Entah sejak kapan wali kelasku sudah berdiri di belakangku. Dia mengulurkan tangan dan menepuk pelan bahuku. "Nasha, sekarang aku mengerti kenapa kamu nggak mau berdiskusi dengan keluargamu."Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi kalau dipikir-pikir, masuk Universitas Pertahanan Nasional juga bagus. Biaya makan dan tempat tinggal ditanggung, masih ada beasiswa lagi. Kamu juga bisa mengurus dirimu sendiri."Aku mengangguk, memeluk erat map berkas yang sudah kotor itu, lalu berkata pelan, "Terima kasih, Bu Guru."Setelah itu aku berbalik dan berjalan pulang.Begitu pintu rumah kubuka, ruang tamu ramai bukan main. Hazel duduk di tengah sofa, dikelilingi Ayah, Ibu, dan Sylas. Senyumnya begitu cerah hingga matanya melengkung.Suara Sylas terdengar paling keras. "Kalau begitu sudah sepakat ya. Hari ini juga kita berangkat road trip ke Kota Nadros!"Hazel adalah orang pertama yang melihatku. Dia segera bangkit dan menghampiri dengan nada akrab. "Nasha, kamu sudah pulang? Kata Bu Guru,
Mehr lesen