Short
Saat Aku Mati, Barulah Mereka Menyadari Keberadaanku

Saat Aku Mati, Barulah Mereka Menyadari Keberadaanku

By:  VeliaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku sudah bereinkarnasi sepuluh kali dan setiap kali mati mengenaskan hanya karena keberadaanku begitu tak berarti. Jadi, di kehidupan kali ini, aku memutuskan untuk berhenti berjuang dan fokus menunggu kematian. Saat berusia lima tahun, aku diculik. Aku langsung pasrah, berbaring diam, bahkan sekalian melumuri tubuhku dengan lapisan kapur putih. Para penculik mengira mereka sudah membunuh dan langsung ketakutan hingga menyerahkan diri ke polisi. Saat polisi menemukanku, aku sedang berbaring di atas troli di depan pintu kamar mayat. Aku bahkan sempat melambaikan tangan kepada petugas yang bertugas mengurus jenazah, “Bisa didorong lebih cepat? Aku mau buru-buru bereinkarnasi.” Di usia tujuh belas tahun, akhirnya orang tua kandungku menemukanku. Dalam perjalanan pulang ke keluarga kaya itu, aku menolak duduk di kursi dan malah dengan terampil masuk ke bagasi mobil. Ibuku menangis tersedu-sedu dari balik celah bagasi, “Anak ini pasti sudah banyak menderita. Bagaimana bisa dia sampai berbaring di tempat seperti itu?” Aku memejamkan mata dan menjawab dengan nada yang sudah mati rasa, “Nggak apa-apa. Lagipula hidupku akan berakhir sebentar lagi. Tempat sempit ini malah cocok untuk menunggu mati.” Ayahku langsung memukul setir dengan keras, “Jangan bicara sembarangan! Setelah kembali ke Keluarga Leon, sekalipun langit runtuh, kami yang akan menopangnya untukmu, mana mungkin kamu mati?” Namun, begitu sampai di rumah dan baru saja naik ke lantai dua, putri palsu itu tiba-tiba pura-pura terpeleset, lalu menerjang ke arahku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Putri palsu pura-pura terpeleset, lalu menerjang ke arahku, berencana mendorongku ke lantai bawah.

…

Merasakan tubuhku kehilangan pijakan, aku sekalian memejamkan mata dan dengan tenang dan menunggu kematian.

Tapi malah terdengar ‘bruk’.

Ternyata dia sendiri yang salah menerjang. Kakinya menginjak ruang kosong dan tubuhnya langsung terjatuh, lalu menggelinding menuruni tangga.

Dengan begitu, aku berhasil menghindari rencana Clara untuk mendorongku sampai mati.

Aku membuka mata dan menatap tangan yang kini kosong, lalu mengangkat bahu.

Sayang sekali, aku belum mati.

Dari bawah terdengar tangisan Clara yang memilukan.

Aku tidak memedulikannya. Aku berbalik dan mencari tempat yang bagus untuk menyembunyikan diri dan menunggu kematian dengan tenang.

Setelah berkeliling, pandanganku tertuju pada saluran ventilasi di atas kamar mandi yang pintunya belum tertutup rapat.

Gelap, sempit dan terbuat dari lembaran besi.

Benar-benar seperti peti mati yang sempurna.

Aku dengan cekatan memanjat masuk, menangkupkan kedua tangan di atas perut, lalu menutup mata dengan puas.

Di bawah, tangisan Clara mengundang seluruh anggota keluarga.

“Huhu... Kakak bilang, selama dia ada di sini, aku nggak akan punya tempat di keluarga ini. Dia bahkan sengaja mendorongku sampai jatuh dari tangga!”

Ayah, ibu dan kakak laki-laki bernama Chandra murka. Mereka semua bergegas naik ke lantai dua untuk mencariku dan meminta pertanggungjawaban.

Mereka menggeledah setiap kamar. Pada akhirnya, Chandra menendang pintu toilet hingga terbuka.

Sorot senter menyinari saluran ventilasi.

Menerangi tubuhku yang terbaring kaku di dalamnya.

Suasana mendadak hening.

