Short
Ayah Mengubah Semua Orang yang Kucintai Menjadi Musuh

Ayah Mengubah Semua Orang yang Kucintai Menjadi Musuh

Por:  EchoCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7Capítulos
10vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Keluarga Cemara memiliki tradisi yang aneh. Setiap pria yang ingin menikahiku harus masuk ke sebuah ruangan gelap bersama ayahku untuk menjalani ujiannya. Hanya pria yang berhasil melewati ujian itu yang boleh menikah denganku. Namun, selama bertahun-tahun, aku sudah beberapa kali menjalin hubungan asmara. Anehnya, setiap pria yang keluar dari ruangan itu selalu berubah menjadi orang yang berbeda dengan tatapan penuh niat membunuh. Pacar kelimaku, Darwin, mencemooh tradisi itu. "Itu cuma cara kuno untuk menakut-nakuti orang. Aku mencintaimu dan mau menikahmu. Jangan khawatir, Sayang," janji Darwin. Setelah itu, Darwin pun memasuki ruangan itu. Namun, dia menatapku dengan penuh rasa jijik saat keluar, seolah-olah aku adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Dasar wanita jalang yang menjijikkan! Aku enggak habis pikir kenapa Keluarga Cemara masih biarkan kamu hidup!" bentak Darwin, lalu langsung menerjangku dan mencekik leherku untuk berusaha membunuhku. Aku memejamkan mata dengan putus asa. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang sebenarnya ada di dalam ruangan itu? Mengapa setiap pria yang masuk ke sana selalu keluar dengan keinginan untuk membunuhku?

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Sepuluh menit yang lalu, Darwin masih tertawa sambil mengejek ujian di ruangan gelap yang dibuat ayahku dan menyebutnya sebagai lelucon kuno. Namun sekarang, kedua tangannya mencekik leherku erat-erat, lalu menekanku ke lantai berkarpet. Aku tidak bisa bernapas dan pandanganku mulai menggelap.

"Darwin, kamu sudah gila ya? Apa yang kamu lihat di dalam sana?" tanyaku sambil berusaha mati-matian melepaskan jemari Darwin, kukuku bahkan menggores punggung tangannya hingga berdarah.

"Diam! Aku sedang melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia!" teriak Darwin dengan mata yang memerah karena merasa sangat jijik.

Darwin menghantamkan lututnya keras-keras ke perutku hingga rasa sakit yang membakar terasa meledak di sekujur tubuhku dan membuatku kesulitan bernapas. Melihatku meringkuk kesakitan dan tak mampu menjerit, dia bangkit berdiri dan menendang rusukku dengan keras dua kali. Ujung dari sepatu kulitnya yang runcing membuat pandanganku langsung menggelap.

Setelah itu, Darwin berbalik dan bergegas meninggalkan kediaman Keluarga Cemara tanpa menoleh sedikit pun.

Sementara itu, aku terbaring di lantai sambil terengah-engah untuk mencari udara dengan rasa darah memenuhi tenggorokanku.

Ini sudah kelima kalinya. Sejak aku berusia dua puluh tahun, setiap pria yang bersumpah mencintaiku sebelum masuk ke ruangan bawah tanah itu akan keluar sebagai monster yang ingin mematahkan leherku.

Saat aku baru saja berhasil bangkit dengan berpegangan pada sofa, rasa sakit yang tajam menjalar di dadaku. Ayahku, Victor, menendangku dengan brutal hingga tubuhku terlempar. Aku menghantam meja kopi marmer hingga permukaan kacanya pecah berkeping-keping.

Para pengawal di kediaman itu berdiri kaku seperti patung, tak seorang pun yang berani bergerak.

Victor melepaskan jasnya dengan tenang, lalu mengambil sebuah tongkat golf dari tas di dekatnya dan berkata dengan suara dingin, "Nikita, ini sudah kelima kalinya. Kamu kembali mempermalukan keluarga kita. Aku harus beri kamu pelajaran."

Ayunan pertama menghantam lengan kiriku. Bunyi retakan mengerikan bergema di ruang tamu yang luas dan lenganku patah.

Aku menggigit bibir dan menatap Victor dengan tajam. "Ayah ... kenapa ...."

Victor tidak menjawab, hanya terus mengayunkan tongkat itu. Selama setengah jam penuh, tongkat golf itu sudah mematahkan tiga tulang rusuk dan lenganku. Dia berdiri di atasku dan menatap diriku yang hampir tak bernyawa.

"Seret dia kembali ke kamarnya dan awasi dia baik-baik," perintah Victor sambil menerima handuk hangat dari kepala pelayan, lalu sengaja menyeka tangannya dengan pelan.

Itu adalah alasan yang selalu digunakan ayahku dan yang lainnya, yaitu aku dianggap mengalami gangguan mental.

Larut malam itu, aku terbaring di tempat tidur sambil menggigit perban untuk membenarkan kembali tulang lenganku yang patah seorang diri.

