LOGINDunia Aruna hancur berkeping-keping tepat di atas panggung akad. Pintu ballroom terhempas keras. Seorang wanita asing datang membawa anak kecil dan berteriak histeris, "Hentikan pernikahan ini! Dia suamiku!" Skandal besar meledak, mencoreng nama baik dan bisnis keluarga Hartawan. Demi menyelamatkan kehormatan dari kebinasaan, keputusan nekatpun diambil oleh ayahnya. pengantin pria harus diganti detik itu juga! Di luar dugaannya, seseorang maju dan menyetujui pernikahan gila ini tanpa ragu. Pria kaku yang selama ini berdiri di balik bayang-bayang, kini sah menjadi suami Aruna. Saat rahasia kelam mulai terkuak satu per satu, Aruna sadar... . Suaminya itu, tidak sesederhana kelihatannya. Siapakah sosok yang kini menggenggam takdir Aruna? Yuk ikuti kisah penuh intrik, dikhianati, dan rahasia berbahaya ini.!
View More"Mbak Aruna, tolong tahan napas sebentar ya. Saya rapikan sedikit lagi di bagian kerudung," ujar Mbak Rini, penata rias langganan keluarga Hartawan, sambil menggeser pin kecil di dekat telinga Aruna.
Aruna mengangguk menuruti instruksi.Di depan cermin rias besar yang dikelilingi lampu-lampu terang, ia menatap bayangannya sendiri. Kebaya brokat putih gading yang melekat di tubuhnya tampak begitu pas. Polesan riasannya cantik dan elegan, persis seperti mimpi yang ia bayangkan sejak beberapa bulan lalu.
"Cantik banget, Mbak. Pak David pasti bakalan pangling pas lihat Mbak Aruna keluar nanti," puji asisten Mbak Rini yang sedang merapikan ujung gaun bagian bawah. Aruna tersenyum tipis. "Makasih ya, Mbak. Tapi jujur, aku deg-degan banget dari tadi." "Wajar kok, Mbak Aruna. Semua pengantin pasti deg-degan kalau sudah mau akad," sahut Mbak Rini ramah. "Lagian siapa yang nggak gugup? Bentar lagi statusnya sudah berubah jadi istri." Saat Aruna baru saja hendak meminum air mineral melalui sedotan agar lipstiknya tidak rusak, pintu ruang rias mendadak terbuka. Suara derap langkah sepatu kulit terdengar agak terburu-buru masuk ke dalam ruangan. Melalui cermin, Aruna melihat David melangkah masuk. Cowok itu mengenakan beskap pengantin warna senada lengkap dengan blangkon khas Jawa. Wajah David yang biasanya tampak santai dan penuh percaya diri, hari ini terlihat agak pucat. "Mas David?" Aruna memutar tubuhnya perlahan agar gaun mewahnya tidak terlipat. "Kok kamu sudah di sini? Bukannya harusnya kamu nunggu di ruang tunggu pria di bawah?" David menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Aruna. Pria itu membasahi bibirnya yang kelihatan kering. Tangannya sibuk merapikan kerah beskapnya, lalu berganti merapikan ujung bajunya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "A-aku... aku cuma mau lihat kamu sebentar, Aruna," kata David. Suaranya agak serak, seperti orang yang kekurangan minum. "Loh, Pak David kok malah ke sini?" omel Mbak Rini bercanda sambil mengibaskan tangannya. "Nanti pamali loh, Mas, kalau ketemuan terus sebelum akad selesai. Kan belum sah." David tertawa kecil. Tapi tawa itu terdengar sangat sumbang dan dipaksakan. "Cuma sebentar kok, Mbak Rini. Mau memastikan semuanya lancar." Aruna menatap calon suaminya itu dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang aneh. Ia melangkah mendekati David dan menyentuh lengan pria itu. Saat telapak tangannya menyentuh kulit David, Aruna sedikit tersentak. "Mas, tangan kamu dingin banget?" tanya Aruna heran. "Kamu sakit? Apa lambung kamu kumat gara-gara tadi pagi belum sempat sarapan?" David dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Aruna, lalu menyembunyikannya di balik punggung. Ia menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak apa-apa. Cuma... ya kamu tahu sendiri kan, aku grogi banget. Papa