تسجيل الدخولLewi Tan hanya ingin satu hal yakni menemukan jejak keluarganya di Tiongkok untuk membuktikan cerita tentang leluhurnya yang selama ini ia dengar dari sang ayah. Tanpa kemampuan berbahasa Mandarin dan hanya bermodalkan nekat, perjalanan itu justru membawanya tersesat ke pegunungan terpencil. Di tengah hutan, Lewi menemukan seorang pria tua yang terluka parah dan memutuskan menolongnya. Tanpa disadarinya, pria tua itu adalah Jin Hou, salah satu legenda dunia persilatan yang telah diburu oleh musuh misterius. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Jin Hou mewariskan kekuatan dan pengalaman beladirinya kepada Lewi, seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa itu Qi. Sejak saat itu, hidup Lewi berubah. Kematian Jin Hou membuat Lewi diburu Zhao Lie, murid sang legenda, yang mengira pemuda asing itu telah membunuh gurunya dan mencuri Warisannya. Terjebak di negeri asing dan tidak mampu menjelaskan kebenaran, Lewi harus bertahan hidup sambil perlahan memahami kekuatan asing yang mengalir di dalam tubuhnya. Namun, kematian Jin Hou ternyata bukan sekadar tragedi. Di balik dunia persilatan yang selama ini tersembunyi dari kehidupan manusia biasa, terdapat ancaman yang jauh lebih besar. Satu demi satu para pewaris ilmu dan master persilatan mulai menghilang atau ditemukan tewas sebelum sempat meneruskan Warisan mereka dan Lewi, yang awalnya hanya datang untuk mencari jejak leluhurnya, kini menjadi salah satu pemilik Warisan yang paling diburu karena di dunia Jianghu, Warisan bukan sekadar kekuatan tapi esuatu yang harus diteruskan dan ada makhluk yang ingin menghentikan siklus itu untuk selamanya.
عرض المزيدLayar ponsel Lewi menampilkan lingkaran berputar tanpa henti, mengejek usahanya yang sia-sia di tengah kepekatan kabut pegunungan Sichuan. Sinyal sudah lama menghilang, peta digitalnya pun ikut mati.
"Sial, aku benar-benar tersesat," gerutu Lewi sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dengan tangan yang gemetar akibat udara dingin. Dia melangkah lagi, kakinya menelusuri jalan setapak yang dipenuhi lumut basah. Di dalam ranselnya, sebuah buku silsilah tua bersampul kulit kusam bergesekan pelan setiap kali dia bergerak, benda itu adalah peninggalan mendiang ayahnya, satu-satunya alasan pemuda asal Jakarta ini nekat terbang jauh ke Tiongkok. "Ayah bilang jawabannya ada di sini," gumamnya pelan, menepuk ranselnya sendiri. "Semoga saja benar." Ayahnya dulu selalu berbicara tentang ikatan leluhur dan rahasia yang terkubur di pegunungan ini, tapi tidak pernah bilang seberapa mematikannya tempat ini bagi orang asing yang buta arah. Tiba-tiba, suara rintihan tertahan menginterupsi kesunyian hutan. Lewi tertegun, menghentikan langkah. Suara itu seperti embusan napas kasar yang tersendat, disusul gemerisik dedaunan di balik semak bambu di sebelah kiri jalur pendakian. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia tetap menyingkirkan dahan-dahan berduri yang menghalangi pandangan. "Ya Tuhan..." bisiknya tertahan, napas tercekat di tenggorokan. Di atas tanah yang basah oleh embun dan darah, terbaring sosok berjubah abu-abu compang-camping. Pria tua itu tampak sangat lemah dengan luka robek menganga di dadanya. Darah segar mengalir membasahi tanah dan yang membuat Lewi bergidik, luka itu tidak seperti bekas cakaran binatang, melainkan seperti sabetan yang meninggalkan sisa asap tipis kehitaman di sekitar kulitnya. Pria tua itu membuka kelopak matanya perlahan. Sepasang mata sayu namun tajam menatap langsung ke arah Lewi, memancarkan kilau keemasan sesaat sebelum meredup kembali dalam kesakitan. Lewi langsung jatuh berlutut di sampingnya tanpa memedulikan celananya yang kotor. Dia melepas ranselnya, membongkar isinya mencari perban dan botol antiseptik kecil yang selalu dia bawa sejak dari Indonesia. "Tahan sebentar, Pak. Aku akan membantumu," ucapnya bergetar, meski tahu