INICIAR SESIÓN"Nama?" "Arka. Arka Biru." "Kamu salah ruangan." "Saya tau, Bu. Tapi boleh saya duduk lima menit aja?" Satu kesalahan sistem. Keputusan sepihak. Dan Keira Victory Adiwangsa, direktur muda yang bahkan ditakuti ayahnya sendiri, tiba-tiba punya asisten pribadi baru, anak panti asuhan yang bahkan tak mampu membeli sepatu kerja yang layak.
Ver más"Pak Hendra Wirawan menemui Tuan Besar sore tadi," kata Bu Minah, suaranya pelan di telepon, seperti biasa kalau melaporkan sesuatu yang dia tahu seharusnya tidak dia dengar. "Bawa anaknya juga. Alexander."
Aku duduk diam di kursi kerjaku, pena berhenti di tengah tanda tanganku sendiri. "Ngobrol soal apa?" "Saya cuma kebagian nganterin kopi, Nona. Tapi sempat denger kata 'kerja sama jangka panjang' sama 'mempererat hubungan dua keluarga'." Mempererat hubungan dua keluarga. Dalam kamus Adiwangsa, itu bukan metafora bisnis. Itu proposal. "Anaknya ikut duduk? Atau cuma menunggu di luar?" "Duduk, Nona. Di sebelah Tuan Besar. Disuruh senyum terus, kayaknya." Bu Minah berdeham. "Ganteng, sih, anaknya." "Saya tidak bertanya soal itu." "Siap, Nona. Maaf." "Terima kasih, Bu Minah. Seperti biasa, ini di antara kita saja." Aku menutup telepon dengan tenang. Sangat tenang. Aku bahkan menyelesaikan tanda tanganku, dan baru sadar setelahnya bahwa garisnya miring sebelah, kesalahan yang tidak pernah kubuat dalam lima tahun terakhir. Sarah mengintip dari pintu. "Nona, ada yang perlu—" "Tidak ada. Pulang saja, Sarah." Pintu tertutup. Barulah aku bisa menghela napas dengan bebas. Dijodohkan. Aku. Keira Victory Adiwangsa, direktur termuda dalam sejarah keluarga ini, yang belum pernah sekali pun pacaran seumur hidup, akan diserahkan seperti satu paket merger. Aku tidak boleh panik. Panik adalah variabel yang tidak efisien. Pukul sebelas malam, di tempat tidur, aku mencari nama Alexander Wirawan di internet. Dua puluh delapan tahun, lulusan luar negeri, ketua asosiasi pengusaha muda, hobi golf, tujuh foto di majalah bisnis dengan senyum yang identik di semuanya. Tidak ada satu pun fakta yang bisa kujadikan alasan untuk menolaknya. Itu justru masalahnya. Kalau dia punya cacat, aku bisa membantah dengan data. Tapi laki-laki yang sempurna di atas kertas. Pukul dua dini hari, aku duduk di lantai apartemen dikelilingi ribuan keping lego, menyusun menara setinggi satu meter dengan tangan yang tidak mau berhenti bergerak. Menara itu roboh dua kali. Aku membangunnya lagi dua kali. Itu satu-satunya hal di hidupku malam itu yang masih bisa kuperbaiki. Ayahku tidak pernah memaksa dengan suara keras. Dia memaksa dengan cara yang lebih halus: menyiapkan semuanya, lalu bertanya "kamu setuju, kan?" dengan nada yang tidak memberi ruang untuk jawaban lain. Aku pernah melihatnya melakukan itu pada dewan komisaris, pada seorang menteri, dan sekali pada pemilik gedung ini. Tidak ada yang pernah menang. Dua puluh lima tahun aku belajar cara untuk tidak menjadi yang berikutnya. Tapi sampai saat ini aku belum menemukan caranya. - Pagi harinya, wajahku di cermin lift terlihat sempurna. Tidak ada yang tahu bahwa di balik blazer gelap itu, pikiranku terbagi dua hal. Separuh menyusun pertanyaan wawancara untuk tiga kandidat program magang eksekutif. Separuh lagi menyusun skenario bagaimana menolak dijodohkan tanpa membuat ayahku murka di depan mitra