LOGINAwas, Ada Berondong! Bagaimana nasib seorang wanita karier berusia dua puluh lima tahun yang baru pindah rumah, lalu mendapati tetangga depannya adalah seorang pemuda tujuh belas tahun dengan hobi merusak iman? Vania—cantik, mandiri, dan punya standar tinggi—tadinya mengira rumah barunya bakal jadi tempat tenang buat rebahan. Sialnya, ekspektasi itu hancur lebur di hari pertama. Bukan cuma disuguhi pemandangan "roti sobek" tanpa sehelai benang dari jendela seberang, Vania juga harus berurusan dengan Tara, tetangga brondong berandal yang hobi ngintip, usil, dan jago banget bikin darahnya mendidih. Dari insiden bra terbang sampai tumpangan mobil penuh ujian kesabaran, batas antara rasa sebal dan rasa penasaran perlahan-lahan menipis. Vania kira dia bisa mempermainkan si bocah ingusan itu dengan pesonanya. Tapi ia lupa, anak muda zaman sekarang paling jago bikin wanita dewasa lupa daratan. Ketika si berondong mulai berani unjuk gigi, sanggupkah Vania menjaga pertahanannya? Atau justru dia sendiri yang meminta diantar... ke jalan yang sesat?
View MoreBunyi berisik dari rumah kosong di seberang jalan sukses merusak waktu tidur siang Tara. Dengan mata setengah terpejam dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, pemuda itu beranjak mengintip dari balik tirai kamarnya.
"Ramai banget. Ini hantu pada dugem siang bolong apa gimana," gerutu Tara, masih setia mengintip. "Tra, lagi ngapain, sih? Bintitan tau rasa, hobi banget mengintip rumah orang," tegur Mira, mamanya, yang mendadak muncul di ambang pintu. Kenalkan, nama gue Tara Baskara. Usia gue baru menginjak tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku kelas dua belas SMA, tapi kalau urusan menilai situasi, gue juaranya. "Itu hantu rumah sebelah lagi pesta, Mah," tunjuk Tara. "Ngaco aja kamu. Rumah itu sudah laku dan lagi direnovasi," balas Mira sambil berkacak pinggang. Tara cuma manggut-manggut malas, lalu berniat merebahkan diri lagi ke kasur empuknya. Namun, sebelum punggungnya menyentuh seprai, mamanya sudah lebih dulu menarik selimutnya. "Tra, kok malah tidur lagi?" "Masih siang, Mah. Masih ngantuk," rengek Tara. "Dasar pemalas!" ucap Mira sembari komat-kamit melangkah keluar, membiarkan Tara kembali terlelap. Sementara itu, di seberang jalan, rumah yang selama sepuluh tahun mangkrak itu kini sudah berubah drastis—rapi, bersih, dan jauh lebih layak huni. "Pak, tolong lemari yang di sebelah sana digeser sedikit ke kiri," instruksi seorang wanita bertubuh sintal. Ia mengenakan celana jeans belel, kemeja putih longgar, dan rambut yang dicepol asal-asalan. "Siap, Mbak," balas salah satu pekerja angkut. Kenalkan, namanya Vania Alisya. Usianya sudah menginjak angka dua puluh lima, tipe wanita karier independen yang memilih hidup sendiri di kota ini. Selepas para pekerja pulang, Vania langsung merebahkan tubuhnya yang remuk redam karena seharian membereskan perabot. Sengaja ia biarkan tirai jendela kamarnya terbuka lebar agar angin sore bisa leluasa masuk—maklum, AC dan kipas angin belum sempat terpasang. Namun, kegiatan bermalas-malasannya seketika terhenti saat matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan di rumah seberang. Seorang pemuda baru saja keluar dari kamar mandi, hanya melilitkan handuk tipis di pinggang jenjangnya. Air masih menetes dari helai rambut hitamnya, membasahi dada bidang berpahat sempurna. "Astaga, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Seksie banget," gumam Vania, menggigit bibir bawahnya sambil berharap handuk itu melorot. "Ah, sial..." gerutunya kecewa saat si pemuda buru-buru masuk kembali ke kamar setelah mengambil pakaian ganti. Meski hanya sekilas, bentuk tubuh pemuda tadi sukses membuat imajinasi Vania liar. Kulit putih bersih, bahu bidang, dan perut six-pack yang menggoda. Sialan, bikin iman goyah. "Aku wanita suci... huft," bisik Vania sambil memejamkan mata, mencoba membuang jauh-jauh pikiran kotor yang mendadak menguasai kepalanya. *** Hari ini adalah sisa jatah cuti Vania. Ia manfaatkan waktu luangnya untuk bersantai di sofa sambil maraton drama Korea romantis. "Andai aja ada cowok seganteng dan sesetia itu di dunia nyata," batin Vania, baper maksimal menyaksikan adegan ciuman panas di layar kaca. Tok, tok, tok! "Permisi...!!" "Ck, siapa sih, ganggu orang lagi menikmati halu aja!" seru Vania kesal. Dengan langkah berat ia berjalan menuju pintu depan. Begitu dibuka, celingukan ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun di teras. "Mbak, bra-nya terbang nyangkut di pagar!" Vania mendongak. Di seberang pagar, seorang pemuda berseragam putih abu-abu melambaikan tangan—lengkap dengan sehelai bra renda hitam milik Vania yang tergantung di telunjuknya. Vania mengerjap. "Lu pikir bra gue punya sayap, bisa migrasi sendiri?" tandasnya galak, berjalan cepat merebut