Saat masuk ke ruang kerja presdir sambil membawa dokumen, suasananya sudah kacau balau.Tubuh bagian atas Edy terbuka, memperlihatkan otot perutnya yang kencang dengan bekas kemerahan yang samar.Begitu melihatku datang, wajah pria itu masih menyisakan kepuasan setelah bercinta. Dia malah menggodaku, “Mina, kamu sangat ingin menikah, ya?”“Kamu bisa melihat rancangan pernikahannya kapan pun. Kenapa harus datang sekarang dan mengganggu urusanku?”Aku membalikkan badan, suaraku terdengar berat, “Situasinya mendesak. Nenek tidak bisa menunggu selama itu ....”Edy tertegun sejenak, lalu terkekeh, “Baguslah kalau kamu tidak cemburu.”“Aku tahu kamu orang yang pengertian. Bahkan Viny juga sering bilang kamu punya sifat yang baik. Setelah menikah nanti, kamu pasti bisa menerimanya.”Aku menggeleng, tetapi jantungku justru terasa sangat nyeri.Selama bertahun-tahun, Edy terus berganti-ganti wanita demi balas dendam padaku, baginya perempuan seolah hanya seperti pakaian yang bisa diganti kapan
Ler mais