"NO—Nona!" Arka mundur satu langkah lagi, tangannya refleks melindungi kancing kemejanya sendiri. "Saya, saya belum pernah—maksud saya, di kantor—belum pernah—" Aku nyaris tertawa melihat wajahnya yang merah sampai ke telinga. Nyaris. Yang keluar hanya senyum kecil yang kutahan setengah mati. Dia menatapku, matanya penuh kepanikan campur sesuatu yang mirip pasrah, lalu, entah dapat keberanian dari mana, tangannya bergerak ke kancing teratas. "Nona," katanya, suaranya bergetar tapi mencoba terdengar tenang, "ajarin saya, ya?" "HAHAHA..." Aku tidak bisa menahan tawa kali ini. Keluar begitu saja, pendek tapi jujur, suara yang bahkan asing di telingaku sendiri. "Maksud saya," kataku, berusaha mengatur napas, "saya mau lihat ukuran baju kamu. Asisten pribadi direktur itu cerminan saya sebagai direktur. Kamu harus pakai yang pantas." Wajahnya, yang tadinya sudah merah, sekarang terlihat seperti mau meledak. "Saya kira Nona..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya, memilih menunduk dalam
Last Updated : 2026-10-07 Read more