LOGINRumah sakit jiwa swasta Eden semewah hotel bintang lima, tetapi suasananya tetap menyesakkan.Setiap hari, aku dipaksa menelan segenggam obat penenang dan obat-obatan itu membuat emosiku tidak peka. Aku kehilangan jejak waktu dan hampir lupa siapa diriku yang sebenarnya. Satu-satunya hal yang masih tersisa dalam pikiranku hanya rekaman kamera pengawas yang mengerikan itu.Hingga suatu hari, tiga bulan kemudian.Saat berada di ruang rekreasi bangsal yang memiliki pengawasan ketat, aku melihat seseorang melalui kaca anti peluru yang tebal. Sosok yang seharusnya mustahil terlihat itu adalah Joseph, pria dalam video itu dan cinta pertamaku yang konon telah kubunuh. Dia mengenakan pakaian rumah sakit yang bergaris-garis dan duduk di kursi roda sambil menatap ke luar jendela.Saat melihat pria itu, otakku yang dipengaruhi obat-obatan tiba-tiba bekerja dengan liar. Perasaan kuat bahwa ada sesuatu yang tidak beres membuatku pusing.Joseph belum mati?Jika begitu, siapa pria dalam video itu?Ma
Pagi itu, aku baru saja membuang sampah motel ke tempat sampah besar di luar. Saat berbalik, aku melihat Victor."Selamat pagi, putriku," sapa Victor sambil keluar dari mobil.Sebelum aku sempat berteriak, dua pengawal bertubuh kekar langsung menerjang dan membanting tubuhku ke kap mobil. Terdengar bunyi klik borgol yang dingin saat benda itu mengunci kedua pergelangan tanganku."Apa yang kalian lakukan? Lepaskan dia! Aku akan telepon polisi!" teriak pemilik motel yang bertubuh gemuk sambil berlari keluar dan membawa ponselnya."Maaf kalau sudah buat Bapak takut," kata Victor sambil menghampiri pemilik motel itu dengan anggun.Victor mengeluarkan beberapa dokumen yang terlihat resmi dari tas kerjanya, lalu menyerahkannya pada pemilik motel dan melanjutkan, "Aku ini ayahnya. Putriku menderita skizofrenia parah dengan kecenderungan melakukan kekerasan. Dia melarikan diri dari tempat penahanan dua minggu yang lalu setelah menyerang seseorang."Untuk memperkuat penjelasannya, Victor bahkan
Aku menggunakan satu lenganku yang masih bisa digerakkan untuk menopang tubuh dan berusaha menghentikan pertanyaan detektif itu. "Keluar! Aku nggak tahu apa-apa! Pikiranku nggak waras! Aku pakai obat-obatan terlarang, aku gila! Aku yang buat sendiri semua luka ini!"Aku sampai menjambak rambutku untuk membuat para polisi itu memercayai kebohonganku.Polisi itu menyaksikan aku mengamuk tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Dia mengangkat sebuah laporan dan berkata, "Sepertinya itu nggak benar, Bu Nikita. Hasil tes toksikologimu sepenuhnya bersih. Ibu nggak berada di bawah pengaruh zat apa pun dan bekas luka di tubuh Ibu jelas karena penganiayaan jangka panjang."Dia meletakkan sebuah berkas bersegel resmi di meja samping ranjangku dengan keras. "Ini surat perintah penggeledahan. Victor sedang menunggu kami di lorong. Dia akan mengantar kami ke kediamannya sekarang.""Jangan!" mohonku dengan air mata dan keringat membasahi selimut.Detektif itu mengabaikan kepanikanku dan melangkah pergi.
Aku mengucek mata, berusaha menghilangkan apa yang kulihat. Gambar-gambar yang terpampang di layar itu bagaikan pisau beracun yang menusuk-nusuk otakku. Mustahil, ini tidak mungkin terjadi."Sekarang kamu sudah lihat dengan jelas? Kamu sudah menyerah?" kata Victor dengan suara dingin yang bergema di ruangan itu, lalu mencengkeram kerah bajuku dan menampar wajahku dengan keras."Kamu seharusnya sudah berada di neraka sejak dulu, Nikita," maki Victor.Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa begitu dingin hingga menusuk tulang. Kali ini, aku tidak bergerak sedikit pun. Pipiku membengkak dan darah mengalir dari bibirku, tetapi aku tidak merasakan apa-apa. Hatiku sudah hancur berkeping-keping terlebih dulu karena kebenaran menjijikkan yang terpampang di layar itu.Aku pun memejamkan mataku dengan putus asa. Jika semua yang terlihat di layar ini nyata, berarti aku memang tidak pantas hidup. Semua orang yang menyayangiku berubah menjadi monster setelah mengetahui rahasia ini, tetapi akul
Sambil terisak-isak dan memeluk Maya dengan erat, aku memanggil, "Maya ...."Di tengah keluarga yang dingin dan tidak waras ini, Maya adalah satu-satunya sumber kehangatan yang masih kumiliki."Jangan takut, Nikita. Malam ini para penjaga akan berganti sif. Aku akan bawa kamu melewati jalur lama kandang anjing di pagar belakang. Aku punya tabungan. Kita akan pergi ke kota lain dan nggak akan pernah kembali lagi," kata Maya.Aku menganggukkan kepala sambil menahan isak tangis.Saat malam tiba, kediaman Keluarga Cemara sunyi senyap. Aku dan Maya menyusuri bayang-bayang di sepanjang dinding dan melangkah perlahan-lahan menuju halaman belakang. Kebebasan sudah menunggu kami tepat di balik pagar itu.Namun, tepat saat aku dan Maya hampir mencapai celah di pagar, lampu sorot yang menyilaukan tiba-tiba menyala. Sorotan cahaya putih itu menahan kami di tempat. Victor dan belasan pengawal berdiri di hadapan kami, bagaikan hantu yang muncul di tengah malam."Selamat malam, Maya, Nikita," sapa Vi
Rasa sakit yang tajam membangunkanku dari pingsan. Aku terbaring di halaman belakang kediaman Keluarga Cemara dengan angin malam yang begitu dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang. Burung-burung gagak di dekat air mancur mematuk luka-lukaku yang menganga, mengira aku sudah menjadi mayat.Aku tertatih-tatih kembali ke kamarku sambil bersusah payah menahan pusing, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Aku sudah muak dengan siksaan tanpa akhir ini. Aku tidak bisa terus menunggu sampai mati, aku harus menyelamatkan diriku sendiri.Setelah tunanganku yang ketiga pergi, aku pernah menghubungi polisi. Aku curiga mereka telah dihipnotis di ruangan itu, tetapi polisi justru mengirim seorang dokter yang menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda hipnosis. Para pria yang bertunangan denganku benar-benar membenciku dan kebencian mereka bukan kepura-puraan.Para tetua keluarga dan para pelayan semuanya mengatakan pada polisi bahwa aku berhalusinasi akibat narkoba. Pada akhirnya, pol