kamu kan orang hebat, tamu-tamu yang datang juga pejabat sama pengusaha besar semua. Aku cuma takut salah sebut pas ijab kabul nanti." Aruna menghela napas lega. Ia tersenyum menenangkan sambil mengusap pelan bahu David. "Aku kira ada apa. Tenang aja, Mas. Papa itu kelihatan galak di luar aja, aslinya baik kok. Yang penting kamu fokus. Jangan panik." David menatap mata Aruna selama beberapa detik. Ada pancaran emosi yang aneh di matanya—seperti campuran antara rasa bersalah, gelisah, dan panik yang ditahan setengah mati. "Aruna..." panggil David pelan. "Iya?" "Kamu... kamu beneran sayang kan sama aku?" tanya David tiba-tiba. Pertanyaan yang sangat tidak masuk akal ditanyakan di hari pernikahan mereka. Aruna terkekeh geli. "Pertanyaan kamu aneh-aneh aja deh, Mas. Kalau aku nggak sayang, buat apa kita berdiri di sini pakai baju pengantin? Sudah ah, sana kamu turun ke bawah. Jangan bikin Papa nunggu lama-lama." David memaksakan sebuah senyuman tipis. "Iya, aku ke bawah sekarang. Kamu cepat nyusul ya." David berbalik dan melangkah keluar dari ruang rias. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, Aruna sempat melihat David menarik napas panjang dan membuangnya kasar, seolah-olah baru saja keluar dari tekanan yang sangat berat. "Aduh, Pak David manis banget ya, Mbak. Sampai nanya begitu gara-gara kelewat gugup," celetuk asisten rias sambil senyum-senyum. Aruna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada aja memang dia hari ini." Sepuluh menit kemudian, pintu ruang rias kembali diketuk. Kali ini, yang masuk adalah Alex. Sekretaris kepercayaan Papanya Aruna itu tampil sangat rapi dalam balutan jas hitam yang dipotong pas di tubuhnya yang tegap. Ekspresi wajah Alex seperti biasa: tenang, profesional, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi berlebihan. "Mbak Aruna, acara akad sudah mau dimulai. Bapak meminta saya untuk menjemput Mbak Aruna turun ke ballroom," ujar Alex dengan suara baritonnya yang mantap dan sopan. Aruna menatap Alex melalui cermin. "Semua tamu sudah kumpul di bawah, Lex?" "Sudah lengkap, Mbak. Penghulu dan para saksi dari direksi perusahaan juga sudah mengambil posisi," jawab Alex datar. Tangannya memegang sebuah map dokumen tebal yang dijepit di samping tubuhnya. "Oke, terima kasih ya, Lex. Yuk, Mbak Rini, tolong bantu pegangin buntut gaun aku ya." "Siap, Mbak!" Mereka keluar dari ruang rias. Alex berjalan memimpin di depan, membukakan jalan dan memastikan jalur lorong menuju ballroom bebas dari hambatan. Setiap kali berjalan di dekat Alex, Aruna selalu merasa aman. Cowok itu sudah bekerja pada Papanya selama lima tahun terakhir dan selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Saat melangkah menyusuri lorong menuju lift khusus, Aruna sempat melirik ke arah Alex. "Lex, tadi kamu lihat Mas David di bawah nggak?" "Lihat, Mbak," jawab Alex singkat tanpa menoleh. "Dia masih kelihatan panik banget nggak?" Alex menghentikan langkahnya sebentar tepat di depan pintu lift, lalu menoleh menatap Aruna. Tatapan matanya tajam dan datar, benar-benar sulit dibaca. "Pak David terlihat cukup gelisah," jawab Alex pelan. Pria itu lalu menekan tombol lift dan membuang pandangannya lurus ke depan. "Tapi insting saya mengatakan... kegelisahan Pak David hari ini bukan sekadar karena grogi ingin menikah."Gedung tua di pinggiran Jakarta itu masih berdiri seperti yang Alex ingat. Ia melangkah memasuki ruangan utama dengan ekspresi tenang, sementara dua orang penjaga membukakan pintu tanpa mengajukan pertanyaan. Di ujung ruangan, Adrian Vandermeer duduk di balik meja panjang, mengenakan setelan gelap dengan senyum tipis yang sama seperti bertahun-tahun lalu.