LOGINAku sudah bereinkarnasi sepuluh kali dan setiap kali mati mengenaskan hanya karena keberadaanku begitu tak berarti. Jadi, di kehidupan kali ini, aku memutuskan untuk berhenti berjuang dan fokus menunggu kematian. Saat berusia lima tahun, aku diculik. Aku langsung pasrah, berbaring diam, bahkan sekalian melumuri tubuhku dengan lapisan kapur putih. Para penculik mengira mereka sudah membunuh dan langsung ketakutan hingga menyerahkan diri ke polisi. Saat polisi menemukanku, aku sedang berbaring di atas troli di depan pintu kamar mayat. Aku bahkan sempat melambaikan tangan kepada petugas yang bertugas mengurus jenazah, “Bisa didorong lebih cepat? Aku mau buru-buru bereinkarnasi.” Di usia tujuh belas tahun, akhirnya orang tua kandungku menemukanku. Dalam perjalanan pulang ke keluarga kaya itu, aku menolak duduk di kursi dan malah dengan terampil masuk ke bagasi mobil. Ibuku menangis tersedu-sedu dari balik celah bagasi, “Anak ini pasti sudah banyak menderita. Bagaimana bisa dia sampai berbaring di tempat seperti itu?” Aku memejamkan mata dan menjawab dengan nada yang sudah mati rasa, “Nggak apa-apa. Lagipula hidupku akan berakhir sebentar lagi. Tempat sempit ini malah cocok untuk menunggu mati.” Ayahku langsung memukul setir dengan keras, “Jangan bicara sembarangan! Setelah kembali ke Keluarga Leon, sekalipun langit runtuh, kami yang akan menopangnya untukmu, mana mungkin kamu mati?” Namun, begitu sampai di rumah dan baru saja naik ke lantai dua, putri palsu itu tiba-tiba pura-pura terpeleset, lalu menerjang ke arahku.
View MoreSejak hari itu, kondisi Ibu seperti linglung.Apa pun yang dia lakukan, selalu membawa guci abuku.Saat tidur, guci itu dipeluknya erat.Saat makan, dia juga selalu menyiapkan satu set alat makan di seberangnya.Di meja makan, Ibu mengambil sepotong besar daging kecap dan dengan hati-hati meletakkannya di piring keramik yang ada di depan guci abuku.“Mina, ini Ibu masak sendiri. Coba kamu icip. Ibu nggak tahu kamu suka atau nggak.”Jiwaku melayang di udara. Melihat potongan daging yang berminyak itu, aku bergumam pelan,“Lambungku kurang sehat. Aku nggak bisa makan yang terlalu berminyak.”Usai aku bicara, tubuh Ibu seketika menegang.Seolah-olah mendengar sesuatu, dia mengambil sendok, menyingkirkan daging itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.Kemudian, sambil menangis, dia mengambil beberapa piring sayuran yang paling ringan dan memindahkan satu per satu ke depan guci abuku.“Iya, iya... nggak makan yang berminyak. Ibu ganti dengan yang lain...”Ayah berdiri di samping dan memandan
Tiba-tiba aku merasa agak mengagumi Clara.Dia memang jahat, tapi sadar.Dan dia sangat memahamiku.Semua orang di keluarga itu bungkam karena ucapannya. Tidak ada satu pun yang mampu membantah.Ibu berlutut dan merangkak ke sisi tanduku. Dengan tangan gemetar, dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku.Melihat wajahku yang sudah hancur akibat tertimpa reruntuhan, ekspresi di wajah Ibu perlahan menghilang.“Ini... semua salahku.”Ayah terduduk lemas di lantai sambil menutupi wajah dan menangis tersedu-sedu.“Waktu itu Mina bilang akan terjadi sesuatu...aku kira dia cuma bercanda...”“Aku nggak pernah bermaksud membiarkan dia mati... kok bisa jadi begini...”Akhirnya, topeng kepalsuan Chandra hancur sepenuhnya.Karena malu dan marah, dia tiba-tiba mengamuk. Dia menerjang Clara, menghantamnya sampai tersungkur ke lantai, lalu duduk di atas tubuhnya dan menampar wajahnya berkali-kali.“Kamu! Semua ini gara-gara kamu, dasar wanita kejam!”Keduanya berkelahi di lorong rumah sakit.“Ema
Leher Clara dicekik sampai wajahnya memerah. Kedua kakinya bahkan sudah terangkat dari lantai dan dia berusaha meronta sekuat tenaga.Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Kakak yang paling menyayanginya justru akan membongkar semua perbuatannya di depan umum.“Kamu... asal bicara apa kamu...”“Kamu tahu?!”Ayah berdiri dan bertanya dengan suara gemetar,“Apa yang barusan kamu bilang? Ulangi sekali lagi!”“Kamu tahu semua ini?!”Ibu bersandar pada dinding sambil menatap tandu itu. Air matanya terus berjatuhan tanpa henti.Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat berlindung yang paling aman.Padahal, dia pernah berjanji bahwa meski langit runtuh sekalipun, mereka akan melindungiku.Tapi kenapa aku justru rela tidur di saluran ventilasi, di ruang taman, bahkan di bawah ranjang?“Apa yang dikatakan Mina... semuanya benar...”Ibu menoleh ke arah Clara. Bibirnya hampir berdarah karena digigit.Dia ingin berlari menghampiri Clara dan mencabik-cabiknya.Namun, saat tangannya terangkat, dia ju
Jiwaku melayang ke udara, menyaksikan semua yang terjadi di lorong.Tubuhku ditutupi kain putih, lalu didorong menuju kamar jenazah.Ucapan dokter tadi terasa seperti pisau yang menusuk hati Ibu.Dia langsung pingsan dan terjatuh ke lantai.Ayah panik menahan tubuhnya, tetapi dirinya sendiri akhirnya ikut terduduk lemas di atas lantai keramik.Dia menatap kedua tangannya, lalu tiba-tiba seperti orang kesurupan, mengangkat tangan dan menampar wajahnya sendiri berkali-kali.“Seharusnya aku pergi mengetuk pintunya! Kok aku nggak pergi mengetuk pintu itu?!”Kedua kaki Chandra langsung lemas hingga berlutut di lantai. Kepalanya berdengung hebat.“Nggak mungkin... mana mungkin dia mati?”Dia berlari ke arah tandu dan langsung menyingkap kain putih yang menutupi tubuhku.Di balik kain putih itu, terlihat wajahku yang pucat tanpa sedikit pun tanda kehidupan.Dulu, dia selalu memaki dan bilang wajahku seperti orang mati.Sekarang ketika benar-benar melihatnya, tubuhnya justru gemetar ketakutan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.