sepenting Wirawan Group. Sejauh ini ada tiga skenario. Skenario satu: pura-pura sakit parah. Ditolak. Ayahku akan mengirim dokter terbaik se-Asia. Skenario dua: pura-pura sudah menikah diam-diam. Ditolak. Ada catatan sipil, dan ayahku punya kenalan di sana. Skenario tiga: kabur ke Islandia. Ditolak. Aku benci dingin. "Nona, kopinya," kata Sarah. "Terima kasih." "Nona, itu kopi kedua yang Nona diamkan sampai dingin." Aku menatap dua cangkir di mejaku. Benar. "Peserta pertama datang pukul sepuluh," lanjut Sarah hati-hati. "Ruang rapat sudah saya siapkan. Mapnya di meja." "Saya tahu." "Nona yakin tidak mau ditunda?" "Saya tidak pernah menunda wawancara." Aku membuka map berisi tiga nama itu, membaca halaman pertama tiga kali tanpa menyerap satu kata pun, lalu pindah ke ruang rapat dan duduk di kepala meja dengan postur yang kuharap terlihat seperti seseorang yang hidupnya baik-baik saja. Pukul sepuluh, pintu ruang rapat terbuka. Yang masuk bukan salah satu dari tiga nama di map-ku. Tinggi, rambut hitam ikal sedikit berantakan seperti baru disisir pakai jari, kemeja putih dengan lipatan setrika yang jelas dikerjakan terburu-buru. Dia berdiri di ambang pintu, menatap ruangan ini dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan terintimidasi. Satu tangannya memegang map plastik yang sudah diremas terlalu kuat. Aku menatapnya lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar mengecek kehadiran kandidat. Wajahnya tidak ada di map mana pun yang kupegang. Tampan. Aku mengakuinya dalam hati, murni sebagai observasi, bukan penilaian personal. Alexander Wirawan, dari foto yang pernah kulihat di majalah bisnis, juga tampan dengan caranya sendiri: rapi, terpoles, seperti produk yang sudah melewati quality control keluarganya. Tapi wajah di depanku ini punya sesuatu yang tidak bisa dipoles. Mata bulat yang hangat, senyum gugup yang hampir muncul tapi ditahan, dan satu lesung samar di pipi kiri yang muncul sekilas lalu hilang. Sesuatu yang lebih mentah, lebih nyata, dan entah kenapa jauh lebih sesuai seleraku daripada wajah mana pun yang pernah disodorkan padaku lewat perjodohan. Aku langsung membenci diriku sendiri karena memikirkan itu di tengah jam kerja. Dia masih berdiri di pintu, belum masuk sepenuhnya, seolah ragu apakah dia salah tempat atau salah waktu. Matanya menyapu ruangan: meja panjang, kaca setinggi langit-langit, kota di bawah sana yang terlihat seperti maket. Lalu matanya bertemu mataku, dan dia menelan ludah cukup keras sampai aku bisa mendengarnya dari ujung meja. "Ini..." katanya, suaranya agak tersekat, "benar ruang interview?"Jumat malam, pukul delapan kurang sepuluh, lantai lima puluh sudah hampir kosong. Hanya lampu ruanganku dan lampu meja asisten di luar yang masih menyala. "Arka. Masuk. Tutup pintunya." Dia berdiri di ambang pintu sambil memeluk dua bungkus nasi goreng yang jelas baru dibeli dari gerobak di bawah, uapnya masih mengepul di balik plastik. "Maaf, Nona. Saya belum makan dari siang, jadi saya beli dua. Satu buat Nona, kalau mau." "Saya tidak makan nasi goreng gerobak." "Siap. Berarti dua-duanya buat saya." "Taruh di meja." Dia menaruhnya. Aku mengambil satu bungkus tanpa melihatnya dan menyimpannya di laci, jauh lebih cepat dari yang seharusnya untuk seseorang yang tidak makan nasi goreng gerobak. "Rapat evaluasi," kataku. "Tidak lama." "Jam delapan malam?" "Jam rapat paling efisien. Tidak ada yang mengganggu." Dia duduk di kursi seberang mejaku dengan punggung lurus. Aku menarik napas. "Minggu malam, jam tujuh, di rumah ayah saya. Selain ayah saya dan Bu Minah, ada s
