Entah sudah berapa lama aku berbaring di sana, aliran udara yang memang lemah di dalam peti kayu akhirnya benar-benar berhenti.Samar-samar, aku mendengar suara langkah kaki pelan dari luar.Tak lama kemudian, celah terakhir yang memungkinkan udara masuk ditutup rapat.Suhu di dalam peti semakin panas. Setiap tarikan napas mulai terasa seperti mengiris tenggorokan, sementara kepalaku terasa semakin pusing.Dalam keadaan setengah sadar, ingatan dari sepuluh kehidupanku sebelumnya kembali membanjiri pikiranku.Aku pernah mati-matian berteriak meminta pertolongan di tengah kebakaran, di dasar laut, bahkan di bawah reruntuhan.Namun, tidak pernah ada seorang pun yang berhenti untukku.Jadi kali ini, meski merasa hampir mati kehabisan napas, aku bahkan tidak menggerakkan ujung jariku sedikit pun, apalagi mengeluarkan suara.Aku hanya diam-diam menunggu datangnya ajal.Kupikir, kehidupan kesebelas yang konyol ini akhirnya akan berakhir.Tapi aku terbangun lagi.Bukan di alam baka, tapi malah
Ler mais