Teilen

Bab 4

Gaston
Pada saat yang sama, sebuah ruang siaran langsung di Internet sudah dimulai.

Judulnya, [Dokter Spesialis Akhirnya Menyerah, Siaran Langsung Ditayangkan Langsung Dari Lokasi Konsultasi.]

Berkat dorongan dari Grup Shafron, ditambah sisa-sisa kehebohan dari topik viral kemarin, tak terhitung banyaknya netizen yang sedang menahan emosi.

Belum sampai sepuluh menit disiarkan, sudah ada lebih dari satu juta orang yang masuk.

Rentetan komentar berhamburan bagaikan badai salju.

[Akhirnya sampah ini mau mengalah juga! Kali ini pihak kapitalis benar-benar mantap!]

[Ayo kita lihat sama-sama dokter gadungan ini berlutut memohon ampun!]

[Kasihan sekali Shelia, masih harus berhadapan dengan dokter iblis seperti ini.]

Shelia terbaring di ranjang pasien, wajahnya masih tampak pucat kusam.

Melihatku, dia agak menciut ketakutan, “Kakak…”

Dia sama sekali tak tahu ada jutaan pasang mata yang sedang menatapnya saat ini.

“Jangan takut, kali ini dia datang untuk mengobatimu.”

Michael menyodorkan buah apel padanya, lalu berdiri dan berjalan ke hadapanku.

Karena tahu sedang siaran langsung, sikapnya tampak penuh gengsi.

“Vivian, mulai saja, cepat periksa adikku.”

“Kalau nggak bisa menyembuhkannya, angkat kaki dari dunia medis untuk selamanya.”

Aku tak meladeninya.

Aku berjalan lurus menuju troli peralatan medis di samping ranjang.

Sambil memakai sarung tangan, aku melirik Michael dengan dingin.

Michael menggertakkan gigi, tapi karena ada kamera, dia menahan diri untuk tak mengamuk dan hanya melemparkan senyuman dingin.

Dia berjalan ke samping dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.

Ruang rawat menjadi hening.

Dengan membelakangi kamera tersembunyi, aku mengambil stetoskop dan menempelkannya di dada Shelia.

“Tarik napas.”

“Hembuskan.”

Shelia sangat kooperatif, napasnya dibuat sangat berat dengan kening yang mengerut.

Rentetan komentar kembali dipenuhi rasa kasihan padanya dan caci makian untukku.

Aku menurunkan stetoskop.

Lalu mengambil tumpukan laporan hasil pemeriksaan milik Keluarga Shafron dari berbagai rumah sakit besar selama bertahun-tahun ini.

Gagal jantung stadium akhir, iskemia miokard, diagnosis yang tertulis tampak semakin parah.

Aku membalikkan halaman demi halaman, keningku pun semakin berkerut.

Kira-kira setelah mengamatinya selama lima menit.

Aku melemparkan tumpukan laporan itu begitu saja ke atas ranjang pasien.

Aku melepas sarung tangan, lalu berbalik badan.

“Shelia, penyakitmu ini memang lumayan sulit disembuhkan.”

Michael tertawa dingin ke arah kamera.

“Apa maksudmu? Bukannya kamu dokter spesialis ternama? Bahkan kamu pun nggak bisa menyembuhkannya? Kurasa kamu hanyalah dokter gadungan!”

Rentetan komentar kembali membanjiri layar,

[Dokter gadungan! Benar-benar dokter sampah!]

[Dia hanya mau lepas tanggung jawab! Keluarga Shafron cepat boikot dia!]

Aku tak meladeninya, melainkan berkata dengan suara pelan dan jelas,

“Karena adikmu ini nggak sakit sama sekali.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 10

    Aku berbalik dan berjalan ke samping Steve.Steve tak bersuara sejak tadi. Dia hanya berdiri di sana bertumpu pada tongkatnya, menyaksikan aku menyelesaikan semuanya.Di matanya tersimpan rasa bangga, sekaligus iba.“Ayah, ayo kita pergi.”Steve mengangguk pelan.Kemudian, dia memalingkan kepala, menatap Keluarga Shafron dengan dingin.“Mulai hari ini, Grup Halim akan menghentikan seluruh kerja sama dengan Grup Shafron.”“Kalian tanggung sendiri akibatnya.”Para pengawal mengawal kami melangkah keluar dari ruang rawat.Siaran langsung itu menjadi lelucon heboh yang mengguncang seluruh negeri.Namun, masalah ini tak berhenti sampai di sana.Di hari yang sama, Shelia langsung ditendang keluar dari Keluarga Shafron, bahkan dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana penipuan.Akibat mengonsumsi obat-obatan seperti digitalis dalam jangka panjang, organ jantungnya benar-benar mengalami kerusakan permanen yang tak bisa dipulihkan.Penyakit yang dia palsukan selama dua puluh tahun, kini me

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 9

    Mendengar kata ‘siaran langsung’, wajah Shelia langsung pucat.Dia langsung menoleh ke sekeliling, seolah baru menyadari keberadaan kemera-kamera tersembunyi itu.Sorot matanya dipenuhi kepanikan luar biasa.Dokter Jack menatap kertas hasil laboratorium itu, lalu akhirnya menundukkan kepalanya dengan pasrah.Ruang rawat sempat hening beberapa detik.Kemudian, pertahanan Shelia runtuh sepenuhnya.“Ayah, Ibu… dengarkan penjelasanku…”Dia merangkak ke kaki Hendra, mencengkeram ujung celananya.“Aku bukan sengaja… aku hanya takut kehilangan kalian, takut dia kembali dan merebut semuanya…”Air matanya bercucuran semakin deras.Namun kali ini, tak ada lagi yang mengusapnya.Hendra menunduk meliriknya sekilas, dengan kilatan jijik yang mulai tampak di matanya.“Kalau nggak sakit, nggak perlu berlutut.”Hendra melangkah mundur selangkah, membuat cengkeraman tangan Shelia terlepas dari ujung celananya.“Keluarga Shafron sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun, itu sudah lebih dari cukup.”“B

