Awas, Ada Berondong!

Awas, Ada Berondong!

last updateLast Updated : 2026-09-03
By:  SilentiaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Awas, Ada Berondong! Bagaimana nasib seorang wanita karier berusia dua puluh lima tahun yang baru pindah rumah, lalu mendapati tetangga depannya adalah seorang pemuda tujuh belas tahun dengan hobi merusak iman? Vania—cantik, mandiri, dan punya standar tinggi—tadinya mengira rumah barunya bakal jadi tempat tenang buat rebahan. Sialnya, ekspektasi itu hancur lebur di hari pertama. Bukan cuma disuguhi pemandangan "roti sobek" tanpa sehelai benang dari jendela seberang, Vania juga harus berurusan dengan Tara, tetangga brondong berandal yang hobi ngintip, usil, dan jago banget bikin darahnya mendidih. Dari insiden bra terbang sampai tumpangan mobil penuh ujian kesabaran, batas antara rasa sebal dan rasa penasaran perlahan-lahan menipis. Vania kira dia bisa mempermainkan si bocah ingusan itu dengan pesonanya. Tapi ia lupa, anak muda zaman sekarang paling jago bikin wanita dewasa lupa daratan. Ketika si berondong mulai berani unjuk gigi, sanggupkah Vania menjaga pertahanannya? Atau justru dia sendiri yang meminta diantar... ke jalan yang sesat?

View More

Chapter 1

Bab 1

Bunyi berisik dari rumah kosong di seberang jalan sukses merusak waktu tidur siang Tara. Dengan mata setengah terpejam dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, pemuda itu beranjak mengintip dari balik tirai kamarnya.

"Ramai banget. Ini hantu pada dugem siang bolong apa gimana," gerutu Tara, masih setia mengintip.

"Tra, lagi ngapain, sih? Bintitan tau rasa, hobi banget mengintip rumah orang," tegur Mira, mamanya, yang mendadak muncul di ambang pintu.

Kenalkan, nama gue Tara Baskara. Usia gue baru menginjak tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku kelas dua belas SMA, tapi kalau urusan menilai situasi, gue juaranya.

"Itu hantu rumah sebelah lagi pesta, Mah," tunjuk Tara.

"Ngaco aja kamu. Rumah itu sudah laku dan lagi direnovasi," balas Mira sambil berkacak pinggang.

Tara cuma manggut-manggut malas, lalu berniat merebahkan diri lagi ke kasur empuknya. Namun, sebelum punggungnya menyentuh seprai, mamanya sudah lebih dulu menarik selimutnya.

"Tra, kok malah tidur lagi?"

"Masih siang, Mah. Masih ngantuk," rengek Tara.

"Dasar pemalas!" ucap Mira sembari komat-kamit melangkah keluar, membiarkan Tara kembali terlelap.

Sementara itu, di seberang jalan, rumah yang selama sepuluh tahun mangkrak itu kini sudah berubah drastis—rapi, bersih, dan jauh lebih layak huni.

"Pak, tolong lemari yang di sebelah sana digeser sedikit ke kiri," instruksi seorang wanita bertubuh sintal. Ia mengenakan celana jeans belel, kemeja putih longgar, dan rambut yang dicepol asal-asalan.

"Siap, Mbak," balas salah satu pekerja angkut.

Kenalkan, namanya Vania Alisya. Usianya sudah menginjak angka dua puluh lima, tipe wanita karier independen yang memilih hidup sendiri di kota ini.

Selepas para pekerja pulang, Vania langsung merebahkan tubuhnya yang remuk redam karena seharian membereskan perabot. Sengaja ia biarkan tirai jendela kamarnya terbuka lebar agar angin sore bisa leluasa masuk—maklum, AC dan kipas angin belum sempat terpasang.

Namun, kegiatan bermalas-malasannya seketika terhenti saat matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan di rumah seberang. Seorang pemuda baru saja keluar dari kamar mandi, hanya melilitkan handuk tipis di pinggang jenjangnya. Air masih menetes dari helai rambut hitamnya, membasahi dada bidang berpahat sempurna.

