แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Gaston
Aku tak menjawab.

Aku melepas jas putihku, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di sandaran kursi.

Aku mengambil kunci mobil di atas meja, lalu berbalik dan pergi.

Michael berdiri di dekat pilar tengah lobi rumah sakit, memakai kacamata hitam dengan satu tangan di dalam saku celana.

Jelas sekali dia sedang menungguku.

Melihat aku berjalan mendekat sambil membawa kotak kardus, dia melepas kacamata hitamnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang penuh sindiran.

“Dokter Vivian, cepat sekali sudah pulang kerja?”

“Kemarin waktu menolakku, bukannya kamu kelihatan tangguh sekali? Kok hari ini malah sudah dipecat?”

Dia mendekat dan menekan suaranya,

“Vivian, mulai hari ini, nggak akan ada satu pun rumah sakit di negeri ini yang berani menerimamu.”

Dia menatapku, menunggu melihat raut ketakutan di wajahku, menungguku memohon ampun padanya.

Namun, aku tak melakukannya.

Aku hanya menatapnya dengan tenang.

Dia mengerutkan kening, sepertinya sangat tak puas dengan reaksiku ini.

“Namun, aku bisa memberimu satu jalan terakhir.”

“Datang ke rumahku dan jadi dokter pribadi adikku, siap sedia 24 jam.”

“Kalau kamu bisa menyembuhkannya, aku jamin sisa hidupmu nggak akan kekurangan, bagaimana?”

Aku tiba-tiba tertawa.

“Michael.”

Dia terdiam sejenak.

“Kamu pikir di dunia ini hanya Keluarga Shafron yang punya uang?”

Aku tak mau omong kosong lagi dengannya, melewatinya begitu saja dan berjalan keluar dari rumah sakit.

Dia tak tahu.

Aku bukan hanya sekedar wakil direktur di rumah sakit ini atau sekedar dokter spesialis penyakit dalam yang terkenal di kota ini.

Aku adalah satu-satunya putri angkat dari Pak Steve Halim, pakar pengobatan tradisional tingkat nasional sekaligus pemimpin Grup Medis Halim di Batama.

Aku datang ke rumah sakit pemerintah ini hanya untuk mengasah keterampilan dan menyelesaikan ujian yang ditetapkan oleh Ayah.

Di dunia medis seluruh negeri ini, Keluarga Halim yang memegang kekuasaan sesungguhnya.

Mau memboikotku?

Sungguh konyol.

Malam harinya, saat mengusap layar ponsel, tiba-tiba muncul topik viral.

[Dokter Ternama Menolak Pasien Kritis]

[Dokter Vivian Dari Rumah Sakit Umum menerima Suap]

[Iblis Dingin Tanpa Etika Medis]

Di seluruh internet beredar video potongan yang memperlihatkan,

Shelia duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan kusam, terus-menerus memegangi dadanya.

Michael di sampingnya memohon padaku untuk mengobatinya, “Dokter Vivian, kumohon selamatkan adikku, kami membawa uangnya…”

Sementara sorotan kamera beralih padaku, hanya menampilkan wajah dingin, “Aku nggak menerima, ambil kartunya dan silakan keluar.”

Tak lama kemudian, sebuah akun yang mengaku sebagai ‘orang dalam’ memberi bocoran,

[Aku karyawan dalam Rumah Sakit Umum. Dokter wanita ini sama sekali bukanlah dokter yang baik, dia diam-diam sering menerima uang suap!]

[Keluarga Shafron tak memberi uang yang cukup, makanya dia menolak mengobati! Direktur mengetahui masalahnya dan tadi pagi sudah langsung memecatnya!]

Kolom komentar di bawahnya hampir semuanya berisi caci maki padaku.

[Dasar wanita kejam! Kok bisa orang seperti itu menjadi dokter?]

[Kafir kapitalis saja masih punya nurani dibanding dia! Dokter ini nggak punya hati! Wajib diusut sampai tuntas!]

[Dengar-dengar dia diboikot di seluruh jaringan! Mampus! Sampah masyarakat begini memang harusnya mati saja!]

Sheila juga membuat unggahan di Instagram.

Foto yang dilampirkan memperlihatkan pergelangan tangan yang sedang diinfus dengan kulit pucat kebiruan.

