Tara merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi telungkup, memeluk guling erat-erat, matanya sama sekali tidak mau diajak kompromi. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Vania yang memerah, napas hangat wanita itu yang menerpa kulitnya, serta insiden ciuman tak sengaja di teras rumah tadi berputar ulang di kepalanya bagaikan kaset rusak. Bibirnya seolah masih bisa merasakan sentuhan lembut yang mendadak membuat sekujur tubuhnya merinding aneh."Gila, bener-bener gila tu cewek," gumam Tara pelan ke dalam bantal, mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi tingkat dewa. "Bukannya minta maaf, malah digampar omongan. Tapi manis juga ya?"Setelah berjam-jam berguling gelisah melawan pikiran-pikiran absurd di kepalanya, Tara akhirnya terlelap menjelang pukul tiga pagi. Dan di sanalah petaka atau lebih tepatnya surga dunia versi remaja tujuh belas tahun dimulai. Dalam mimpinya, Vania tidak lagi berwajah garang, melainkan datang dengan senyuman manis, berbisik manja, da
Última actualización : 2026-09-14 Leer más