Catalog
14 chapters
Pindah Rumah
Chung Ae menatap jendela kamarnya. Hari ini adalah hari terakhirnya tinggal di kamar itu. Setelah sekian lama tinggal di rumah mungilnya, keluarganya harus berpindah ke kota lain. “Aku sudah sangat nyaman disini, kenapa aku harus pindah dari kota ini?” gumam Chung Ae. Ia kemudian bangkit dan menyentuh kaca jendelanya yang cukup usang. Chung Ae dibesarkan di rumah itu, sejak lahir ia dan keluarganya sudah menetap di kota itu. “Bukankah, aku akan kehilangan teman-temanku?” gumam Chung Ae dalam hati. Tiba-tiba sang ibu membuka pintu kamarnya. “Ae, kau sudah bersiap?” tanya Seo Yeon.“Bu, kenapa kita harus pindah? Jujur saja aku sudah nyaman disini.” Keluh Chung Ae. Seo Yeon tersenyum lalu melangkah mendekat ke putrinya. “Ae, kau suda
Read more
Mimpi dan Rumah Baru
Hari masih pagi, bahkan matahari belum terlihat dengan jelas. Langit masih gelap dan udara masih sangat dingin ketika Chung Ae dan keluarganya mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam rumah. Dengan lesu, Ae membawa kardus-kardus miliknya. “Ae, semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir.” Ucap Lee Won“Aku tahu ayah, ibu sudah mengatakan hal itu berkali-kali.” Jawab Chung Ae.Lee Won membantu putrinya memasukkan barang-barang ke mobil. “Ayah, kenapa kita harus berangkat sepagi ini? Udaranya bahkan masih dingin.” Keluh Dong Jun.“Jarak kota itu agak jauh, kita harus berangkat lebih awal. Kalau kau m
Read more
Pekerjaan Paruh Waktu
Chung Ae mulai membersihkan kamarnya dan tentu saja sang ibu membantunya. Ae mengambil semua kain yang menutupi perabotan kamar itu. Ia menyapu lantainya, membersihkan semua debu, dan menata kamar itu senyaman mungkin. “Boleh aku membeli beberapa barang untuk dekorasi kamarku?” tanya Ae.“Kau mau mendekorasi kamar?” tanya Seo Yeon dengan agak terkejut. Ae terdiam sejenak, “Kenapa Ibu terkejut seperti itu? Kurasa kamar ini terlalu kuno. Entah berapa lama tidak ditinggali” ucapnya. “Itu karena, sebelumnya kau tidak pernah mendekorasi kamarmu.” Jawab Seo Yeon.“Rumah ini agak kuno, terlihat tua dan menakutkan. Akan lebih baik jika Ibu mengganti beberapa perabotan
Read more
Kedai Kopi Sunday
Chung Ae baru saja selesai dengan registrasinya ketika melihat beberapa perempuan mengawasinya dari jendela ruangan itu. Entah kenapa, Chung Ae merasa ada yang aneh dengan sekolah itu. Beberapa siswa terasa bebas sekali untuk bekeliaran di jam sekolah dan tak ada satu orang pun yang menegur mereka. Sesekali, Ae melirik mereka. Terlihat jelas sekali tatapan mata mereka yang tidak menyukai kehadiran Chung Ae. “Aku sudah merasakan ini jauh-jauh hari, jadi kenapa aku terkejut?” batin Ae. Sambil melangkah keluar, Ae memandang beberapa gadis yang masih berdiri di bepan jendela ruangan itu. “Kau berani memandangku?” seru Eun Jung.Chung Ae berhenti sambil menatap gadis berambut pirang yang mener
Read more
Memar dan Sekantung Es
Chung Ae sedang duduk di ranjangnya ketika suara ketukan aneh itu kembali terdengar. Refleks, Ae menoleh memperhatikan setiap sudut kamarnya. Tapi ia tak menemukan apapun. Ae lalu berjalan dan membuka pintu. Seperti kejadian sebelumnya, tidak ada siapapun di sana. Chung Ae kembali ke kamarnya, sambil tetap memperhatikan sekelilingnya. “Tolonglah siapapun itu, jangan ganggu aku”, ucap Ae. Sesaat setelah Ae mengucapkan itu, suara ketukan itu pun hilang. Ae semakin merasa ada yang aneh dengan rumah barunya itu. Namun begitu, ia tak ingin menceritakan ini pada siapapun dan memilih memendamnya sendiri. “Kak, kau di dalam?”, ucap Dong Jun sambil mengetuk pintu. “Ya!” seru Ae. &ldqu