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 8

    Aku merapikan kerah bajuku yang sempat berantakan karena ditarik, lalu berjalan ke hadapan nenek itu.Dia sudah ditahan oleh pengawal dan didudukkan di kursi. Tubuhnya masih gemetaran, tapi air matanya sudah tak menetes lagi.“Bu, kamu bilang anakmu meninggal di rumah sakit tadi malam?”“Kok bukannya mengurus pemakamannya, kamu malah sengaja datang membuat keributan di ruang rawat khusus VIP yang nggak dibuka untuk umum ini?”Aku terdiam sejenak.“Karena anakmu adalah pasienku, coba bilang siapa namanya? Dia menderita penyakit apa? Dan obat apa yang kuberikan untuknya?”Sorot mata nenek itu mulai panik dan menghindar.Dia tak berani menatap mataku, bola matanya bergulir ke kiri dan kanan.“Anakku… nama anakku…” jawabnya terbata-bata.“Dia menderita penyakit jantung…”“Penyakit jantung jenis apa? Infark miokard? Gagal jantung? Aritmia? Atau yang lain?”“Pokoknya… pokoknya penyakit jantung…”“Lalu obat apa yang kuberikan?”“Aku… aku mana ingat nama-nama obat itu?! Pokoknya kamu yang suda

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 7

    Belum sampai dua menit, terdengar suara gaduh dari luar ruang rawat.Ada seseorang yang menangis dan berteriak di koridor, suaranya terdengar semakin kencang.Pintu didorong dan terbuka lebar.Seorang nenek berambut putih yang memakai jaket katun lusuh berlari masuk sambil terhuyung-huyung.Wajahnya penuh dengan air mata, matanya bengkak dan memerah, sedangkan sudut bibirnya tertarik melengkuk ke bawah.Dua orang satpam mengikutinya dari belakang, mencoba memegang lengannya hanya sekadar formalitas, tapi langsung ditepis oleh nenek.“Vivian! Kembalikan anakku!”Begitu masuk, nenek itu langsung mengunci pandangannya padaku. Dia menerjang maju dan langsung mencengkeram jas putih yang kupakai.Tangannya sangat kasar dan tenaganya luar biasa kuat.“Hanya gara-gara keluarga kami miskin dan nggak memberi uang suap padamu, kamu asal kasih obat untuk mengusir anakku!”“Tadi malam dia nggak tertolong saat ditangani di ruang darurat… kamu yang membunuhnya!”Sambil menangis dan berteriak, dia ter

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 6

    Sorot mata Dokter Jack berkilat panik“Dokter Vivian, ini fitnah! Aku nggak pernah sekalipun melakukan hal seperti itu!”“Pak Hendra, Bu Stefi, dia sedang meragukan profesionalitasku!”Shelia pun ikut duduk. Wajahnya tampak semakin muram, bibirnya memucat, sementara suaranya dipenuhi rasa sedih dan marah.“Dokter Vivian, nggak masalah kalau kamu mau menyudutkanku, tapi kenapa harus menyeret Dokter Jack?”“Kamu bilang aku pura-pura? Mana buktinya?”“Bukti?”Aku mengeluarkan ponsel dari saku, lalu dengan santai menekan tombol putar pada sebuah rekaman suara.Suara Shelia bergema di seluruh ruangan.“Dokter Vivian, aku tahu kemampuan medismu hebat, tapi sebenarnya penyakitku ini nggak separah itu.”“Saat konsultasi besok, aku harap kamu mau membantuku merahasiakannya dari Ayah, Ibu dan Kakakku. Bilang saja kondisiku memburuk dan butuh istirahat total, nggak boleh emosi sedikitpun.”“Asalkan kamu mau membantuku, selain peralatan medis yang dikasih Kakakku, aku pribadi bakal mengirim 10 mil

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 5

    “Apa yang kamu bilang?”Raut wajah Michael langsung berubah.Dia menatapku dengan kening yang berkerut tajam.“Vivian, kamu serius?”Aku menutup rekam medis itu, lalu menggesernya kembali ke ujung meja.“Aku bilang dia nggak sakit.”Ruang rawat menjadi hening selama beberapa detik.Shelia berbatuk dua kali, suaranya terdengar begitu lemah, “Kak… sudahlah, mungkin Dokter Vivian memang nggak bisa mengobatiku. Jangan menyusahkan dia lagi.”Michael menggenggam balik erat tangannya, lalu menoleh padaku sambil tertawa dingin.“Vivian, kamu nggak lihat wajah Shelia sepucat ini?”“Sebanyak itu laporan dari rumah sakit kelas atas dan diagnosis dari pakar luar negeri, sampai di mulutmu malah jadi nggak sakit?”“Kalau nggak bisa mengobatinya, kamu bisa bilang langsung. Mengarang alasan seperti ini benar-benar nggak ada gunanya.”Di dalam ruang siaran langsung yang tersembunyi, rentetan komentar sudah mulai berhamburan,[Ada apa dengan dokter ini? Kok bisa gagal jantung stadium akhir dibilang ngg

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status