Share

Bab 3

Author: Taeyon
Waktu seolah terhenti pada saat itu. Aku tidak sempat menghindar.

Rangka lampu yang berat dan dingin, bersama pecahan kristal yang tajam, jatuh menghantam tubuhku.

Aku terjatuh dengan posisi berantakan. Cairan dingin mengalir dari dahiku.

Orang-orang di sekitar berteriak kaget. Wajah Edy langsung pucat, dia refleks mendorong orang yang ada dalam pelukannya dan berlari menghampiriku.

Saat itu, seolah ada sesuatu yang mencengkeram kuat jantungnya. Semua sikap dingin dan keras yang selama ini dia tunjukkan runtuh seketika.

Dia berdiri terpaku, jemarinya mengepal. Dia membungkuk, hendak mengangkatku.

Namun saat itu, Viny tiba-tiba menjerit, “Aah! Edy, kakiku sakit!”

Edy menerobos kerumunan dan langsung berlari ke arah Viny. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menggendongnya.

Viny menarik lengan bajunya dan berkata dengan tubuh gemetar, “Edy, Kak Mina berdarah! Cepat pergi lihat dia. Aku tidak apa-apa sendirian ....”

Pandangan Edy kembali tertuju padaku.

Langkahnya terhenti. Tanpa sadar dia menegang, mengamati ekspresiku, seolah berharap melihatku terluka dan meminta pertolongannya.

Namun sejak awal hingga akhir, aku hanya menggertakkan gigi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Edy segera mengalihkan pandangan dan mendengus dingin, “Dia pura-pura.”

“Dengan kelicikan Mina, mana mungkin dia tidak bisa menghindari lampu itu? Kalau mau terus berpura-pura, biarkan saja dia berbaring di sana.”

Dia mengucapkan kalimat itu dengan santai.

Hatiku terasa sedingin es saat melihat Edy menggendong Viny dengan hati-hati dan melangkah keluar.

Aku tidak sanggup bertahan lagi dan benar-benar pingsan.

Di rumah sakit ….

Begitu melihatku sadar, punggung Edy yang sejak tadi tegang sedikit mengendur.

Dia mengulurkan tangan, refleks ingin menyentuh dahiku untuk memeriksa suhu tubuh. Aku memalingkan kepala dan menghindarinya tanpa menunjukkan apa-apa.

“Bukankah kaki Viny terkilir? Kamu tidak pergi melihatnya dan malah datang ke sini?”

Edy langsung menarik tangannya. Dia terkekeh sinis, “Gadis itu pengertian. Dia malah terus mengomeliku karena tidak datang ke sini.”

“Tetapi Mina, jika mau pura-pura pingsan, pilihlah tempat yang tepat. Setelah dibawa pergi, kamu meninggalkan kekacauan yang harus dibereskan. Orang-orang yang tidak tahu apa-apa bisa mengira Viny melakukan sesuatu. Gadis itu masih muda, mana sanggup menghadapi semua omongan orang?”

“Siapa yang tidak tahu kamu dulu pernah jatuh dari tebing setelah talinya terlepas dan sama sekali tidak terluka? Sekarang hanya tertimpa lampu kecil saja pingsan, siapa yang akan percaya?”

“Ibuku sampai mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu, dan sekarang kamu masih ....”

Nada bicaranya penuh sindiran. Jelas sekali dia masih menyimpan dendam atas kejadian itu.

Aku hanya menarik sudut bibirku, tidak berniat menjelaskan apa pun.

Edy merasa seolah telah menemukan kelemahanku dan kembali mengejek, “Mina, aku benar-benar tidak menyangka. Demi menarik perhatianku, kamu bahkan sampai tega diam-diam mengutak-atik lampu itu.”

Aku tertegun ….

Dia berdiri dan melirikku dengan tatapan meremehkan, “Selama kamu bisa menerima Viny, demi hubungan kita selama 7 tahun, aku bersedia tetap menikah denganmu. Tetapi kalau kamu terus bermain tipu muslihat, semuanya jadi tidak menarik lagi.”

Aku terbatuk pelan. Suaraku terdengar sangat kecil di kamar yang sunyi.

“Siapa bilang aku mau menikah denganmu?”

Ekspresi Edy membeku. Dia hendak mengatakan sesuatu tetapi ponsel di sakunya berdering.

“Tuan Cullen, gawat! Kecelakaan di toko gaun pengantin diam-diam direkam orang yang lewat dan videonya sudah diunggah ke internet. Sekarang masuk trending topic. Para netizen mengecam Nona Viny.”

“Mereka menyebutnya pelakor. Bahkan ada yang memperbesar foto wajahnya ....”

