Diantara Dua Tasbih

Diantara Dua Tasbih

last updateLast Updated : 2026-08-18
By:  Lizza AdinataOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Seorang putri ningrat bertemu dengan "Gus" Yang menyamar menjadi manajer, hingga terjalinlah ikatan batin yang kuat di antara mereka.. Budaya dua keluarga yang sama sekali berbeda menjadi prahara yang cukup pelik.. Akankah seorang putri ningrat bersatu dengan "Gus" Sang putra kiyai??

View More

Chapter 1

Pertemuan Dua Arus

Pukul 08.00, pintu kaca otomatis PT Bhaskara terbuka. Harum parfum sandalwood dan peony yang mahal seketika memenuhi lobi, mengalahkan aroma kopi instan yang biasanya mendominasi. Lily berjalan dengan langkah kecil, perasaannya campur aduk.

Di satu sisi, ada kebanggaan sebagai putri ningrat yang ingin membuktikan kemandiriannya. Di sisi lain, ada kecemasan hebat karena ini pertama kalinya ia keluar dari sangkar emas keluarganya untuk terjun ke dunia profesional yang dingin.

Lily mengenakan setelan yang rapi. Rok batik tulis motif Semen Romo jatuh dengan anggun di bawah lutut, dipadukan dengan blazer putih gading. Rambutnya disanggul modern sederhana.

Di tangannya, ia menjinjing tas kecil bermerek yang harganya mungkin setara dengan gaji tiga bulan staf administrasi di sana. Meski penampilannya elegan, jemari yang menggenggam tas itu tampak bergetar. Lily berdiri mematung di depan meja resepsionis sampai petugas di sana menyapanya.

"Mahasiswa magang dari Universitas Buana, ya? Silakan langsung ke meja Divisi Operasional di lantai 4," ucap resepsionis tanpa menoleh, sibuk dengan teleponnya.

Lily mengangguk pelan. "Terima kasih," jawabnya dengan suara halus, khas didikan keraton yang selalu mengedepankan kesopanan.

Suasana di kantor lantai 4 kontras dengan ketenangan rumah joglo miliknya. Bunyi telepon bersahutan, langkah kaki cepat para karyawan membuatnya merasa seperti butiran pasir yang terseret arus.

Ia berdiri di tengah koridor, bingung mencari meja operasional. Beberapa karyawan pria meliriknya sekilas karena kecantikannya yang mencolok, namun tak ada yang berhenti untuk membantu.

Lily merasa dunianya menyempit. Suara ketikan keyboard berubah menjadi dengungan yang memekakkan telinga. Udara AC yang dingin menusuk paru-parunya, membuat napasnya dangkal.

Setiap langkah membuat detak jantung bawaannya yang kurang sempurna berdentum tidak beraturan.

Duk... duk... duk...

Lorong kantor terasa memanjang tak berujung. "Ibu... Lily takut," batinnya.

Tangannya meraba dinding kaca, meninggalkan bekas keringat dingin. "Apa aku pulang saja ya? Aku tidak mungkin bertahan di sini." Matanya memanas, genangan air mata mulai berkumpul di sudut pelupuk.

Saat ia nyaris kehilangan arah, sebuah pintu ruangan kaca di ujung lorong terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah terburu-buru, sedang berbicara dengan asistennya tentang laporan audit.

Pria itu memakai kemeja biru dengan lengan digulung rapi, memancarkan aura otoritas yang tenang. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Instingnya sebagai seorang Gus yang terbiasa membaca kegelisahan wajah para santrinya, langsung menangkap sinyal darurat dari gadis yang mematung di lorong. Rofiq melihat sosok yang sangat anggun, namun sorot matanya penuh ketakutan.

Rofiq memberi kode kepada asistennya untuk berhenti bicara. Ia menyerahkan tumpukan dokumen itu tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada Lily. Ia berjalan menghampiri dan berhenti dalam jarak dua meter, jarak aman yang sopan.

Ia membiarkan kehadirannya yang teduh menyelimuti Lily terlebih dahulu.

"Mencari siapa?" Suara Rofiq mengalun rendah, jernih di tengah kebisingan kantor.

Lily tersentak pelan. Ia mendongak, menemukan sosok pria dengan wajah teduh. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ketenangan bagai air di padang pasir.

"Iya, Mas... eh, Pak. Saya Lily, mahasiswa magang baru," jawabnya terbata, suaranya nyaris tak terdengar.

Pria itu terdiam sejenak, memperhatikan punggung Lily yang tegak namun matanya menyiratkan cemas. Ia melihat pin keluarga ningrat yang tersemat kecil di blazer gadis itu, namun tidak bereaksi berlebihan.

Rofiq tersenyum tipis, senyum tulus yang jarang ia berikan di kantor. Ia menuntun Lily menuju sofa lobi yang nyaman.

"Saya Rofiq, manajer di sini," ucapnya singkat.

"Istirahatlah lima menit. Setelah Anda lebih baik, saya akan mengantar ke meja kerja," lanjut Rofiq sambil mengambilkan segelas air mineral dan membukakan tutupnya.

Lily memegang gelas itu dengan tangan gemetar.

"Jangan cemas, kantor ini memang terlihat berisik di pagi hari, tapi orang-orang di sini baik," ucap Rofiq seolah bisa membaca pikiran.

"Terima kasih, Mas... eh, Pak..." bisik Lily.

"Sama-sama, Lily. Ayo."

Rofiq berjalan di depan, memberi jalan bagi Lily melewati kerumunan karyawan. Saat seorang kurir hampir menabrak Lily, dengan sigap Rofiq menggeser posisinya untuk melindungi gadis itu tanpa perlu menyentuhnya.

"Mejamu ada di area ruanganku, tapi di kubikel khusus dekat jendela," jelas Rofiq sambil membuka pintu ruangannya yang beraroma kayu gaharu. "Fokus saja pada tugasmu, tidak perlu terburu-buru mengikuti ritme orang lain. Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, atau pekerjaan ini terasa terlalu menekan, bicaralah padaku."

Lily masuk ke dalam ruangan itu dan seketika merasa seperti masuk ke dalam oase. Aroma ruangan Rofiq mirip dengan ruang kerja ayahnya; tenang dan religius.

"Terima kasih, Mas... eh, Pak Rofiq."

Rofiq terkekeh pelan. "Panggil Mas juga boleh kalau di dalam ruangan ini. Kalau di depan direksi, tolong panggil Pak, ya?"

Lily terpaku. Ia belum pernah bertemu pria sehebat ini; berwibawa namun peka tanpa perlu banyak bertanya. Saat Rofiq berjalan kembali ke mejanya, Lily menatap punggung pria itu dengan takjub.

Ia belum tahu bahwa pria yang baru saja membantunya adalah seorang Gus yang sedang menyamar menjadi profesional.

Namun, di hari pertama yang menakutkan itu, Lily merasa baru saja menemukan jangkar yang membuatnya aman. Di tengah hutan beton PT Bhaskara, ketakutan terhadap dunia luar hanyalah bayangan.

Ia duduk di kursinya dengan perasaan jauh lebih ringan, menyalakan komputer dengan senyum kecil di bibir.

Sementara itu, Rofiq diam-diam merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia ingin menjaga gadis itu, memastikan mendung tidak akan hinggap lagi di wajahnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status