Short
Pengkhianatanmu Menjadi Akhir Cinta Kita

Pengkhianatanmu Menjadi Akhir Cinta Kita

By:  BagelCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
13Chapters
41views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah bayi kami meninggal setelah tiga hari kelahirannya, aku meninggalkan semua kebiasaan yang biasanya membuat Julian kesal. Aku berhenti bertanya ke mana dia pergi. Bahkan, ketika dia tidak pulang semalaman, aku tetap bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan, ketika peluru nyasar menyerempet pergelangan tanganku saat terjadi baku tembak di jalanan, dan dokter memintaku menghubungi keluarga, aku hanya menjawab, "Aku nggak punya keluarga." Seorang perawat mengenaliku. "Anda Nyonya Marula, 'kan? Iring-iringan mobil Tuan Julian diparkir di bawah. Perlu saya beri tahu Tuan Julian?" Aku menundukkan pandangan dan memintanya untuk nggak perlu melakukannya. Setengah jam kemudian, Julian mendorong pintu hingga terbuka. Julian mengenakan setelan mahal. Dengan suara lembut, dia berkata, "Kamu terluka, kenapa nggak menghubungiku?" Aku menatap perban di pergelangan tanganku. "Cuma luka kecil. Bos punya urusan yang lebih penting." Nada bicaraku yang acuh tak acuh tampaknya makin membuatnya kesal. Tepat ketika dia hendak mengatakan sesuatu, suara gunjingan anak buahnya yang terdengar dari lorong. "Sudah dengar tentang Mia? Bos benar-benar menyukainya. Waktu pergelangan kakinya terkilir di kasino, beliau sampai mengerahkan tiga SUV antipeluru untuk mengosongkan jalan, bahkan beliau sendiri yang menggendongnya keluar, kakinya nggak menyentuh tanah sama sekali." Rahang Julian menegang. Dia melirikku dengan tatapan waspada, seolah sedang menunggu aku mengamuk dan menuntut penjelasan, seperti yang selalu kulakukan dulu. Namun, aku tetap diam. Aku hanya bersandar di ranjang rumah sakit tanpa bergerak sedikit pun. Dia mengira bahwa aku sudah berhenti membuat keributan. Tanpa dia ketahui, aku diam-diam bersiap untuk meninggalkan dia selamanya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Barulah setelah kami masuk ke mobilnya, Julian menjelaskan dengan suara pelan, "Jangan dengarkan omongan para bajingan itu, mereka hanya asal bicara. Mia adalah penari di klubku. Sebagai Bos, aku hanya membantunya. Ini cuma urusan bisnis."

Aku hanya bergumam pelan, lalu bersandar pada kaca jendela mobil tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Julian tiba-tiba marah. "Kamu nggak percaya? Kamu masih ingin bersikap dingin padaku, ya?"

"Sera … selama enam bulan terakhir, setiap malam aku selalu pulang menemuimu, apa lagi yang kamu inginkan dariku?"

Aku memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat di balik jendela, lalu menjawab datar, "Aku percaya, kok."

"Aku hanya menganggap ini luka biasa, jadi aku nggak mau mengganggumu. Ayo, kita pulang."

Jawabanku terdengar sempurna, tetapi sama sekali tidak bernyawa, seperti pesan yang sudah direkam sebelumnya.

Julian meninju setir mobil.

Bunyi klakson memecah keheningan malam, membuat sekelompok penari yang baru saja keluar dari pintu belakang klub di seberang jalan terkejut.

Salah satu dari mereka mendongak dan menatap ke arah kami.

Begitu cahaya lampu menyorot ke arah gadis itu, suasana di dalam mobil seketika menegang.

"Mia ... apa yang dia lakukan di sini?" Julian refleks menoleh ke arahku. Dulu, emosiku langsung meledak setiap kali kami bertemu dengan gadis itu.

Namun, aku hanya meliriknya sebentar sebelum mengalihkan pandanganku darinya, seolah aku hanya menatap udara.

Jari-jari Julian menegang di setir mobil, tetapi pandangannya tertuju ke gadis itu.

Di tengah dinginnya angin malam, gadis itu hanya mengenakan gaun tipis yang dihiasi payet murah. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, hidungnya juga memerah karena kedinginan.

