Bayu sedang berdiri di depan jendela.Saat melihatku mendorong pintu kamar khusus itu, matanya seketika berbinar penuh kegembiraan. Dia mengira aku sudah menyerah."Rani, akhirnya kamu ....""Bayu."Aku memotong ucapannya. Hanya dengan memanggil namanya, raut wajah Bayu seketika berubah.Dia menatap tajam ke dalam mataku, napasnya memburu. Karena dari tatapanku, dia melihat emosi rumit yang sudah lama tak terlihat, emosi yang hanya dimiliki oleh seorang istri."Kamu ... kamu ingat semuanya?" Suara Bayu bergetar, kedua matanya merah.Dia terhuyung-huyung menerjang ke depan, ingin memelukku. "Rani, jarumnya sudah dicabut, 'kan? Kamu sudah ingat semuanya, 'kan?!""Ya, aku ingat semuanya."Aku menatapnya dengan tatapan tenang yang belum pernah ada sebelumnya."Aku ingat bekas luka karena melindungiku dari serigala di tengah badai salju, tapi aku juga ingat bagaimana kamu melepaskan tanganku demi Dita. Aku ingat pagar bambu yang kamu buat untukku di Ahas, tapi aku juga ingat rantai dingin y
Leer más