Keluarga Wicaksana akhirnya menemukanku setelah aku menyelinap pergi dari jamuan makan malam, aku sedang duduk mengobrol santai dengan Pak Wibowo, kepala pelayan mereka. Kami bahkan sudah berbincang seperti dua orang yang berteman lama.Dari sikapnya, aku tahu Pak Wibowo sudah menyukaiku."Puspita bilang dia akan membantuku membuka kafe yang menayangkan pertandingan olahraga setelah aku pensiun," ujarnya.Wajah Ibu langsung berubah muram. Ia menyeretku ke kamar tamu, lalu mengunci pintunya dari luar.Tidak ada televisi, tidak ada radio, dan tidak ada orang lain di dalam kamar. Baru tiga menit, kulitku sudah terasa meremang. Lima menit kemudian, aku menelepon layanan pelanggan sebuah hotel."Terima kasih telah menghubungi kami. Ada yang bisa saya bantu?"Begitu seseorang menjawab, aku langsung bernapas lega."Nggak perlu. Aku hanya ingin memastikan harimu berjalan dengan baik."Petugas itu terdiam sejenak. "Baik, Bu. Apakah Ibu ingin memesan kamar?""Nggak, tapi suaramu terdengar lelah.
Read more