Tangisan Clara berhenti seketika, seperti suara ayam mainan yang lehernya mendadak dicekik.

Ibu menunjuk ke atas dengan jari gemetar.

“Kamu tadi bilang... dia yang mendorongmu jatuh?”

Wajah Clara berubah pucat, sampai-sampai lupa menangis.

Namun, reaksinya sangat cepat. Dia langsung merosot ke pelukan ibu dan menangis semakin keras.

“Pantas saja waktu aku mau menyapa Kakak, dia malah menghindariku.”

“Tadinya aku ngggak akan jatuh. Tapi begitu aku berdiri, tiba-tiba terdengar suara dari langit-langit... aku kira ada hantu.”

“Aku ketakutan, lalu kakiku terpeleset dan jatuh. Jadi aku salah mengira Kakak yang mendorongku.”

Dia mencengkeram pakaian ibu.

“Jangan-jangan Kakak nggak suka padaku dan sengaja menakut-nakutiku supaya aku pergi?”

Begitu mendengarnya, Chandra langsung menatapku tajam dari dalam saluran ventilasi.

“Mina! Ada kamar bagus, kok malah bersembunyi di saluran ventilasi seperti tikus?”

“Menurutku, kamu memang sengaja bersembunyi di tempat seperti ini untuk menakut-nakuti Clara dan membuatnya jatuh dari tangga!”

Aku membuka mata sedikit dan menatap mereka dengan tatapan kosong.

“Oh, maaf. Aku nggak tahu kalau berbaring di sini juga bisa membuatnya takut.”

“Kalau begitu, aku masuk sedikit lebih dalam dan tidak bersuara. Apa akan lebih baik?”

Aku bergeser lebih jauh ke dalam. Punggungku membentur lembaran besi dan menimbulkan bunyi gedebuk pelan.

Suara itu benar-benar membuat ayah murka.

Entah dari mana, dia mengambil tongkat golf dan menghantam bagian luar saluran ventilasi dengan keras.

“Mina! Selama tujuh belas tahun Clara tinggal di rumah ini, sehelai rambutnya pun nggak pernah terluka!”

“Kamu baru pulang, rumah ini langsung kacau!”

Ayah meraung dengan wajah penuh emosi.

“Keluarga Leon nggak kasih kamu ranjang? Cepat keluar!”

Aku tidak keluar.

Kalaupun harus keluar, aku juga tidak tahu harus pergi ke kamar mana.

Karena mereka memang tidak menyiapkan kamar untukku.

Pada akhirnya, dua pengawal terpaksa menarikku keluar dari saluran ventilasi.

Seluruh tubuhku penuh debu, lalu aku dilempar begitu saja ke lantai ruang tamu.

Ibu menepuk-nepuk Clara yang masih ketakutan sambil menatapku.

“Pergi bersihkan dirimu. Pilih saja sendiri kamar di rumah ini.”

“Tapi kamu nggak boleh lagi menakut-nakuti Clara.”

Untuk mencegahku kembali masuk ke saluran ventilasi, mereka mengelas semua jeruji penutup ventilasi hingga tertutup rapat.

Dengan tubuh masih berlumuran debu, aku berkeliling lantai dua.

Ada banyak kamar di rumah ini.

Ruang musik, ruang kerja, ruang melukis, ruang gym, ruang ganti dan sebagainya.

Semuanya milik Clara.

Bahkan ruang penyimpanan kosong yang terletak paling terpencil di ujung lorong pun tidak bisa kupakai. Seorang pelayan melirikku dengan sinis dan berkata,

“Baru kemarin diubah menjadi ruang yoga Nona Clara.”

Aku mengangguk, menandakan mengerti.

Kalau di rumah ini tidak ada kamar untuk orang hidup, aku akan mencari tempat yang cocok untuk mengubur orang mati.

Pada akhirnya, aku membuka pintu ruang taman di halaman belakang.

Kebetulan, di sudutnya ada beberapa kotak tanaman panjang yang kosong.

Aku memilih satu yang tanahnya paling lunak, lalu berbaring di dalamnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status