ログインHari pengumuman nilai ujian masuk perguruan tinggi, aku menggenggam ponsel sambil menunggu dengan gelisah selama 40 menit. Saat angka 708 muncul di layar, baru saja aku hendak berseru kegirangan, kakakku sudah lebih dulu menjerit lalu menerjang ke pelukan Sylas. "Aku dapat 670! Kamu 675, Sylas, kita berdua pasti bisa masuk Universitas Kedokteran Jekova!" Aku baru saja ingin mengatakan kalau aku juga bisa, tetapi pacarku, Sylas, sudah menarik kakakku dan berlari keluar. Baru pada pesta perayaan, Sylas akhirnya teringat padaku. "Oh ya, Nasha, Sekolah Vokasi Jekova letaknya tepat di sebelah Universitas Kedokteran. Kamu ambil jurusan keperawatan saja. Nanti kita bertiga masih bisa sering berkumpul." Kakakku tersenyum sambil mengetuk pelan kepalaku. "Nanti aku dan Sylas si bodoh jadi dokter, sedangkan kamu jadi perawat yang membantu kami. Kombinasi yang sempurna, 'kan?" Mereka seimbang dalam segala hal, benar-benar pasangan yang serasi. Bagaikan dua bayangan yang menyatu tanpa celah, tak lagi menyisakan tempat bagi orang ketiga. Dulu, sekeras apa pun aku berusaha, yang bisa kulakukan hanyalah memandangi lampu belakang mereka dari kejauhan. Kali ini, aku memilih untuk berhenti mengejar mereka.
もっと見るSuasana di sekeliling mendadak hening. Tak seorang pun menyangka semuanya akan berkembang seperti ini. Aku mundur selangkah untuk menjaga jarak darinya."Sylas, kalau kamu terus seperti ini, aku akan melaporkanmu ke pihak kampus sampai kamu nggak bisa melanjutkan kuliah."Dia masih ingin mengatakan sesuatu. Namun, dari belakang kerumunan terdengar suara langkah kaki. Dua petugas keamanan berseragam menerobos masuk sambil menyingkirkan orang-orang di depan mereka."Nak, di sini nggak boleh bikin keributan atau berkumpul seperti ini. Tolong segera tinggalkan tempat."Sylas diseret keluar dengan kedua lengannya dipegang oleh petugas keamanan. Dia terus berusaha menoleh ke belakang sambil memanggil namaku, "Nasha! Nasha!"Namun, suaranya tenggelam di antara bisik-bisik kerumunan. Aku bahkan tidak bergerak sedikit pun.Perlahan-lahan, kerumunan mulai bubar.Lapangan kecil itu kini dipenuhi bunga dan lilin yang berserakan. Tak jauh dari sana, hanya ada satu orang yang masih berdiri di tempat
Sejak hari itu, hidupku menjadi sangat sederhana.Aku dan Darren kuliah bersama, makan di kantin bersama, lalu setelah jam kuliah selesai, kami kembali bersama ke rumah makan kecil itu. Hubunganku dengan Darren menyebar dengan sangat cepat.Mahasiswa Fakultas Kedirgantaraan tidak terlalu banyak. Ditambah lagi kami berdua memang cukup mencolok, sehingga dalam waktu singkat seluruh angkatan sudah mengetahui hubungan kami.Ada yang mengatakan kami pasangan yang serasi, ada pula yang bercanda bahwa "Darren benar-benar beruntung bisa mendapatkan pacar seorang peraih nilai tertinggi seprovinsi".Tentu saja kabar itu sampai ke telinga Sylas.Aku sudah menduga dia tidak akan senang, tetapi aku sama sekali tidak menyangka dia akan memilih cara seperti itu.Menjelang senja, aku baru saja berpisah dengan Darren di depan kantin dan berjalan sendirian menuju asrama. Aku sedang menunduk melihat ponsel. Darren baru saja mengirim pesan.[ Besok pagi kamu mau sarapan apa? Biar aku belikan. ]Aku sedang
Aku berdiri di belakang meja kasir dengan ekspresi dingin. Jemariku menggenggam erat ujung celemek."Kalian datang untuk makan? Kalau bukan, tempat ini nggak menyambut kalian."Air mata ibu langsung mengalir deras. Ayah melangkah maju dengan tergesa-gesa. Dia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya lalu menyelipkannya ke tanganku.Telapak tangannya dipenuhi keringat dan jemarinya gemetar hebat."Nasha, kami sudah menjual rumah. Enam miliar ada di dalam kartu ini. Semuanya untukmu, anggap saja sebagai ganti atas semua yang dulu kami lakukan padamu."Aku menatap kartu itu selama dua detik, lalu tiba-tiba tertawa pelan."Manusia memang makhluk yang aneh." Aku mengangkat kepala menatap mereka. "Sebulan yang lalu, di depan semua orang, kalian masih berkata nggak akan membiayaiku kuliah. Tapi sekarang kalian malah menjual rumah dan bilang ingin menebus kesalahan padaku."Ibu terisak-isak. Suaranya terputus-putus."Itu ... itu hanya kata-kata yang keluar tanpa dipikir. Kalau Ibu tahu kamu
Di waktu luang, aku masih sering membantu di rumah makan milik keluarga Darren.Sebenarnya setelah masuk kuliah, aturan kampus sangat ketat. Mahasiswa tidak boleh keluar kampus sesuka hati. Namun, entah dari mana ibu Darren mendapatkan bantuan, dia berhasil mengurus kartu izin keluar kampus untukku dan Darren.Di rumah makan.Aku mengenakan celemek sambil mengelap meja, sementara Darren memasak hidangan penutup manis di dapur. Kami saling mengoper mangkuk dan menerimanya dengan gerakan yang begitu selaras, seolah sudah terbiasa bekerja sama sejak lama.Ibu Darren bersandar di meja kasir. Tangannya berpura-pura menghitung pembukuan, tetapi matanya terus melirik ke arah kami. Senyum di sudut bibirnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.Saat aku membawa dua mangkuk mango sago melewatinya, akhirnya dia tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa kecil. Aku meletakkan mangkuk-mangkuk itu, lalu menoleh dengan penasaran."Tante, kenapa Tante tertawa?""Aduh!"Dia mengedipkan mata kepadaku lalu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー