"Omong kosong macam apa itu?" Steven terkekeh, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalaku. "Kalau kamu kabur, meski harus mencari ke seluruh dunia, aku juga akan temukan kamu dan ikat kamu di sisiku."Aku menundukkan pandangan untuk menyembunyikan kilatan ejekan di mataku. "Steven, kalau ... kalau aku lakukan hal yang mengkhianatimu, apa kamu akan maafkan aku?"Senyum perlahan-lahan memudar dari wajah Steven. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan memaksaku menatap matanya. Ekspresinya terlihat sangat serius, hingga terasa menakutkan."Jangan ngomong begitu." Dia membelai pipiku dengan ujung jarinya sambil berkata dengan suara rendah, "Tally, di antara kita, nggak ada yang perlu dimaafkan atau memaafkan. Kamu nggak akan pernah lakukan hal kayak begitu, sama seperti aku juga nggak akan pernah khianati kamu."Steven berbicara dengan penuh keyakinan dan ketulusan yang mendalam. Aku hampir tertawa lepas. Apakah keyakinan itu muncul dari rasa percaya padaku, atau dari keperca
Read more