Pov LilyAroma kertas tua, lem jilid yang mengering, dan debu yang mengendap bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumanku begitu pintu kayu tebal itu tertutup. Di luar, riuh rendah suara mesin tik elektrik, dering telepon yang tak putus-putus, dan tawa sinis Sarah seolah terputus oleh sekat dinding beton yang tebal. Di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter ini, hanya ada keheningan. Kesunyian yang sunyi, namun anehnya, entah mengapa terasa jauh lebih manusiawi daripada kubikel kerjaku di luar sana.Aku terduduk di atas sebuah kursi kayu jengki tua yang diletakkan di sudut ruangan. Kedua lututku bergetar hebat. Di balik rok batik tulis motif semen rama yang kupakai, kakiku terasa seperti kehilangan seluruh tulangnya. Aku mencengkeram tepian meja kayu dengan kuku yang memutih, mencoba menahan tubuhku agar tidak merosot ke lantai kayu yang dingin."Napas, Lily. Atur ritmenya. Jangan biarkan pikiranmu menguasai jantungmu," sebuah suara berat, datar, namun penuh dengan penek
Terakhir Diperbarui : 2026-09-09 Baca selengkapnya