pakaian dalamnya. "Ya elah, Mbak, sensi amat," komentar Tara. Matanya secara otomatis langsung melakukan body checking dari ujung kepala sampai kaki. Vania saat itu hanya mengenakan kaos oblong oversize putih dan celana hotpants super pendek yang membuat pahanya terekspos tanpa batas. "Apa lagi?!" Vania melipat tangan di depan dada, sengaja menonjolkan asetnya. "Gue Tara, Mbak. Tetangga baru." Tara menunjuk rumah di hadapan mereka dengan cengiran lebar. "Gue gak nanya," balas Vania ketus sebelum membanting pintu rumahnya keras-keras. "Mbaknya siapa nama...!!" teriak Tara dari luar. Tak ada jawaban. Di dalam rumah, Vania mendengus pelan. "Payah... ternyata masih anak SMA," umpatnya, melempar bra hitam tadi ke atas sofa begitu saja. Hilang sudah minatnya begitu tahu tetangga barunya masih berstatus pelajar. *** Malam harinya, Vania sudah bertransformasi total. Ia mengenakan hotpants denim favoritnya dan blus model Sabrina berpotongan rendah yang mengekspos bahu mulusnya. "Come on, girls!" seru Vania saat menjemput sahabatnya, Citra, untuk pergi ke kelab malam. "You look so sexy, Babe," puji Citra melihat penampilan Vania yang kelewat menggoda. "Always sexy, for your information," balas Vania santai sambil memoleskan gincu merah di bibirnya. Tanpa mereka sadari, dari balik celah gorden jendela kamarnya, sepasang mata milik Tara mengawasi gerak-gerik itu dengan tatapan tajam. "Si Mbak seksi banget, astaga... mau ke mana coba malem-malem pake baju kurang bahan begitu," gumam Tara, menggelengkan kepalanya takjub. "Tra! Hobi banget ya kamu ngintipin anak gadis orang?" Suara Mira sukses membuat Tara berjengit kaget. "Hadeuh, Mah! Jantung Tara nyaris copot," protesnya sambil mengelus dada. "Salah sendiri dipanggil dari tadi budek. Lagi fokus apa sih?" sinis Mira. "Lagi ngamatin masa depan, Mah," jawab Tara cengangas-cengenges menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Cepat tidur! Besok sekolah!" perintah sang ratu rumah dengan mutlak. "Siap, Bos!" Tara langsung merebahkan tubuhnya di kasur, meski otaknya masih menerawang ke sosok tetangga sebelah.Vania langsung masuk rumah begitu mobil Citra pergi. Kepalanya terasa pusing akibat seharian bergulat dengan tumpukan dokumen kantor dan drama hubungannya dengan Mario yang semakin tidak jelas. Ia melepas sepatu hak tingginya secara asal, melempar tas kerja ke atas sofa, lalu berniat langsung membersihkan diri di kamar mandi.Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur.Bukannya mendapati kamarnya kosong, Vania justru menemukan sesosok pemuda berseragam putih abu-abu sedang duduk dengan sangat santai di tepi kasurnya. Dasi sekolahnya sudah terlepas separuh, kancing atas kemejanya terbuka, dan kakinya disilangkan dengan gaya songong yang sukses membuat urat di pelipis Vania berdenyut menahan amarah."Siapa yang suruh lu masuk ke kamar gue, hah?!" maki Vania galak, kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Pintu depan memang nggak dikunci, tapi bukan berarti lu bebas nyelonong masuk kayak maling jemuran!"Alih-alih merasa takut atau langsung kabur, Tara justru men
Tara pagi ini mendadak ceria luar biasa. Pikirannya masih melayang-layang, terbayang-bayang pemandangan celana dalam merah muda milik Vania yang tak sengaja terekspos kemarin sore."Ta, itu makanan di piring dimakan, bukan malah diajak senyum-senyum," tegur Mira sambil meletakkan segelas susu di meja makan.Namun, Tara tetap saja asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap kosong piring yang berisi telur ceplok."Taraaa...!" seru Mira gemas."Ihh, Mamah ini norak kayak tinggal di hutan aja, teriak-teriak berisik," balas Tara santai."Ya makanya makanannya disantap, Nak!""Astaga, sabar banget ya punya anak ganteng," gumam Mira mengelus dadanya, mencoba melapangkan dada menghadapi anak bujangnya itu."Iya, Mah, slow aja," jawab Tara. Ia langsung menyuap sarapannya dengan kilat karena sudah tidak sabar ingin segera keluar rumah demi menguntit sang tetangga."Pelan-pelan dong, Ta! Butuh stok kesabaran ekstra kalau ngadepin kamu," gerutu Mira."Ber-ang-kat du-lu, Mah!" ucap Tara tidak jela
Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin. Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu."Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga."Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu."Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan."Lepasin, sakit!""Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi
Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi. Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing."Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis."Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah."Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran."Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.