Adiguna segera menarik Kalasri ke belakang tubuhnya dengan penuh rasa sayang. Matanya lalu menatap tajam ke arah Adikara."Kara, apa yang kamu lakukan? Apa hari ini kamu salah minum obat?""Kenapa? Nggak sanggup mendengar kenyataan?" Adikara melirik Adiguna sambil mendengus."Kara, sudahlah, jangan bikin keributan lagi." Adinata mengernyit.Mendengar itu, Adikara bertanya dengan nada tak puas, "Kakak merasa aku sedang bikin keributan?""Kakak-kakak, jangan bertengkar lagi." Kalasri melangkah maju, berdiri di antara keduanya sambil berkata dengan mata memerah, "Biar aku yang tinggal di sini untuk merawat Kak Wangsa.""Kamu sendiri juga masih sakit." Adidarma berkata dengan lembut, "Lagi pula, masih ada Fatma dan yang lainnya.""Aku nggak tenang." Kalasri menggeleng. "Aku akan rawat Kak Wangsa dengan baik."Setelah itu, dia menoleh kepada Adikara. Bibir merah mudanya terkatup pelan, lalu memanggil dengan ragu-ragu, "Kak ...."Hati Adikara langsung luluh. Bagaimanapun juga, dia telah meny
Magbasa pa