LOGINAku membeli laptop bekas di toko online. Saat menyalakannya, aku mendapati gambar latar belakangnya adalah foto telanjang tunanganku, Steven Lukardi. Aku pun terpaku. Apakah ini takdir? Sesuatu miliknya kembali padaku setelah sekian lama? Tepat saat aku hendak menelepon Steven untuk menanyakan apa yang terjadi, penjualnya meneleponku dengan panik. "Sis, ada kesalahan besar! Aku nggak sengaja kirim laptop pacarku kepadamu! Di dalamnya, ada file kerja yang sangat penting. Tolong jangan sentuh apa pun, ya! Aku akan segera kirimkan laptop yang benar dan tanggung biaya pengirimannya!" Mendengar suara manis di ujung telepon, hatiku seketika membeku. Sejak kapan Steven memiliki pacar lain selain aku?
View MoreTiga bulan kemudian, pameranku diselenggarakan di Parisia. Ibuku merangkul lenganku dan berkata dengan berlinang air mata, "Tally, kamu berhasil."Ayahku berdiri tak jauh dari sana dan menatap lukisan-lukisan itu. Setelah terdiam cukup lama, dia hanya mengucapkan satu kata, "Bagus."Selama tiga bulan itu, aku memutus kontak dengan sebagian besar orang di dalam negeri. Aku membenamkan diri sepenuhnya dalam cat dan kanvas. Rasa sakit yang dulu mencabik-cabik jiwaku perlahan sirna. Melalui setiap goresan kuas, aku membentuk kembali rasa sakit itu, hingga akhirnya menjelma menjadi karya-karya bisu yang kini terpajang di dinding.Rania mengirimiku pesan.[ Selamat, pelukis hebat! Aku ikut senang meski nggak bisa hadir langsung! ]Tepat saat aku selesai membalas pesan Rania, sosok seseorang yang familier muncul di pintu masuk galeri dan seketika menarik perhatian semua orang. Itu adalah Jayden. Dia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu tua yang pas di tubuhnya, lalu melangkah menembus
Aku melihat tablet yang diserahkan Jayden. Ada angka dan bukti mengejutkan di layar. Aku tahu betul bahwa ini bukan lagi sekadar permasalahan cinta yang sederhana, melainkan arus konflik tersembunyi yang menyangkut reputasi ayahku dan kepentingan keluargaku. Aku tidak dapat melarikan diri lagi.Aku mengalihkan pandanganku, lalu memegang kartu nama itu erat-erat. Ini bukan tentang balas dendam, tetapi tentang mendapatkan kembali apa yang menjadi hakku dan ayahku."Pak Jayden, aku setuju untuk bekerja sama."Suaraku tenang, tetapi penuh dengan tekad yang tidak perlu dipertanyakan lagi.Jayden tersenyum. Itu bukanlah senyuman bangga, tetapi semacam keyakinan bahwa dia mampu mengendalikan situasinya."Bu Thalia, kamu akan tahu bahwa kita adalah sekutu terbaik." Dia memberi aku sebuah dokumen dan berujar, "Ini adalah rencana kerja sama awal dan informasi tentang proyek tender penting perusahaan Steven dalam waktu dekat. Kita harus mulai dari sini dulu."Aku mengambil file itu. Ujung jariku
Begitu didorong keluar oleh Rania, ekspresi Hillary langsung berubah. Tiba-tiba, dia berbalik dan berkata dengan suara tajam, "Thalia, kamu kira kamu akan menang dengan cara ini?"Dia menunjuk ke arahku dan mengutuk dengan kejam, "Asal kamu tahu, kamu nggak akan pernah bahagia! Wanita egois sepertimu pantas dikhianati! Kamu kira Steven mencintaimu? Dia cuma sudah terbiasa dengan kehadiranmu! Yang dicintainya itu aku! Dia akan kembali dan memohon padaku!"Hillary bahkan mengungkit tentang anak itu lagi dan berujar dengan nada mengancam, "Jangan kira kamu bisa melarikan diri. Anak ini akan menghantuimu seumur hidup!"Aku menutup pintu untuk memisahkan diri dari luapan emosinya.Rania berjalan ke arahku dan menepuk pundakku. "Abaikan dia. Dia itu orang gila."Besok, aku harus pergi. Aku kembali ke kamar tamu dan menutup koperku. Aku mengeluarkan paspor dan tiket pesawat untuk mengkonfirmasi ulang informasi penerbangan.Rania masuk ke kamar dan memberiku segelas susu. "Minum susu ini, lalu
Gangguan Steven sudah menjadi rutinitas. Dia menungguku di gedung perusahaanku, di depan gerbang apartemen Rania, dan bahkan di luar apartemen orang tuaku.Dia mencoba menghentikanku, berlutut, dan meminta maaf padaku dengan suara serak, "Tally, aku mohon, beri aku kesempatan lagi. Aku nggak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar sudah sadari kesalahanku."Namun, aktingnya itu hanya membuatku merasa muak dan ingin melarikan diri secepatnya. Aku mengganti tiket pesawatku ke Parisia menjadi besok. Aku telah siap berkemas dan tinggal menunggu hingga fajar menyingsing.Malam sudah larut dan Rania telah tidur. Aku sedang duduk di kamar tamu sambil memeriksa barang bawaanku untuk pergi ke Parisia. Tiba-tiba, ketukan cepat di pintu memecah kesunyian. Hatiku menegang karena mengira itu adalah Steven.Rania terbangun dan bergegas keluar dengan mengenakan mantel. Dia telah siap untuk memaki orang. Aku memberi isyarat padanya untuk tetap diam, lalu melihat melalui lubang intip. Orang yang berdiri di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.