Tangan Julian sudah memegang gagang pintu, kekhawatiran terlihat sangat jelas dari sorot matanya.

Aku tahu diri, jadi aku membuka pintu mobil untuk memberinya alasan agar dia bisa pergi. "Kalau kamu masih punya urusan, aku pulang sendiri naik taksi."

Sebelum selesai bicara, aku sudah membanting pintu dan berjalan lurus menuju tempat penyeberangan.

Julian mengejarku dan meraih pergelangan tanganku. "Aku sudah lama nggak menyentuhnya. Aku juga nggak menyangka dia berada di luar dalam cuaca sedingin ini. Bisa nggak sih kamu berhenti berpikir yang macam-macam?"

Aku menatapnya, lalu mengangguk dengan patuh. "Aku percaya padamu. Nggak mudah bagi seorang gadis muda seperti dia bertahan hidup di tempat seperti ini. Meski dia hanya bawahanmu, sudah sewajarnya kamu menjaganya, aku nggak mempermasalahkannya."

Julian menatap wajahku, tetapi tidak melihat ada rasa kebencian sedikit pun dari wajahku.

Dia merasa aneh.

Aku yang dulu bergantung penuh padanya. Kalau aku menemukan ada sehelai rambut keriting di manset, aku pasti menginterogasi dia sampai subuh.

Sekarang, akhirnya aku bersikap seperti yang dia inginkan, yaitu diam, bermartabat, dan bersikap masuk akal.

Namun, Julian merasa dadanya sesak, seolah ada yang menekan dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.

Aku menarik tanganku dan berbalik untuk pergi.

Ketika sampai di ujung jalan, aku berhenti dan menoleh ke belakang.

Di samping mobil, Julian sudah melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Mia.

Dia memegang wajah Mia, menundukkan kepala, lalu menciumnya dengan penuh gairah.

Aku sama sekali tidak terkejut. Sejujurnya, aku sudah menduga ini akan terjadi.

Aku tidak bertingkah seperti saat pertama kali memergokinya berselingkuh, berlari menghampirinya seperti orang gila sambil berteriak, "Julian Marula! Di mana hati nuranimu? Aku sudah bersamamu sejak usia tujuh belas tahun, dari tidur di bengkel mobil sampai tinggal di vila, lalu sekarang kamu bilang sudah jatuh cinta pada wanita lain?"

Saat itu, Julian mengusap darah dari hidungnya yang terluka akibat pukulanku, kemudian pria itu mencibirku.

"Hati nurani? Kalau kamu punya hati nurani, apa kamu akan tidur denganku saat usiamu masih tujuh belas tahun? Orang tuamu sendiri nggak menginginkanmu. Aku yang mengeluarkanmu dari panti asuhan itu dan memastikan kamu tetap makan selama lebih dari sepuluh tahun, seharusnya kamu berlutut dan berterima kasih kepadaku!"

Kata-katanya seperti belati yang mengoyak kenangan sepuluh tahun yang kami habiskan untuk bertahan hidup bersama di jalanan, hingga yang tersisa hanyalah luka dan kekecewaan.

Ponselku bergetar, membuyarkan lamunanku.

"Nona Sera, dana perwalian dan dokumen kepemilikan yang ditinggalkan orang tua Anda telah selesai diproses. Kapan Anda bersedia datang ke kediaman Kasmir untuk menyelesaikan proses serah terima?"

Aku menarik lengan bajuku untuk menutupi bekas luka samar di pergelangan tangan. "Sepuluh hari lagi. Proses perceraianku yang dipercepat akan selesai dalam sepuluh hari."

Orang yang menghubungiku itu terdiam sejenak. "Pasti nggak mudah bagi Anda dan Tuan Julian menghadapi hal ini selama sekian tahun. Menerima warisan orang tua bukan berarti Anda harus memutuskan hubungan dengan Haven."

Aku memandang papan-papan neon yang menerangi klub-klub bawah tanah di sepanjang jalan. Dengan suara lembut, aku berkata, "Aku sudah nggak mencintai Julian. Aku hanya ingin meninggalkan kota ini selamanya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status