Aku tak menjawab.Aku melepas jas putihku, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di sandaran kursi.Aku mengambil kunci mobil di atas meja, lalu berbalik dan pergi.Michael berdiri di dekat pilar tengah lobi rumah sakit, memakai kacamata hitam dengan satu tangan di dalam saku celana.Jelas sekali dia sedang menungguku.Melihat aku berjalan mendekat sambil membawa kotak kardus, dia melepas kacamata hitamnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang penuh sindiran.“Dokter Vivian, cepat sekali sudah pulang kerja?”“Kemarin waktu menolakku, bukannya kamu kelihatan tangguh sekali? Kok hari ini malah sudah dipecat?”Dia mendekat dan menekan suaranya, “Vivian, mulai hari ini, nggak akan ada satu pun rumah sakit di negeri ini yang berani menerimamu.”Dia menatapku, menunggu melihat raut ketakutan di wajahku, menungguku memohon ampun padanya.Namun, aku tak melakukannya.Aku hanya menatapnya dengan tenang.Dia mengerutkan kening, sepertinya sangat tak puas dengan reaksiku ini.“
Magbasa pa