Setelah menutup telepon, wajah Edy terlihat panik. Dia menoleh kepadaku, “Mina, aku akan memberimu kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Bantu Viny mengklarifikasi masalah ini di internet.”

Sampai di titik ini, aku hanya merasa ironis.

“Klarifikasi? Semua yang ramai dibicarakan di internet adalah fakta. Apa yang harus kuklarifikasi? Haruskah aku mengklarifikasi bahwa sebenarnya dirikulah pelakornya?!”

Ekspresi Edy seketika menggelap.

“Viny baru saja lulus. Bagaimana bisa kamu tega membiarkannya menjadi sasaran perundungan di internet?”

“Jangan merasa paling suci dan paling benar. Selama membuat pernyataan bahwa kecelakaan lampu itu sengaja diatur olehmu dan kamu juga yang lebih dulu cari masalah, tidak akan ada lagi yang menyalahkannya.”

Edy mengambil ponsel di meja dan menyerahkannya padaku. Suaranya mengandung peringatan, “Aku tidak ingin masalah ini sampai ke telinga Nenek. Usianya sudah lanjut, dia tidak kuat menghadapi tekanan.”

Aku terdiam cukup lama, tenggorokanku terasa kering. Aku menerima ponsel itu dan mulai mengetik satu per satu.

Tatapan Edy terus tertuju kepadaku.

Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya diam. Matanya dipenuhi emosi rumit yang tidak bisa kupahami.

Setelah selesai mengetik dan menekan tombol kirim, aku menyerahkan ponsel itu dengan wajah pucat.

Kemudian Edy berdiri, mengusap puncak kepalaku, lalu pergi dengan puas. Dia mengira aku akan terus-menerus mengalah demi Nenek.

Sayangnya, dia salah ….

Pesan yang baru saja kukirim adalah tanggal pernikahanku dengan pria itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 10

    Malam begitu sunyi ….Suaraku tidak keras, tetapi setiap katanya terdengar tegas.Di sampingku, Sean menggenggam erat tanganku. Aku bisa merasakan tangannya sedikit gemetar ….Karena terlalu bahagia.“Cukup sampai di sini. Kami berdua tidak akan menemanimu lagi.”Saat aku berbalik, tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari belakang. Entah sejak kapan Viny muncul di sini.Dia mengenakan seragam yang biasa dipakai para wanita pendamping minum di tempat hiburan malam. Riasannya tebal dan mencolok, sama sekali tidak terlihat seperti gadis polos dan pemalu yang dulu.Dia menunjuk ke arahku, nyaris kehilangan kendali.“Mina, semua ini gara-gara kamu! Kalau bukan karenamu, mana mungkin Edy meninggalkanku?”Aku mengangkat bahu, merasa semua ini begitu konyol.“Oh, kukira kamu sudah mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan. Seharusnya kamu sudah puas.”Suara Viny tiba-tiba meninggi. Dia menunjuk Edy dengan penuh kebencian, “Setelah kamu pergi, dia seperti orang gila. Tidak mau makan ata

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 9

    Beberapa hari berikutnya, aku mendengar beberapa kabar besar yang terjadi di Kota Brooke.Di pantry kantor, orang-orang berkumpul sambil bergosip.“Kalian sudah dengar?”“Presdir Grup Cullen akhir-akhir ini seperti kehilangan akal. Tidak datang ke kantor, tidak mengurus pekerjaan, tidak makan dan minum. Setiap hari hanya menghabiskan waktu di klub malam atau bar dalam keadaan linglung. Tetapi dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk diam melamun.”“Kamu tidak tahu? Itu karena tunangannya kabur. Dia memang pantas mendapatkannya!”“Wanita kesayangannya itu hampir gila. Siang malam tidak bisa bertemu dengannya, tetapi juga tidak berani mengeluh. Katanya dia bahkan tidak mau pergi dari rumah Keluarga Cullen dan bersikeras ingin menikah dengannya. Tetapi malah dilempar ke jalan begitu saja oleh para pengawal. Benar-benar seru ….”Aku hanya tersenyum mendengar semua itu. Tidak lama kemudian, aku pun melupakannya.Sepulang kerja, aku membuat sup penawar mabuk dan sengaja berangkat tepat waktu

