Barulah setelah kami masuk ke mobilnya, Julian menjelaskan dengan suara pelan, "Jangan dengarkan omongan para bajingan itu, mereka hanya asal bicara. Mia adalah penari di klubku. Sebagai Bos, aku hanya membantunya. Ini cuma urusan bisnis."Aku hanya bergumam pelan, lalu bersandar pada kaca jendela mobil tanpa mengatakan apa-apa lagi.Julian tiba-tiba marah. "Kamu nggak percaya? Kamu masih ingin bersikap dingin padaku, ya?""Sera … selama enam bulan terakhir, setiap malam aku selalu pulang menemuimu, apa lagi yang kamu inginkan dariku?"Aku memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat di balik jendela, lalu menjawab datar, "Aku percaya, kok.""Aku hanya menganggap ini luka biasa, jadi aku nggak mau mengganggumu. Ayo, kita pulang."Jawabanku terdengar sempurna, tetapi sama sekali tidak bernyawa, seperti pesan yang sudah direkam sebelumnya.Julian meninju setir mobil.Bunyi klakson memecah keheningan malam, membuat sekelompok penari yang baru saja keluar dari pintu belakang klub di seb
Magbasa pa