"Mbak Aruna, tolong tahan napas sebentar ya. Saya rapikan sedikit lagi di bagian kerudung," ujar Mbak Rini, penata rias langganan keluarga Hartawan, sambil menggeser pin kecil di dekat telinga Aruna. Aruna mengangguk menuruti instruksi.Di depan cermin rias besar yang dikelilingi lampu-lampu terang, ia menatap bayangannya sendiri. Kebaya brokat putih gading yang melekat di tubuhnya tampak begitu pas. Polesan riasannya cantik dan elegan, persis seperti mimpi yang ia bayangkan sejak beberapa bulan lalu. "Cantik banget, Mbak. Pak David pasti bakalan pangling pas lihat Mbak Aruna keluar nanti," puji asisten Mbak Rini yang sedang merapikan ujung gaun bagian bawah. Aruna tersenyum tipis. "Makasih ya, Mbak. Tapi jujur, aku deg-degan banget dari tadi." "Wajar kok, Mbak Aruna. Semua pengantin pasti deg-degan kalau sudah mau akad," sahut Mbak Rini ramah. "Lagian siapa yang nggak gugup? Bentar lagi statusnya sudah berubah jadi istri." Saat Aruna baru saja hendak meminum air mineral melalui
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-30 Mehr lesen