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 8

    Saat kami berpapasan, Edy tiba-tiba menarik ujung bajuku dengan lembut. Seolah sedang menyentuh sesuatu yang rapuh dan mudah hancur.Matanya hanya dipenuhi sikap obsesif, “Tetapi Mina, aku mencintaimu! Aku harus bagaimana? Bagaimana dengan masa depan kita?”Mendengar itu, aku hanya merasa lucu.“Edy, menurutmu setelah bertahun-tahun ini masih ada cinta di antara kita?”“Apa kamu masih ingat? Aku pernah bilang, barang yang sudah disentuh orang lain, membuatku merasa kotor.”“Sejak pertama kali kamu berselingkuh demi membalas dendam kepadaku, aku sudah bersumpah, seumur hidup ini tidak akan pernah memaafkanmu.”Urat terakhir kewarasan di mata Edy akhirnya putus. Yang tersisa hanyalah kekacauan merah di matanya.“Aku ingin kamu mengatakannya. Katakan bahwa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, dan aku akan pergi!”“Mina, katakan!”Aku menghentikan langkah dan menatapnya lurus. Setiap kata kuucapkan dengan jeda yang jelas.“Edy, aku sudah tidak mencintaimu.”Setelah mengucapkan kalimat itu, a

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 7

    6 bulan berlalu begitu saja.Cuaca di Kota Pero cukup nyaman. Aku membawa Lisa kemari untuk mengembangkan bisnis dari nol dan mendirikan perusahaan milikku sendiri.Sean selalu mengutamakan keinginanku, bahkan sangat memanjakanku hinggga rasanya jika aku meminta bintang, dia tidak akan memberiku bulan sebagai gantinya.Lama-kelamaan, semua kejadian di Kota Brooke mulai kukubur jauh di dalam ingatan.Sampai hari di mana aku bertemu lagi dengan Edy ….Saat itu aku baru saja selesai membahas sebuah kerja sama bisnis.Entah bagaimana, dia berhasil mengetahui keberadaanku dan sudah menunggu di depan kafe, dengan sikap seolah-olah akulah yang telah mengkhianatinya.Selama ini, setiap kali aku tidak mau menemuinya, dia bahkan mengejarku sampai ke tempat Nenek dirawat.Katanya dia sudah berkali-kali diusir, tetapi tetap tidak peduli dengan harga dirinya.Namun kali ini, tatapanku begitu tenang.“Tuan Cullen, mari kita bicara.”Aku baru sadar, waktu memang sesuatu yang luar biasa, mampu menyemb

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 6

    Keramaian dan ucapan selamat di seluruh ruangan terhenti seketika.Di bawah tatapan semua orang, aku menatap Edy dengan tenang.Dia terlihat berantakan dan marah. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.Wajahnya yang biasanya dingin, tenang, dan sulit ditebak kini dipenuhi kepanikan, kegelisahan, serta ketidakpercayaan.Aku menggandeng tangan pria di sampingku dan tersenyum dengan anggun.“Terima kasih Tuan Cullen sudah jauh-jauh datang kemari. Dengan restu Anda, kami pasti akan hidup bahagia sebagai suami istri.”Dia masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak ingin berbicara lagi lalu berbalik dan pergi.Asistenku, Lisa, maju selangkah dan berdiri di hadapan Edy.“Presdir Cullen, ini adalah hari bahagia Nona Russel. Jika tetap ingin membuat keributan seperti ini, Anda hanya akan membuatnya malu!”Punggung Edy tetap tegak. Suaranya terdengar berat, “Malu? Tunanganku menikah dengan pria lain tanpa memberitahuku. Siapa yang sebenarnya dipermalukan?”Lis

  • Biarkan Aku Menikmati Momen Ini   Bab 5

    Edy membeku di tempat.Tatapannya kosong, seolah jiwanya meninggalkan tubuh dan yang tersisa hanya raga tanpa nyawa.Suara nyaring temannya masih terngiang di telinga.“Kak, sebenarnya apa yang terjadi antara dirimu dan Kakak Ipar?”“Jika bukan karena melihat sendiri dia menikah dengan orang lain, aku benar-benar tidak akan percaya!”“Yang menikahinya adalah Tuan Muda Keluarga Velloz! Kekuasaan dan pengaruhnya luar biasa, kelihatannya dingin tetapi ternyata sangat lembut. Aku sampai tidak berani bernapas terlalu keras di depannya ....”Viny yang ada di sampingnya tiba-tiba menyela dengan nada manja, “Edy, Kak Mina benar-benar hebat. Demi membuatmu panik, dia bahkan sampai menyuap begitu banyak orang untuk ikut berakting. Dia benar-benar memainkan trik tarik-ulur denganmu!”Ujung telepon hening sesaat, lalu suara temannya langsung meledak marah.“Edy, aku memberitahumu karena menganggapmu sahabat. Kalau kamu mau terus mendengarkan hasutan wanita itu, terserah!”“Aku sudah mengirim alama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status