เข้าสู่ระบบAku berbalik dan berjalan ke samping Steve.Steve tak bersuara sejak tadi. Dia hanya berdiri di sana bertumpu pada tongkatnya, menyaksikan aku menyelesaikan semuanya.Di matanya tersimpan rasa bangga, sekaligus iba.“Ayah, ayo kita pergi.”Steve mengangguk pelan.Kemudian, dia memalingkan kepala, menatap Keluarga Shafron dengan dingin.“Mulai hari ini, Grup Halim akan menghentikan seluruh kerja sama dengan Grup Shafron.”“Kalian tanggung sendiri akibatnya.”Para pengawal mengawal kami melangkah keluar dari ruang rawat.Siaran langsung itu menjadi lelucon heboh yang mengguncang seluruh negeri.Namun, masalah ini tak berhenti sampai di sana.Di hari yang sama, Shelia langsung ditendang keluar dari Keluarga Shafron, bahkan dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana penipuan.Akibat mengonsumsi obat-obatan seperti digitalis dalam jangka panjang, organ jantungnya benar-benar mengalami kerusakan permanen yang tak bisa dipulihkan.Penyakit yang dia palsukan selama dua puluh tahun, kini me
Mendengar kata ‘siaran langsung’, wajah Shelia langsung pucat.Dia langsung menoleh ke sekeliling, seolah baru menyadari keberadaan kemera-kamera tersembunyi itu.Sorot matanya dipenuhi kepanikan luar biasa.Dokter Jack menatap kertas hasil laboratorium itu, lalu akhirnya menundukkan kepalanya dengan pasrah.Ruang rawat sempat hening beberapa detik.Kemudian, pertahanan Shelia runtuh sepenuhnya.“Ayah, Ibu… dengarkan penjelasanku…”Dia merangkak ke kaki Hendra, mencengkeram ujung celananya.“Aku bukan sengaja… aku hanya takut kehilangan kalian, takut dia kembali dan merebut semuanya…”Air matanya bercucuran semakin deras.Namun kali ini, tak ada lagi yang mengusapnya.Hendra menunduk meliriknya sekilas, dengan kilatan jijik yang mulai tampak di matanya.“Kalau nggak sakit, nggak perlu berlutut.”Hendra melangkah mundur selangkah, membuat cengkeraman tangan Shelia terlepas dari ujung celananya.“Keluarga Shafron sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun, itu sudah lebih dari cukup.”“B
Aku merapikan kerah bajuku yang sempat berantakan karena ditarik, lalu berjalan ke hadapan nenek itu.Dia sudah ditahan oleh pengawal dan didudukkan di kursi. Tubuhnya masih gemetaran, tapi air matanya sudah tak menetes lagi.“Bu, kamu bilang anakmu meninggal di rumah sakit tadi malam?”“Kok bukannya mengurus pemakamannya, kamu malah sengaja datang membuat keributan di ruang rawat khusus VIP yang nggak dibuka untuk umum ini?”Aku terdiam sejenak.“Karena anakmu adalah pasienku, coba bilang siapa namanya? Dia menderita penyakit apa? Dan obat apa yang kuberikan untuknya?”Sorot mata nenek itu mulai panik dan menghindar.Dia tak berani menatap mataku, bola matanya bergulir ke kiri dan kanan.“Anakku… nama anakku…” jawabnya terbata-bata.“Dia menderita penyakit jantung…”“Penyakit jantung jenis apa? Infark miokard? Gagal jantung? Aritmia? Atau yang lain?”“Pokoknya… pokoknya penyakit jantung…”“Lalu obat apa yang kuberikan?”“Aku… aku mana ingat nama-nama obat itu?! Pokoknya kamu yang suda
Belum sampai dua menit, terdengar suara gaduh dari luar ruang rawat.Ada seseorang yang menangis dan berteriak di koridor, suaranya terdengar semakin kencang.Pintu didorong dan terbuka lebar.Seorang nenek berambut putih yang memakai jaket katun lusuh berlari masuk sambil terhuyung-huyung.Wajahnya penuh dengan air mata, matanya bengkak dan memerah, sedangkan sudut bibirnya tertarik melengkuk ke bawah.Dua orang satpam mengikutinya dari belakang, mencoba memegang lengannya hanya sekadar formalitas, tapi langsung ditepis oleh nenek.“Vivian! Kembalikan anakku!”Begitu masuk, nenek itu langsung mengunci pandangannya padaku. Dia menerjang maju dan langsung mencengkeram jas putih yang kupakai.Tangannya sangat kasar dan tenaganya luar biasa kuat.“Hanya gara-gara keluarga kami miskin dan nggak memberi uang suap padamu, kamu asal kasih obat untuk mengusir anakku!”“Tadi malam dia nggak tertolong saat ditangani di ruang darurat… kamu yang membunuhnya!”Sambil menangis dan berteriak, dia ter
Sorot mata Dokter Jack berkilat panik“Dokter Vivian, ini fitnah! Aku nggak pernah sekalipun melakukan hal seperti itu!”“Pak Hendra, Bu Stefi, dia sedang meragukan profesionalitasku!”Shelia pun ikut duduk. Wajahnya tampak semakin muram, bibirnya memucat, sementara suaranya dipenuhi rasa sedih dan marah.“Dokter Vivian, nggak masalah kalau kamu mau menyudutkanku, tapi kenapa harus menyeret Dokter Jack?”“Kamu bilang aku pura-pura? Mana buktinya?”“Bukti?”Aku mengeluarkan ponsel dari saku, lalu dengan santai menekan tombol putar pada sebuah rekaman suara.Suara Shelia bergema di seluruh ruangan.“Dokter Vivian, aku tahu kemampuan medismu hebat, tapi sebenarnya penyakitku ini nggak separah itu.”“Saat konsultasi besok, aku harap kamu mau membantuku merahasiakannya dari Ayah, Ibu dan Kakakku. Bilang saja kondisiku memburuk dan butuh istirahat total, nggak boleh emosi sedikitpun.”“Asalkan kamu mau membantuku, selain peralatan medis yang dikasih Kakakku, aku pribadi bakal mengirim 10 mil
“Apa yang kamu bilang?”Raut wajah Michael langsung berubah.Dia menatapku dengan kening yang berkerut tajam.“Vivian, kamu serius?”Aku menutup rekam medis itu, lalu menggesernya kembali ke ujung meja.“Aku bilang dia nggak sakit.”Ruang rawat menjadi hening selama beberapa detik.Shelia berbatuk dua kali, suaranya terdengar begitu lemah, “Kak… sudahlah, mungkin Dokter Vivian memang nggak bisa mengobatiku. Jangan menyusahkan dia lagi.”Michael menggenggam balik erat tangannya, lalu menoleh padaku sambil tertawa dingin.“Vivian, kamu nggak lihat wajah Shelia sepucat ini?”“Sebanyak itu laporan dari rumah sakit kelas atas dan diagnosis dari pakar luar negeri, sampai di mulutmu malah jadi nggak sakit?”“Kalau nggak bisa mengobatinya, kamu bisa bilang langsung. Mengarang alasan seperti ini benar-benar nggak ada gunanya.”Di dalam ruang siaran langsung yang tersembunyi, rentetan komentar sudah mulai berhamburan,[Ada apa dengan dokter ini? Kok bisa gagal jantung stadium akhir dibilang ngg