Setiap kali sebuah ujian berakhir dengan kegagalan, ayahku selalu menghukumku karena dianggap telah mempermalukan keluarga. Aku pernah bertanya-tanya apakah aku benar-benar putri kandungnya. Namun, tes DNA rahasia yang kulakukan sendiri telah membuktikan semuanya, darah Keluarga Cemara memang mengalir dalam tubuhku.

Dulu, aku mengira ayahku membenciku karena dia membenci ibuku. Namun, setelah ibuku meninggal, dia menolak setiap tawaran pernikahan dari keluarga-keluarga terpandang dan bahkan mendirikan yayasan besar atas nama ibuku. Di kalangan mafia di Newiya, dia dikenal sebagai pria paling setia dan penuh pengabdian. Hanya aku yang tahu bahwa dia sebenarnya adalah iblis.

Rasa sakit membuatku makin sulit bernapas. Dalam keadaan putus asa, aku melakukan panggilan video pada nenekku.

Begitu panggilan tersambung dan melihat wajahku, nenek langsung terkesiap dan air mata mengalir deras di pipinya. "Ya Tuhan! Kenapa dia tega melakukan ini padamu?"

Kurang dari dua puluh menit setelah nenek menutup telepon, terdengar suara decit ban dari luar kediaman. Pamanku, Markus, seorang bos mafia yang tak kalah kejam dan mudah naik pitam, mendobrak pintu depan hingga terlepas dari engselnya. Dia masuk bersama belasan pengawal bersenjata lengkap yang mengapitnya.

"Victor! Bajingan sialan! Hari ini akan kutembak kepalamu ini!" teriak Markus sambil mengarahkan pistol tepat ke wajah Victor.

Aku berpegangan pada pegangan tangga sambil menahan rasa sakit dan berharap pamanku akan membawaku keluar dari neraka ini.

Menghadapi moncong pistol itu, Victor tetap diam. Dia hanya melirik Markus dengan tatapan dingin, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu besi tebal yang mengarah ke ruang bawah tanah. "Kalau kamu memang punya nyali, masuklah."

Markus menyeringai dan mengokang pistolnya, lalu mengikuti Victor. "Mari kita lihat permainan seperti apa yang sedang kamu lakukan."

Saat pintu besi itu terbanting menutup, suasana di ruang tamu tiba-tiba sunyi senyap. Jantungku berdebar dan firasat buruk menyelimutiku.

Sepuluh menit kemudian, pintu itu kembali terbuka dan Markus berjalan keluar dengan tatapan yang telah berubah. Kemarahan dan kekhawatiran di matanya lenyap, digantikan oleh rasa jijik yang mendalam dan mengerikan. Dia berdiri di puncak tangga, lalu menatapku dari atas dengan tatapan yang sangat dingin.

Dengan mata membelalak ketakutan, aku berkata dengan pelan, "Paman ...."

Kali ini, Markus tidak menarikku ke belakang tubuhnya untuk melindungiku. Sebaliknya, tangannya langsung merenggut kalung safir di leherku dengan kasar.

Kalung safir itu milik ibuku. Hadiah terakhir yang diberikannya padaku dan dia sendiri yang memakaikannya ke leherku sebelum dia meninggal. Satu-satunya kenangan tentangnya yang masih kumiliki.

Aku menjerit karena pengait kalung safir itu menggores kulitku. Aku langsung mengulurkan tanganku dan berusaha merebutnya kembali. "Nggak! Kembalikan kalung itu!"

"Kamu nggak pantas memilikinya. Kamu nggak pantas memiliki apa pun yang berhubungan dengannya," geram Markus dengan suara yang tajam sambil menggenggam kalung itu erat-erat.

"Markus, apa yang kamu lakukan?" teriak nenek sambil bergegas menghampiri kami.

Markus mendekat ke telinga nenek, lalu membisikkan sesuatu.

Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Markus, tetapi aku melihat wajah nenek langsung pucat pasi. Dia ambruk ke kursi, lalu ekspresinya yang biasanya penuh kasih berubah menjadi penuh kebencian dan amarah. Dengan seluruh tubuh gemetar, dia berteriak sambil menunjuk ke arahku, "Bawa semuanya! Ambil semua barang ibunya! Aku nggak punya cucu yang menjijikkan seperti dia!"

Markus memberiku satu tatapan dingin terakhir. Dia memasukkan kalung itu ke sakunya, lalu meninggalkan kediaman tanpa menoleh sedikit pun. Anak buahnya pun mengikuti tepat di belakangnya.

Saat itu, rasa sakit karena kehilangan hadiah terakhir dari ibuku dan penderitaan yang ditimpakan ayahku kepadaku, semuanya menghantamku sekaligus. Aku tidak tahu berapa lama aku terbaring di lantai yang dingin. Hal berikutnya yang kusadari adalah tubuhku sedang diseret seperti karung sampah, lalu semuanya menjadi gelap.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status