Sambil terisak-isak dan memeluk Maya dengan erat, aku memanggil, "Maya ...."Di tengah keluarga yang dingin dan tidak waras ini, Maya adalah satu-satunya sumber kehangatan yang masih kumiliki."Jangan takut, Nikita. Malam ini para penjaga akan berganti sif. Aku akan bawa kamu melewati jalur lama kandang anjing di pagar belakang. Aku punya tabungan. Kita akan pergi ke kota lain dan nggak akan pernah kembali lagi," kata Maya.Aku menganggukkan kepala sambil menahan isak tangis.Saat malam tiba, kediaman Keluarga Cemara sunyi senyap. Aku dan Maya menyusuri bayang-bayang di sepanjang dinding dan melangkah perlahan-lahan menuju halaman belakang. Kebebasan sudah menunggu kami tepat di balik pagar itu.Namun, tepat saat aku dan Maya hampir mencapai celah di pagar, lampu sorot yang menyilaukan tiba-tiba menyala. Sorotan cahaya putih itu menahan kami di tempat. Victor dan belasan pengawal berdiri di hadapan kami, bagaikan hantu yang muncul di tengah malam."Selamat malam, Maya, Nikita," sapa Vi
Baca selengkapnya