapi tidak pernah bilang seberapa mematikannya tempat ini bagi orang asing yang buta arah.Tiba-tiba, suara rintihan tertahan menginterupsi kesu
Last Updated : 2026-07-26 Read more