Di waktu luang, aku masih sering membantu di rumah makan milik keluarga Darren.Sebenarnya setelah masuk kuliah, aturan kampus sangat ketat. Mahasiswa tidak boleh keluar kampus sesuka hati. Namun, entah dari mana ibu Darren mendapatkan bantuan, dia berhasil mengurus kartu izin keluar kampus untukku dan Darren.Di rumah makan.Aku mengenakan celemek sambil mengelap meja, sementara Darren memasak hidangan penutup manis di dapur. Kami saling mengoper mangkuk dan menerimanya dengan gerakan yang begitu selaras, seolah sudah terbiasa bekerja sama sejak lama.Ibu Darren bersandar di meja kasir. Tangannya berpura-pura menghitung pembukuan, tetapi matanya terus melirik ke arah kami. Senyum di sudut bibirnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.Saat aku membawa dua mangkuk mango sago melewatinya, akhirnya dia tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa kecil. Aku meletakkan mangkuk-mangkuk itu, lalu menoleh dengan penasaran."Tante, kenapa Tante tertawa?""Aduh!"Dia mengedipkan mata kepadaku lalu
Read More