"Astaga, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Seksie banget," gumam Vania, menggigit bibir bawahnya sambil berharap handuk itu melorot. "Ah, sial..." gerutunya kecewa saat si pemuda buru-buru masuk kembali ke kamar setelah mengambil pakaian ganti.

Meski hanya sekilas, bentuk tubuh pemuda tadi sukses membuat imajinasi Vania liar. Kulit putih bersih, bahu bidang, dan perut six-pack yang menggoda. Sialan, bikin iman goyah.

"Aku wanita suci... huft," bisik Vania sambil memejamkan mata, mencoba membuang jauh-jauh pikiran kotor yang mendadak menguasai kepalanya.

***

Hari ini adalah sisa jatah cuti Vania. Ia manfaatkan waktu luangnya untuk bersantai di sofa sambil maraton drama Korea romantis.

"Andai aja ada cowok seganteng dan sesetia itu di dunia nyata," batin Vania, baper maksimal menyaksikan adegan ciuman panas di layar kaca.

Tok, tok, tok!

"Permisi...!!"

"Ck, siapa sih, ganggu orang lagi menikmati halu aja!" seru Vania kesal. Dengan langkah berat ia berjalan menuju pintu depan.

Begitu dibuka, celingukan ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun di teras.

"Mbak, bra-nya terbang nyangkut di pagar!"

Vania mendongak. Di seberang pagar, seorang pemuda berseragam putih abu-abu melambaikan tangan—lengkap dengan sehelai bra renda hitam milik Vania yang tergantung di telunjuknya.

Vania mengerjap. "Lu pikir bra gue punya sayap, bisa migrasi sendiri?" tandasnya galak, berjalan cepat merebut pakaian dalamnya.

"Ya elah, Mbak, sensi amat," komentar Tara. Matanya secara otomatis langsung melakukan body checking dari ujung kepala sampai kaki. Vania saat itu hanya mengenakan kaos oblong oversize putih dan celana hotpants super pendek yang membuat pahanya terekspos tanpa batas.

"Apa lagi?!" Vania melipat tangan di depan dada, sengaja menonjolkan asetnya.

"Gue Tara, Mbak. Tetangga baru." Tara menunjuk rumah di hadapan mereka dengan cengiran lebar.

"Gue gak nanya," balas Vania ketus sebelum membanting pintu rumahnya keras-keras.

"Mbaknya siapa nama...!!" teriak Tara dari luar.

Tak ada jawaban. Di dalam rumah, Vania mendengus pelan. "Payah... ternyata masih anak SMA," umpatnya, melempar bra hitam tadi ke atas sofa begitu saja. Hilang sudah minatnya begitu tahu tetangga barunya masih berstatus pelajar.

***

Malam harinya, Vania sudah bertransformasi total. Ia mengenakan hotpants denim favoritnya dan blus model Sabrina berpotongan rendah yang mengekspos bahu mulusnya.

"Come on, girls!" seru Vania saat menjemput sahabatnya, Citra, untuk pergi ke kelab malam.

"You look so sexy, Babe,"  puji Citra melihat penampilan Vania yang kelewat menggoda.

"Always sexy, for your information," balas Vania santai sambil memoleskan gincu merah di bibirnya.

Tanpa mereka sadari, dari balik celah gorden jendela kamarnya, sepasang mata milik Tara mengawasi gerak-gerik itu dengan tatapan tajam.

"Si Mbak seksi banget, astaga... mau ke mana coba malem-malem pake baju kurang bahan begitu," gumam Tara, menggelengkan kepalanya takjub.

"Tra! Hobi banget ya kamu ngintipin anak gadis orang?" Suara Mira sukses membuat Tara berjengit kaget.

"Hadeuh, Mah! Jantung Tara nyaris copot," protesnya sambil mengelus dada.

"Salah sendiri dipanggil dari tadi budek. Lagi fokus apa sih?" sinis Mira.

"Lagi ngamatin masa depan, Mah," jawab Tara cengangas-cengenges menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Cepat tidur! Besok sekolah!" perintah sang ratu rumah dengan mutlak.

"Siap, Bos!" Tara langsung merebahkan tubuhnya di kasur, meski otaknya masih menerawang ke sosok tetangga sebelah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status