Read more
Dibalik Rumah Ae
Chung Ae merasa kesal seharian karena Eun Jung terus saja mempermainkan namanya di kelas. Meski begitu, sejujurnya Ae juga tidak menyukai namanya. Kadang ia merasa namanya memang aneh dan jarang terdengar walaupun ia tahu ada maksud yang baik dari nama itu. Tepat setelah waktu pulang, Chung Ae berjalan melewati koridor kelas. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, tapi Dae Hyun tak terlihat. “Kau mencari siapa?” ucap Eun Jung yang tiba-tiba sudah ada di depannya.“Bukan urusanmu”, jawab Chung Ae.“Ah, rupanya belum cukup untuk hari ini ya? Kalau begitu aku akan senang, sampai jumpa besok”, jawab Eun Jung. Chung Ae kembali diam dan tidak ingin melanjutkan percakapan itu. Ia memilih melangkah pergi. “Kalau kau mencari Dae Hyun, tentu saja dia ada
Read more
Tamparan Keras
Chung Ae menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Setela seharian menghabiskan waktu di sekolah dan di kedai, tubuhnya terasa lelah. Padahal ia masih punya tugas untuk di kerjakan. Chung Ae menarik napas panjang, “Dae Hyun, kenapa dia peduli sekali padaku?” ucapnya. Chung Ae tersenyum mengingat kejadian di sekolah. Meskipun lututnya sakit, tapi Chung Ae tahu setidaknya ia punya satu teman yang peduli padanya. “Tapi, sampai kapan akan begini? Sampai kapan perempuan itu akan menggangguku?”, gumam Chung Ae. Chung menutup matanya sebentar untuk melepas lelah. Tak lama setelah itu, ia kembali bangun lalu mengerjakan tugas sekolahnya. “Mungkin besok aku harus mengajak Dae Hyun berkeliling sekolah, aku belum tahu banyak tentang sekolah itu”, gumam Chung Ae.***Read more
Rekan
Chung Ae agak terkejut ketika Dae Hyun mengajaknya keluar sekolah. “Kau bilang kita akan beli es krim, lalu kenapa kita keluar dari sekolah?”, tanya Chung Ae. Dae Hyun tertawa keras, “Kita memang akan beli diluar”, ucapnya. Chung Ae tersenyum lalu mengikuti langkah Dae Hyun begitu saja. “Memangnya boleh seperti ini? Di sekolahku yang dulu, kami harus membeli makanan di kantin”, kata Chung Ae.“Banyak aturan sekolah yang tidak jelas. Itulah kenapa Eun Jung dapat berbuat sesukanya”, jawab Dae Hyun. “Sebenarnya murid lain juga bisa berbuat sesuka mereka, tapi kami masih ingin bersikap seperti murid yang baik”, sambungnya. Chung Ae mengangguk. Ia juga meras
Read more
Menyukai Dae Hyun
Chung Ae sesekali menatap meja sudut dimana Dae Hyun, Yeri, dan manajer kedai sedang berbincang. Mereka terlihat sangat serius dari sudut pandang Ae. Sejujurnya, Ae juga heran kenapa Dae Hyun tiba-tiba bekerja di kedai. “Bukan karena aku kan?”, pikir Ae. “Satu cappuccino”, ucap Kwang So.“Baik, tunggu sebentar”, jawab Chung Ae sambil tersenyum.“Bukankah kita satu kelas?” Kwang So mengangguk,  “Aku duduk di depan Eun Jung”, kata Kwang So. Lagi-lagi Chung Ae mengangguk, “Kita jarang mengobrol di kelas. Senang bertemu denganmu”
Read more
Trauma
Kwang So datang pagi-pagi. Setelah berpikir semalaman ia berniat untuk bicara pada Eun Jung. Ia tidak mau hanya menjadi suruhan. Kwang So meras adirinya harus mendapat imbalan yang setimpal. Dua minggu lagi, sekolah akan kembali mengadakan seleksi olimpiade sains. Sayang sekali ayah Kwang So mengetahui hal itu, dan kali ini Kwang So tidak ingin mendengar ayahnya mengomel lagi. Ia bosan mendengar itu semua.Sesaat setelah Eun Jung masuk kelas, Kwang So langsung menemuinya. “Kau sudah dapat informasinya?” tanya Eun Jung. “Kalau aku punya informasi itu, apa yang akan kudapat darimu?” tanya Kwang  So.“Kau mau imbalan?” tanya Eun Jung.Read more
DMCA.com Protection Status