Tulisannya begini,

[Mungkin sisa hidupku hanya tinggal hitungan mundur, tapi aku tetap percaya masih ada harapan di dunia ini. Aku nggak menyalahkan Dokter Vivian, ini memang nasibku yang kurang baik.]

Tak terhitung banyaknya orang menyerbu akunku. Kotak pesan masuk penuh dengan kutukan, foto editan untuk pemakaman, hingga makian untuk leluhurku.

Aku tertawa dingin dalam hati. Jelas-jelas direktur yang menerima suap dari Michael untuk memecatku, tapi dia malah balik memfitnahku.

Cara yang sama persis seperti yang pernah kualami di kehidupan sebelumnya.

Saat penyakit Sheila kambuh, Michael bilang itu karena diriku. Lalu mengedit video dan merangkai kebohongan untuk diunggah ke internet demi menghancurkan reputasiku.

Aku menekan nomor telepon Michael.

Panggilan tersambung setengah berdering beberapa kali.

Dari seberang sana terdengar suara Michael yang nada bicaranya meremehkan sekaligus puas,

“Kenapa? Dokter Vivian yang hebat sudah nggak sanggup bertahan?”

Aku tak menanggapinya.

“Michael, aku terima tawaranmu untuk mengobati adikmu.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 10

    Aku berbalik dan berjalan ke samping Steve.Steve tak bersuara sejak tadi. Dia hanya berdiri di sana bertumpu pada tongkatnya, menyaksikan aku menyelesaikan semuanya.Di matanya tersimpan rasa bangga, sekaligus iba.“Ayah, ayo kita pergi.”Steve mengangguk pelan.Kemudian, dia memalingkan kepala, menatap Keluarga Shafron dengan dingin.“Mulai hari ini, Grup Halim akan menghentikan seluruh kerja sama dengan Grup Shafron.”“Kalian tanggung sendiri akibatnya.”Para pengawal mengawal kami melangkah keluar dari ruang rawat.Siaran langsung itu menjadi lelucon heboh yang mengguncang seluruh negeri.Namun, masalah ini tak berhenti sampai di sana.Di hari yang sama, Shelia langsung ditendang keluar dari Keluarga Shafron, bahkan dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana penipuan.Akibat mengonsumsi obat-obatan seperti digitalis dalam jangka panjang, organ jantungnya benar-benar mengalami kerusakan permanen yang tak bisa dipulihkan.Penyakit yang dia palsukan selama dua puluh tahun, kini me

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 9

    Mendengar kata ‘siaran langsung’, wajah Shelia langsung pucat.Dia langsung menoleh ke sekeliling, seolah baru menyadari keberadaan kemera-kamera tersembunyi itu.Sorot matanya dipenuhi kepanikan luar biasa.Dokter Jack menatap kertas hasil laboratorium itu, lalu akhirnya menundukkan kepalanya dengan pasrah.Ruang rawat sempat hening beberapa detik.Kemudian, pertahanan Shelia runtuh sepenuhnya.“Ayah, Ibu… dengarkan penjelasanku…”Dia merangkak ke kaki Hendra, mencengkeram ujung celananya.“Aku bukan sengaja… aku hanya takut kehilangan kalian, takut dia kembali dan merebut semuanya…”Air matanya bercucuran semakin deras.Namun kali ini, tak ada lagi yang mengusapnya.Hendra menunduk meliriknya sekilas, dengan kilatan jijik yang mulai tampak di matanya.“Kalau nggak sakit, nggak perlu berlutut.”Hendra melangkah mundur selangkah, membuat cengkeraman tangan Shelia terlepas dari ujung celananya.“Keluarga Shafron sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun, itu sudah lebih dari cukup.”“B

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 8

    Aku merapikan kerah bajuku yang sempat berantakan karena ditarik, lalu berjalan ke hadapan nenek itu.Dia sudah ditahan oleh pengawal dan didudukkan di kursi. Tubuhnya masih gemetaran, tapi air matanya sudah tak menetes lagi.“Bu, kamu bilang anakmu meninggal di rumah sakit tadi malam?”“Kok bukannya mengurus pemakamannya, kamu malah sengaja datang membuat keributan di ruang rawat khusus VIP yang nggak dibuka untuk umum ini?”Aku terdiam sejenak.“Karena anakmu adalah pasienku, coba bilang siapa namanya? Dia menderita penyakit apa? Dan obat apa yang kuberikan untuknya?”Sorot mata nenek itu mulai panik dan menghindar.Dia tak berani menatap mataku, bola matanya bergulir ke kiri dan kanan.“Anakku… nama anakku…” jawabnya terbata-bata.“Dia menderita penyakit jantung…”“Penyakit jantung jenis apa? Infark miokard? Gagal jantung? Aritmia? Atau yang lain?”“Pokoknya… pokoknya penyakit jantung…”“Lalu obat apa yang kuberikan?”“Aku… aku mana ingat nama-nama obat itu?! Pokoknya kamu yang suda

