Saat Dafa datang, dia menggenggam sebuah amplop kertas cokelat yang sudah menguning.Dia duduk di sofa, lalu memandang sekeliling ruangan. Mata Ibu bengkak karena menangis, wajah Ayah penuh kegelisahan, kakakku berdiri tanpa alas kaki di lorong, sementara Tasha meringkuk di sudut ruangan tanpa berani bersuara."Aku sudah menyimpan semua ini selama sepuluh tahun." Dafa meletakkan amplop itu di atas meja, jemarinya yang kasar menekan ujungnya. "Hari saat Banyu meninggal, aku juga ada di tepi sungai."Ibu tiba-tiba mengangkat kepala.Dafa berbicara sangat pelan, seolah setiap kata harus berputar berkali-kali di tenggorokannya sebelum akhirnya keluar."Hari itu, saat anak itu jatuh ke sungai, orang pertama yang terjun bukan Banyu. Melainkan seorang pemuda yang sedang memancing di tepi sungai. Marga pria itu sudah nggak kuingat lagi. Saat anak itu diangkat ke darat oleh pemuda tersebut, Banyu baru saja berlari sampai ke tepi sungai."Ruang tamu begitu sunyi hingga suara embusan angin dari p
Leer más