Setelah tusukan pertama, aku tidur dengan sangat nyenyak.Saat terbangun, teringat bahwa semalam aku tidur sendirian, hatiku justru terasa sangat tenang. Janji-janji yang dulu membuatku hancur berkeping-keping karena kesedihan, kini terdengar seperti omong kosong yang diucapkan orang lain. Tak sedikit pun perasaan dalam hatiku terusik. Pagi harinya, seorang dayang dari kediaman utama datang menyampaikan pesan sang Marquis. Batuk Dita kambuh semalam, dan aku diminta memeriksa denyut nadinya. "Kamu 'kan tabib, tahu cara merawat pasien. Kalau diurus sama kamu, aku baru tenang." Begitulah kata Bayu.Aku mendengarkan pesan itu tanpa berkata apa-apa, lalu membawa kotak obatku ke kediaman utama. Di dalam kamar, pemanas lantai membuat udara terasa begitu hangat. Bayu sedang duduk di tepi ranjang, memegang mangkuk sarang burung walet, dengan sabar meniupnya agar tidak terlalu panas.Melihatku masuk, dia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar. "Rani, periksa kondisi Dita."Sesuai perinta
Read more