pria itu pasti tidak mengerti sepatah kata pun. Dengan tangan gemetar, Lewi merobek kain kemejanya untuk menutup luka, lalu menekan bagian dada yang terus mengeluarkan darah. Pria tua itu mengerang pelan, tubuhnya bergetar saat cairan obat menyentuh lukanya. Namun di balik kerutan wajah menahan sakit, tatapannya tidak lepas dari Lewi, seolah menemukan sesuatu yang tidak dia duga akan ditemuinya di tempat seperti ini. "Aku tidak akan menyakitimu," ucap Lewi lagi, lebih pada dirinya sendiri daripada pria itu. Tiba-tiba, telinga pria tua itu seolah menangkap sesuatu. Tubuhnya menegang. Sebelum Lewi sempat bertanya, sebuah cengkeraman kuat mendarat di pergelangan tangannya, kekuatan cengkeramannya jauh melampaui kekuatan fisik dari seorang pria sekarat. "Pergilah. Cepat lari dari sini," suara itu bergema langsung di dalam kepala Lewi, bukan melalui telinganya. Lewi terpekik kaget, nyaris terduduk ke belakang. "Apa? Aku..." Bibir pria itu sama sekali tidak bergerak, tapi suara itu tetap ada, jelas dan mendesak, tertanam langsung di kepalanya. Suara langkah kaki di kejauhan kini semakin jelas, disusul bentakan bernada dingin yang menggema di antara pepohonan pinus. Pria tua itu menatapnya. Dia tahu waktu hidupnya tinggal hitungan detik. "Jika kau benar-benar ingin menolongku," suara itu kembali bergema, kali ini lebih lemah, "maka kau harus bersedia menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan." Sebelum Lewi sempat mencerna kalimat itu, udara di sekitar mereka bergetar hebat, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan dari tubuh sang pria tua. "T-tunggu, apa yang—" Lewi mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman itu tidak mau lepas. Telapak tangan pria tua itu menempel di dadanya. Panas menjalar cepat, seperti logam membara dipaksa masuk lewat kulit. Lewi menjerit, suaranya tercekat. Cahaya keemasan yang tadi membungkus tubuh pria itu kini mengalir, berpindah, menembus telapak tangan, masuk ke dalam dadanya sendiri. Dunianya berputar, dadanya seperti diremas dari dalam. Sesuatu yang tidak pernah dia sadari ada di tubuhnya tiba-tiba terbakar, terkoyak, lalu tersusun ulang dengan paksa. "Tahan, jangan lawan dan biarkan mengalir," suara itu masih ada di kepalanya, nyaris tak terdengar. Lewi tidak tahu caranya yang dia lakukan hanya bertahan, mencengkeram balik lengan pria tua itu, giginya mengatup rapat menahan rasa sakit yang tidak masuk akal. Perlahan, cahaya itu meredup. Panasnya surut, menyisakan denyut hangat yang aneh, seperti detak jantung kedua yang bukan miliknya. Genggaman pria tua itu melemah, lalu terlepas sepenuhnya. Tubuhnya ambruk ke tanah. "Pak? Pak!" Lewi mengguncang bahunya. Tidak ada respons. Dada yang tadi naik-turun sekarang diam. "Kau harus bangun," gumamnya panik. "Ayo, Pak, jangan—" Suara langkah kaki yang tadi jauh kini tiba-tiba sangat dekat. Semak-semak di belakangnya pecah berantakan. Lewi berbalik cepat dan melihat seorang pria berjubah merah berdiri di sana, matanya langsung terkunci pada sosok yang terbaring di tanah. "Shifu..." Suara itu bergetar, nyaris tak percaya. Pria itu berlutut cepat di samping jasad, matanya menelusuri luka di dada, lalu berpindah menatap Lewi yang masih berlumuran darah. Untuk sesaat, hanya suara angin di antara pepohonan pinus. Lalu ekspresi wajahnya berubah, mulai dari rahangnya yang mengeras, mata menyipit tajam, hingga amarah yang meledak begitu cepat. "Kau..." desisnya rendah dan mengancam. Sebelum Lewi bereaksi, cengkeraman kuat sudah mendarat di kerah jaketnya, begitu cepat hingga matanya tidak sempat menangkap gerakan itu. "Tunggu, aku bisa jelaskan—" Lewi mundur, tangannya terangkat refleks. "Kau membunuh Shifu?!"Belasan meter di seberang tanah lapang, Lewi terduduk di atas gundukan tanah berlumut. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup begitu kencang sampai terasa akan ompat keluar dari dadanya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih memancarkan sisa-sisa pendaran cahaya emas yang kini tampak meredup. Pikirannya kosong meski tubuhnya tampak gemetar hebat, semua yang rasakan saat ini, itu bukan sekedar karena ketakutan saja tapi ia juga kebingungan atas apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Lewi menengok ke belakang, menatap Zhao Lie yang saat ini tengah berdiri terpaku dari kejauhan. Tangan Zhao Lie yang tadi siap menerkamnya, kini kembali tertahan di udara. Meski Lewi melihat Zhao Lie dari posisinya sekarang, Ia bisa melihat kalau rahangnya Zhao Lie masih mengeras, dengan matanya yang menyipit, harimau jadi-jadian itu terus menatap gerakan terakhir Lewi sebelum menjauh darinya. "Langkah itu..." gumam Zhao Lie, suaranya parau. Zhao Lie menatap telapak tangannya sen
Pepohonan di sekeliling Lewi bergetar hebat, sebelum ia sempat melangkah mundur untuk mencari perlindungan, semak-semak belukar di depannya tampak tercabik-cabik dalam berbagai ukuran. Dari balik remahan semak itu, muncul sesosok makhluk setinggi dua meter, melesat keluar dari kegelapan kabut. Aumannya begitu dekat hingga membuat gendang telinga Lewi berdengung menyakitkan. Makhluk yang menampakan diri dengan cara dramatis itu, ternyata memiliki wujud harimau berloreng merah-oranye yang berjalan dengan dua kaki. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman yang berat. Cakarnya terlihat begitu tajam mungkin setajam belati atau mungkin bisa lebih tajam dari senjata para assasin itu. Lewi menahan napas, merapatkan punggungnya ke batang pohon pinus yang besarnya bisa menutupi tubuhnya. Namun, meski sudah bersembunyi keringat dingin masih mengalir deras di tengkuknya. "Monster apa lagi itu?" pikirnya panik. Harimau raksasa itu tidak langsung menyerang. Ia mengendus tanah secara pe
Dunia sekitar Lewi runtuh ke dalam kegelapan total, meski begitu itu bukanlah kegelapan yang kosong. Di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, ia merasa seolah-olah seluruh saraf di tubuhnya sedang ditarik hingga ke titik putus. Otot-ototnya terasa diremas dari dalam, sendi-sendinya seperti dipaksa bergeser satu per satu. Ia menggigil hebat, giginya saling bergemeretak bersamaan dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya di atas tanah berlumut yang dingin. Kalung giok di tangannya terasa membara. Setiap detak nadi Lewi seakan disinkronkan dengan dentuman gaib dari benda tersebut, memompa energi emas yang tak henti-hentinya menekan ke dalam setiap organnya. Dalam kesadaran yang terombang-ambing, Lewi mendapati dirinya berdiri di suatu tempat yang aneh, sekilas dirinya tampak berdiri di hutan tempat dia bersimpuh menahan semua rasa sakit pada tubuhnya. Namun, ada yang tidak beres dengan tempat itu, mulai dari kabut yang bergerak melawan arah angin lalu merambat naik, alih-ali
Sosok di depan Lewi perlahan menunduk. Bulu-bulu keemasannya mulai luruh menjadi serpihan cahaya yang berpendar, melayang sesaat di udara sebelum menyatu kembali membentuk siluet baru. Tulang-tulangnya bergeser dengan suara berderak pelan, tubuhnya memanjang, dan dari kilauan cahaya itu perlahan terbentuk sehelai jubah sutra yang membalut punggungnya yang kini bungkuk. Dalam hitungan detik, wujud monyet itu lenyap sepenuhnya, digantikan oleh seorang kakek berjubah sutra kumal dengan janggut putih panjang yang terurai hingga ke dada. Meskipun wujudnya telah berubah, ciri monyet emas yang Lewi lihat sebelumnya masih tampak jelas pada struktur wajahnya yang tirus dan matanya yang seolah telah menyimpan kebijaksanaan selama berabad-abad. Lewi jatuh terduduk, napasnya terputus-putus. "Ini gila. Ini tidak mungkin," batinnya. Ia mencoba mencari penjelasan medis atau logis atas apa yang baru saja disaksikannya. Namun, getaran di udara dan aura dingin yang menekan dadanya terasa terlalu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.