تسجيل الدخولDi kehidupan sebelumnya, aku dibawa kembali ke Keluarga Shafron. Demi seorang putri angkat, kakak kandungku memfitnahku, menuduhku membuat penyakitnya kambuh. Orang tua kandungku percaya dan mengusirku dari rumah. Tak lama kemudian, aku mati karena sakit di pinggar jalan. Saat terbangun lagi, aku kembali ke hari di mana diriku dijemput oleh Keluarga Shafron. Michael menghalangi jalan orang tua, menunjukku dan berkata, “Ayah, Ibu, dia bukan adikku!” Pasangan suami istri itu menatapku dengan rasa kecewa, lalu berbalik dan pergi. Aku berdiri di tempat, tak mengeluarkan liontin giok yang bisa membuktikan identitasku, lalu diam-diam berjalan kembali ke panti asuhan. Dua puluh tahun kemudian, aku telah menjadi salah satu ahli penyakit dalam terkemuka di dalam negeri. Pria yang duduk di hadapanku menyodorkan rekam medis dengan suara gemetar, “Dokter, kumohon tolong selamatkan adikku.” Saat melihat nama di berkas itu, gerakanku pun terhenti. Pandanganku tertuju pada wajah yang tampak lesu dan kusam itu. Setelah menatapnya agak lama, barulah aku berpaling ke arah pria itu dan berkata, “Aku nggak menerima pasien ini.”
عرض المزيدAku berbalik dan berjalan ke samping Steve.Steve tak bersuara sejak tadi. Dia hanya berdiri di sana bertumpu pada tongkatnya, menyaksikan aku menyelesaikan semuanya.Di matanya tersimpan rasa bangga, sekaligus iba.“Ayah, ayo kita pergi.”Steve mengangguk pelan.Kemudian, dia memalingkan kepala, menatap Keluarga Shafron dengan dingin.“Mulai hari ini, Grup Halim akan menghentikan seluruh kerja sama dengan Grup Shafron.”“Kalian tanggung sendiri akibatnya.”Para pengawal mengawal kami melangkah keluar dari ruang rawat.Siaran langsung itu menjadi lelucon heboh yang mengguncang seluruh negeri.Namun, masalah ini tak berhenti sampai di sana.Di hari yang sama, Shelia langsung ditendang keluar dari Keluarga Shafron, bahkan dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana penipuan.Akibat mengonsumsi obat-obatan seperti digitalis dalam jangka panjang, organ jantungnya benar-benar mengalami kerusakan permanen yang tak bisa dipulihkan.Penyakit yang dia palsukan selama dua puluh tahun, kini me
Mendengar kata ‘siaran langsung’, wajah Shelia langsung pucat.Dia langsung menoleh ke sekeliling, seolah baru menyadari keberadaan kemera-kamera tersembunyi itu.Sorot matanya dipenuhi kepanikan luar biasa.Dokter Jack menatap kertas hasil laboratorium itu, lalu akhirnya menundukkan kepalanya dengan pasrah.Ruang rawat sempat hening beberapa detik.Kemudian, pertahanan Shelia runtuh sepenuhnya.“Ayah, Ibu… dengarkan penjelasanku…”Dia merangkak ke kaki Hendra, mencengkeram ujung celananya.“Aku bukan sengaja… aku hanya takut kehilangan kalian, takut dia kembali dan merebut semuanya…”Air matanya bercucuran semakin deras.Namun kali ini, tak ada lagi yang mengusapnya.Hendra menunduk meliriknya sekilas, dengan kilatan jijik yang mulai tampak di matanya.“Kalau nggak sakit, nggak perlu berlutut.”Hendra melangkah mundur selangkah, membuat cengkeraman tangan Shelia terlepas dari ujung celananya.“Keluarga Shafron sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun, itu sudah lebih dari cukup.”“B
Aku merapikan kerah bajuku yang sempat berantakan karena ditarik, lalu berjalan ke hadapan nenek itu.Dia sudah ditahan oleh pengawal dan didudukkan di kursi. Tubuhnya masih gemetaran, tapi air matanya sudah tak menetes lagi.“Bu, kamu bilang anakmu meninggal di rumah sakit tadi malam?”“Kok bukannya mengurus pemakamannya, kamu malah sengaja datang membuat keributan di ruang rawat khusus VIP yang nggak dibuka untuk umum ini?”Aku terdiam sejenak.“Karena anakmu adalah pasienku, coba bilang siapa namanya? Dia menderita penyakit apa? Dan obat apa yang kuberikan untuknya?”Sorot mata nenek itu mulai panik dan menghindar.Dia tak berani menatap mataku, bola matanya bergulir ke kiri dan kanan.“Anakku… nama anakku…” jawabnya terbata-bata.“Dia menderita penyakit jantung…”“Penyakit jantung jenis apa? Infark miokard? Gagal jantung? Aritmia? Atau yang lain?”“Pokoknya… pokoknya penyakit jantung…”“Lalu obat apa yang kuberikan?”“Aku… aku mana ingat nama-nama obat itu?! Pokoknya kamu yang suda
Belum sampai dua menit, terdengar suara gaduh dari luar ruang rawat.Ada seseorang yang menangis dan berteriak di koridor, suaranya terdengar semakin kencang.Pintu didorong dan terbuka lebar.Seorang nenek berambut putih yang memakai jaket katun lusuh berlari masuk sambil terhuyung-huyung.Wajahnya penuh dengan air mata, matanya bengkak dan memerah, sedangkan sudut bibirnya tertarik melengkuk ke bawah.Dua orang satpam mengikutinya dari belakang, mencoba memegang lengannya hanya sekadar formalitas, tapi langsung ditepis oleh nenek.“Vivian! Kembalikan anakku!”Begitu masuk, nenek itu langsung mengunci pandangannya padaku. Dia menerjang maju dan langsung mencengkeram jas putih yang kupakai.Tangannya sangat kasar dan tenaganya luar biasa kuat.“Hanya gara-gara keluarga kami miskin dan nggak memberi uang suap padamu, kamu asal kasih obat untuk mengusir anakku!”“Tadi malam dia nggak tertolong saat ditangani di ruang darurat… kamu yang membunuhnya!”Sambil menangis dan berteriak, dia ter






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.