"Eh, tunggu dulu, Mbak!"Tara tiba-tiba menahan bahu Vania, menghentikan gerakan wanita itu yang nyaris saja menyatukan bibir mereka.Vania mengerjap, napasnya yang tadinya sudah di ambang batas kewarasan mendadak tersangkut di tenggorokan. Antara kaget, malu, dan emosi yang mendadak melonjak karena digantung di detik-detik krusial. Wajah Vania yang tadinya memerah karena pasrah, kini langsung berubah garang."Apaan lagi, sih?!" desis Vania kesal, menarik wajahnya mundur. "Lu sengaja ya mau ngerusak momen?!""Bukannya ngerusak, Mbak. Cuma... aduh, jujur banget nih ya, muka lu belepotan banget sumpah," ujar Tara tanpa berdosa, sambil menunjuk area bawah mata Vania. "Maskara lu luntur, pipi lu cemong bekas air mata campur ingus, terus liat tuh rambut lu kusut kayak singa. Nggak estetik banget buat adegan ciuman pertama kita."Bugh!Satu pukulan mendarat telak di lengan berotot Tara, membuat pemuda itu meringis sambil terkekeh geli."Sialan lu, ya!" Vania buru-buru mengusap wajahnya deng
Última actualización : 2026-09-09 Leer más