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 7

    Belum sampai dua menit, terdengar suara gaduh dari luar ruang rawat.Ada seseorang yang menangis dan berteriak di koridor, suaranya terdengar semakin kencang.Pintu didorong dan terbuka lebar.Seorang nenek berambut putih yang memakai jaket katun lusuh berlari masuk sambil terhuyung-huyung.Wajahnya penuh dengan air mata, matanya bengkak dan memerah, sedangkan sudut bibirnya tertarik melengkuk ke bawah.Dua orang satpam mengikutinya dari belakang, mencoba memegang lengannya hanya sekadar formalitas, tapi langsung ditepis oleh nenek.“Vivian! Kembalikan anakku!”Begitu masuk, nenek itu langsung mengunci pandangannya padaku. Dia menerjang maju dan langsung mencengkeram jas putih yang kupakai.Tangannya sangat kasar dan tenaganya luar biasa kuat.“Hanya gara-gara keluarga kami miskin dan nggak memberi uang suap padamu, kamu asal kasih obat untuk mengusir anakku!”“Tadi malam dia nggak tertolong saat ditangani di ruang darurat… kamu yang membunuhnya!”Sambil menangis dan berteriak, dia ter

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 6

    Sorot mata Dokter Jack berkilat panik“Dokter Vivian, ini fitnah! Aku nggak pernah sekalipun melakukan hal seperti itu!”“Pak Hendra, Bu Stefi, dia sedang meragukan profesionalitasku!”Shelia pun ikut duduk. Wajahnya tampak semakin muram, bibirnya memucat, sementara suaranya dipenuhi rasa sedih dan marah.“Dokter Vivian, nggak masalah kalau kamu mau menyudutkanku, tapi kenapa harus menyeret Dokter Jack?”“Kamu bilang aku pura-pura? Mana buktinya?”“Bukti?”Aku mengeluarkan ponsel dari saku, lalu dengan santai menekan tombol putar pada sebuah rekaman suara.Suara Shelia bergema di seluruh ruangan.“Dokter Vivian, aku tahu kemampuan medismu hebat, tapi sebenarnya penyakitku ini nggak separah itu.”“Saat konsultasi besok, aku harap kamu mau membantuku merahasiakannya dari Ayah, Ibu dan Kakakku. Bilang saja kondisiku memburuk dan butuh istirahat total, nggak boleh emosi sedikitpun.”“Asalkan kamu mau membantuku, selain peralatan medis yang dikasih Kakakku, aku pribadi bakal mengirim 10 mil

  • Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya   Bab 5

    “Apa yang kamu bilang?”Raut wajah Michael langsung berubah.Dia menatapku dengan kening yang berkerut tajam.“Vivian, kamu serius?”Aku menutup rekam medis itu, lalu menggesernya kembali ke ujung meja.“Aku bilang dia nggak sakit.”Ruang rawat menjadi hening selama beberapa detik.Shelia berbatuk dua kali, suaranya terdengar begitu lemah, “Kak… sudahlah, mungkin Dokter Vivian memang nggak bisa mengobatiku. Jangan menyusahkan dia lagi.”Michael menggenggam balik erat tangannya, lalu menoleh padaku sambil tertawa dingin.“Vivian, kamu nggak lihat wajah Shelia sepucat ini?”“Sebanyak itu laporan dari rumah sakit kelas atas dan diagnosis dari pakar luar negeri, sampai di mulutmu malah jadi nggak sakit?”“Kalau nggak bisa mengobatinya, kamu bisa bilang langsung. Mengarang alasan seperti ini benar-benar nggak ada gunanya.”Di dalam ruang siaran langsung yang tersembunyi, rentetan komentar sudah mulai berhamburan,[Ada apa dengan dokter ini? Kok bisa gagal jantung stadium akhir dibilang ngg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status