Short
Kesunyian Di Tengah Kehampaan Hati yang Perih

Kesunyian Di Tengah Kehampaan Hati yang Perih

By:  AlaskaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari pengumuman nilai ujian masuk perguruan tinggi, aku menggenggam ponsel sambil menunggu dengan gelisah selama 40 menit. Saat angka 708 muncul di layar, baru saja aku hendak berseru kegirangan, kakakku sudah lebih dulu menjerit lalu menerjang ke pelukan Sylas. "Aku dapat 670! Kamu 675, Sylas, kita berdua pasti bisa masuk Universitas Kedokteran Jekova!" Aku baru saja ingin mengatakan kalau aku juga bisa, tetapi pacarku, Sylas, sudah menarik kakakku dan berlari keluar. Baru pada pesta perayaan, Sylas akhirnya teringat padaku. "Oh ya, Nasha, Sekolah Vokasi Jekova letaknya tepat di sebelah Universitas Kedokteran. Kamu ambil jurusan keperawatan saja. Nanti kita bertiga masih bisa sering berkumpul." Kakakku tersenyum sambil mengetuk pelan kepalaku. "Nanti aku dan Sylas si bodoh jadi dokter, sedangkan kamu jadi perawat yang membantu kami. Kombinasi yang sempurna, 'kan?" Mereka seimbang dalam segala hal, benar-benar pasangan yang serasi. Bagaikan dua bayangan yang menyatu tanpa celah, tak lagi menyisakan tempat bagi orang ketiga. Dulu, sekeras apa pun aku berusaha, yang bisa kulakukan hanyalah memandangi lampu belakang mereka dari kejauhan. Kali ini, aku memilih untuk berhenti mengejar mereka.

View More

Chapter 1

Bab 1

Kedua keluarga mengadakan pesta perayaan bersama. Semeja penuh dengan hidangan pedas kesukaan Hazel, tetapi lambungku kurang sehat, jadi aku tidak bisa makan makanan pedas.

Kue pun sudah dipesan sejak jauh hari. Mungkin karena ruangnya terbatas, di atasnya hanya muat nama Hazel dan Sylas.

Aku duduk di antara kakakku dan Sylas. Sejak jamuan dimulai, mereka terus bercanda melewatiku. Sylas mengulurkan tangan menarik tali bahu Hazel, terdengar bunyi yang nyaring.

"Hei! Hazel, nilaiku lima poin lebih tinggi darimu. Seharusnya aku yang duduk di kursi utama."

Hazel tersenyum sambil bersembunyi ke arahku. "Nasha, tolong kendalikan pacarmu! Baru selesai ujian saja sudah besar kepala!"

Sylas juga tidak mau kalah. "Memangnya dia bisa atur aku? Aku melakukan ini demi menghormatimu, tahu!"

"Dasar nggak tahu balas budi!" Hazel mengetuk punggung tangan Sylas dengan sendok. "Kalau bukan karena aku yang menjodohkan kalian, mana mungkin kamu bisa punya pacar semanis adikku?"

Setelah berkata begitu, mereka kembali saling memukul dan bercanda.

Aku duduk di tengah seperti orang ketiga. Kabar gembira yang sejak tadi menyangkut di tenggorokanku tak kunjung bisa kuucapkan. Entah sejak kapan, perasaanku menyukai Sylas terasa seperti sesuatu yang sudah sangat jauh.

Rahasia hati seorang gadis dibongkar habis-habisan oleh Hazel setelah dia menemukan buku harianku. Aku memohon agar dia tidak memberi tahu siapa pun. Namun, baru saja ujian masuk perguruan tinggi selesai, semua orang sudah mengetahuinya.

Dia merangkul bahuku dan berkata, "Nggak usah takut. Kakak bantu kamu dekatin dia."

Dia menyuruhku menulis surat cinta. Aku bergadang selama tiga malam, tetapi surat yang akhirnya kuberikan justru adalah surat yang dia tulis.

Sylas langsung tertawa terbahak-bahak. "Hazel, sudah kuduga pasti ini kamu yang bantu dia nulis. Bodoh! Kamu bahkan lupa ganti namanya."

Hazel menjepit telinganya, lalu memutarnya. "Jadi kamu setuju atau nggak? Kalau nggak, aku putus pertemanan sama kamu!"

Sylas langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Karena takut Hazel benar-benar tidak mau bicara dengannya lagi, dia sekalian menerima pernyataan cintaku.

Aku seperti bayangan yang selalu hidup di bawah cahayanya. Bahkan setelah belajar mati-matian hingga akhirnya memperoleh nilai yang kuimpikan. Tetap saja, tidak ada yang peduli.

Aku menunduk sambil menyuap nasi.

Tak lama kemudian, Sylas mengupas jeruk untuk Hazel. Dia menggigit satu potong, lalu dengan santai menyuapkannya ke mulutku. "Coba deh. Jeruk yang dikupas pacarmu manis sekali."