Dia masih berdiri mematung, mulutnya setengah terbuka seperti mau protes tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Teh di cangkirku yang tadi dia minum masih tersisa setengah, dan entah kenapa aku tidak ingin menyingkirkannya. "Nona serius?" "Saya tidak pernah bercanda soal keputusan penting." Aku menyandarkan punggung ke kursi, mencoba terdengar setenang mungkin meski jantungku sendiri berdetak lebih cepat dari biasanya. "Kemarin kita kefoto di butik. Ayah saya lihat." "Terus?" "Terus ayah saya nyuruh saya bawa pasangan saya pulang. Secepatnya. Subuh tadi saya telepon balik dan menawar waktunya jadi Minggu malam, bukan malam ini." Dia menatapku lama, mencerna kalimat demi kalimat, lalu matanya melebar seperti baru menyambungkan semua titik yang belum sempat dia pikirkan. "Jadi saya 'kekasih' Nona... gitu aja?" "Lebih rumit dari itu." Aku memilih kata-kataku hati-hati. Aku belum siap menjelaskan soal Wirawan, soal pertunangan yang sedang disusun diam-diam di balik p
Dia tidak langsung menjawab. Cangkir di tangannya berhenti di udara, lalu perlahan diletakkan ke meja, sangat pelan, seolah cangkir itu bisa pecah kalau dia bernapas terlalu keras. "Nona... Nona bicara soal apa?" "Kebakaran di panti asuhan. Enam tahun lalu." Aku menatapnya lurus, tidak berniat melunakkan kalimatku. "Katanya kamu saksi kunci. Tapi ada juga yang bilang kamu pelakunya." Wajahnya berubah. Bukan marah, bukan panik, sesuatu yang lebih berat dari keduanya, seperti beban lama yang baru saja diangkat kembali dari tempat yang sudah lama dia kubur. Untuk sepersekian detik, aku bertanya-tanya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, apakah aku terlalu frontal. Tapi dia tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Saya bukan sedih karena Nona curiga. Jadi jangan ngerasa bersalah." Dia menarik napas. "Api itu tiba-tiba muncul, Nona. Dan ngerenggut nyawa orang yang ngurus saya sejak bayi." Dia menatap jendela, bukan aku, saat melanjutkan. Jari-jarinya meremas lip
Sarah datang pagi-pagi sekali, sebelum jadwal Arka tiba, wajahnya serius dengan map tipis di tangan.Aku sudah ada di kantor sejak pukul enam. Tidurku semalam terdiri dari empat jam setengah, dengan satu mimpi buruk tentang ayahku mengirim fotoku ke semua grup WhatsApp keluarga besar.Aku sudah membaca ulang laporan kuartal tiga kali dan tidak ingat satu angka pun."Nona, saya nemu sesuatu." Sarah menutup pintu rapat-rapat sebelum melanjutkan, bahkan memutar kuncinya. "Arka Biru. Nggak ada orang tua, dari bayi di Panti Kasih Bunda."Sampai sejauh itu, bukan hal yang mengejutkan. Aku sudah menduganya dari jawaban dia kemarin. Tapi Sarah belum selesai."Enam tahun lalu, panti itu kebakaran. Satu pengasuh meninggal." Dia menurunkan suaranya lebih lagi. "Dan, Nona... sepertinya Arka yang dituduh jadi penyebabnya." Aku diam, mencerna kalimat itu lebih lama dari biasanya."Dituduh siapa?""Sebagian warga sekitar. Tidak ada putusan pengadilan, kasusnya menggantung begitu saja. Tapi di klip












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.