Sejak hari itu, kondisi Ibu seperti linglung.Apa pun yang dia lakukan, selalu membawa guci abuku.Saat tidur, guci itu dipeluknya erat.Saat makan, dia juga selalu menyiapkan satu set alat makan di seberangnya.Di meja makan, Ibu mengambil sepotong besar daging kecap dan dengan hati-hati meletakkannya di piring keramik yang ada di depan guci abuku.“Mina, ini Ibu masak sendiri. Coba kamu icip. Ibu nggak tahu kamu suka atau nggak.”Jiwaku melayang di udara. Melihat potongan daging yang berminyak itu, aku bergumam pelan,“Lambungku kurang sehat. Aku nggak bisa makan yang terlalu berminyak.”Usai aku bicara, tubuh Ibu seketika menegang.Seolah-olah mendengar sesuatu, dia mengambil sendok, menyingkirkan daging itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.Kemudian, sambil menangis, dia mengambil beberapa piring sayuran yang paling ringan dan memindahkan satu per satu ke depan guci abuku.“Iya, iya... nggak makan yang berminyak. Ibu ganti dengan yang lain...”Ayah berdiri di samping dan memandan
Leer más