Beberapa saat kemudian, Ayah dan Ibu mengupaskan udang. Piring Hazel sudah bertumpuk seperti gunung kecil. Karena merasa terlalu banyak, dia mendorong dua ekor udang ke piringku.

"Kebanyakan. Tolong habiskan sedikit."

Jeruk itu memang manis, tetapi yang memenuhi mulutku justru rasa pahit.

Aku seperti tempat sampah yang menghabiskan semua hal yang tampaknya tidak dia pedulikan. Perasaan seperti ini sudah menemaniku sejak kecil hingga sekarang. Aku mulai muak.

Aku meletakkan sendok dan mengedipkan mata yang mulai basah, lalu menatap Sylas. "Sylas, kamu masih ingat pernah bilang akan menemaniku kuliah di Universitas Pertahanan Nasional?"

Aku teringat musim panas tiga tahun lalu. Langit saat senja memerah seperti terbakar. Hari itu, nilai ujian bahasa Inggrisku kembali jelek. Aku berjongkok di tribune lapangan sambil melamun.

Entah kapan Sylas datang. Dia memanjat ke tribune, duduk di sampingku, lalu menyodorkan sebotol air. "Nilaimu jelek lagi?"

Aku menyembunyikan wajah di balik lutut dan berkata, "Aku sudah nggak ingin sekolah lagi. Otakku bodoh. Belajar sekeras apa pun, aku nggak akan bisa mengejar kamu dan Kak Hazel."

Dia tidak langsung menjawab.

Setelah lama terdiam, dia menyelipkan botol air itu ke tanganku lalu berkata, "Kalau begitu, buat saja tujuan. Bukannya kamu suka laut? Pergilah ke selatan."

Aku mengangkat kepala menatapnya.

"Universitas Pertahanan Nasional," katanya. "Aku pernah cari tahu. Kampusnya ada di Kota Nadros. Begitu keluar gerbang, langsung ada laut yang paling kamu suka. Di sana juga banyak pohon kelapa."

"Kalau begitu, kamu mau pergi juga?" tanyaku spontan.

Dia tertegun sejenak, lalu menunduk dan menendang pelan anak tangga. "Kalau kamu bisa lulus masuk sana, aku akan menemanimu."

"Benarkah?"

"Untuk apa aku bohong?" Dia tertawa pelan, lalu mengusap puncak kepalaku. "Nanti setiap hari Minggu aku akan menemanimu ke pantai memungut kerang. Lambungmu nggak kuat makanan pedas, sedangkan masakan di sana kebanyakan bercita rasa manis."

Saat dia mengucapkan kata-kata itu, cahaya matahari terbenam tepat menyinari bahunya.

Kata "Universitas Pertahanan Nasional" memenuhi seluruh halaman buku harianku.

Belakangan, buku harian itu ditemukan Hazel. Padahal sebelumnya dia ingin kuliah di kota bagian selatan, tetapi tiba-tiba dia berubah pikiran dan memilih Universitas Kedokteran Jekova yang letaknya paling jauh.

Sylas pun ikut mengganti tujuannya.

"Oh ... ya? Aku sudah nggak ingat." Sylas tersenyum, seolah hal itu sama sekali tidak penting.

"Kenapa tiba-tiba membahas itu?" Dia bersandar di kursinya. "Sekarang aku ingin kuliah di universitas kedokteran bersama Hazel. Lagi pula, kamu juga nggak diterima di Universitas Pertahanan Nasional."

Aku terdiam.

Jadi, dia sebenarnya masih mengingat semuanya. Dia hanya yakin aku tidak mungkin bisa diterima.

"Hei, hei, hei! Gimana sih cara bicaramu ke adikku?" Hazel berkacak pinggang sambil memprotesnya. "Dia itu pacarmu, calon istrimu nanti."

"Istrimu! Istrimu!"

"Kamu memang sinting!"

Mereka kembali bercanda dan saling mengganggu.

Saat itu juga, aku merasa semua ini benar-benar tidak ada artinya.

Di meja makan, Ibu tersenyum sambil berkata mereka berdua lucu sekali. Ayah dan Ayah Sylas sudah mengangkat gelas untuk bersulang yang ketiga kalinya.

Bahkan ketika aku keluar dari ruang makan pribadi itu, tidak seorang pun menyadarinya.

Angin malam terasa sedikit dingin. Aku mengeluarkan ponsel lalu menelepon wali kelasku.

"Halo? Nasha?"

"Bu Guru," kataku. "Bisa nggak nilai ujianku dirahasiakan?"

Di seberang telepon terdengar jeda sesaat.

"Bisa saja. Tapi kamu tetap perlu menjadikannya acuan saat mengisi pilihan universitas. Nilaimu setinggi itu. Apa kamu nggak ingin berdiskusi dengan keluargamu?"

Aku bersandar di dinding. Melalui jendela kaca berwarna kuning hangat, kulihat Sylas memeluk Hazel sambil memutarnya.

"Nggak perlu berdiskusi lagi. Aku akan mendaftar ke Universitas Pertahanan Nasional."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
sayangi diri sendiri
2026-08-16 11:07:03
0
0
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status