“Kau akhirnya datang juga,” sambut Adrian sambil berdiri. “Aku mulai khawatir Hendra sudah mengajarimu terlalu banyak cara untuk menghindari masalah.”Alex berhenti beberapa langkah di hadapannya. “Jangan membawa nama ayah mertuaku ke dalam urusan kita.”Adrian tertawa kecil, lalu menuangkan minuman ke dalam gelas. “Kau masih sama. Selalu melindungi orang-orang yang kau anggap keluarga.” Ia mendorong satu gelas ke arah Alex. “Padahal, beaku yang membentukmu menjadi seperti sekarang.”Alex tidak menyentuh gelas itu. “Kau membantuku bertahan hidup. Aku tidak pernah menyangkalnya. Tapi itu tidak memberimu hak untuk mengatur hidupku sel
Pagi berikutnya, suasana penthouse terasa berbeda. Tidak ada kepanikan atau percakapan tergesa-gesa, tetapi sejak bangun Alex bergerak dengan kewaspadaan lebih tinggi. Ia memeriksa laporan keamanan gedung, memastikan akses lift pribadi yang hanya bisa digunakan penghuni terdaftar, lalu meminta petugas memperketat pemeriksaan terhadap siapa pun yang menemui Aruna.Aruna memperhatikan semua itu dari meja makan sambil menyeruput kopi. “Kamu benar-benar serius soal pesan Vandermeer semalam,” katanya.Alex menutup tablet setelah memeriksa laporan terakhir. “Aku serius karena dia tidak pernah mengancam tanpa menyiapkan cara untuk melakukannya.”“Dan apa rencanamu?” tanya Aruna.Alex menatapnya sejenak. “Membuat dia berhenti bermain dari balik layar.”Aruna meletakkan cangkirnya. “Kamu mau memancingnya?”“Bukan memancing.” Alex mengambil jas dari sandaran kursi. “Memberinya sesuatu yang membuat dia merasa sudah menang.”Aruna mengamati suaminya mengenakan jam tangan, lalu menggeleng pelan. “
Malam sudah cukup larut ketika Alex berdiri di depan jendela besar penthouse, memandangi lampu Jakarta yang berkilauan jauh di bawah sana. Ponselnya masih berada di tangannya, layar menampilkan nomor yang baru saja meneleponnya. Tidak ada nama, tidak ada identitas, tetapi Alex tidak membutuhkan keduanya untuk tahu siapa yang berada di balik panggilan itu.Vandermeer.Pria yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai bagian dari masa lalu yang sengaja Alex tinggalkan, kini kembali setelah menyerang Hartawan Group dan memaksanya kehilangan jabatan. Semua itu, menurut Vandermeer, dilakukan demi satu tujuan.Mendapatkan Alex kembali.Alex menurunkan ponselnya perlahan ketika suara langkah terdengar dari arah ruang tengah. Aruna muncul sambil membawa dua cangkir kopi, tetapi langkahnya melambat begitu melihat ekspresi Alex yang berbeda dari biasanya.“Kamu bicara dengannya?” tanya Aruna, meletakkan salah satu cangkir di meja sebelum mendekat.Alex tidak langsung menjawab. Ia memasukkan p
Alex belum sempat meninggalkan lantai eksekutif ketika Dimas menyusulnya dari tangga darurat. Napas pria itu sedikit terengah, tetapi tangannya masih menggenggam tablet.Alex berhenti di dekat lift. “Kenapa kamu mengikuti saya?”Dimas memastikan tidak ada siapa pun di sekitar mereka sebelum menjawab pelan, “Karena saya berhasil menyelamatkan sebagian data sebelum akses saya ikut dibatasi.”Alex menatap tablet di tangan Dimas. “Tunjukkan.”Dimas membuka sebuah folder tersembunyi. “Saya salin melalui jalur lokal sebelum sistem memblokir beberapa akun.”Alex mengambil tablet tersebut dan membaca isi file satu per satu. Beberapa transaksi terlihat biasa, tetapi ada pola kedua yang tersembunyi di antara transaksi kecil.Alex langsung mengerutkan kening.Dimas memperhatikan perubahan wajahnya. “Ada sesuatu?”Alex menunjuk salah satu transaksi. “Lima puluh miliar bukan tujuan akhirnya.”Dimas mendekat. “Apa maksud Anda?”Alex memperbesar data tersebut. “Lihat jalur ini. Dana memang dipindahk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.