Catalog
49 chapters
Prolog
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" ucap seorang gadis dengan nada bergetar takut. Mata sipitnya menatap tajam ke arah sekumpulan pria berbaju hitam yang perlahan kian mengikis jarak dengannya. Tubuh gadis itu sudah membentur tembok, dia terjebak di sana. Tidak ada celah untuk melarikan diri. Seringaian ganjil menjadi momok mengerikan bagi si gadis. Berteriak pun akan terasa percuma, ini sudah larut malam, di saat seperti ini tidak ada satu pun orang yang akan melewati gang sempit nan gelap seperti itu. "Ahaha, kalian dengar teman-teman? Gadis cantik ini akan membunuh kita. Oh, mengapa tiba-tiba aku merasa merinding?" ledek pria berjanggut tipis yang memiliki rambut panjang terikat."Aku rela mati setelah bersenang-senang dengannya," ungkap pria lainnya yang tak kalah menyeramkan. Gelegar tawa pun terdengar. "Oh Tuhan, kumohon selamatkan aku," batin si gadi
Read more
Nama Terlarang
Fidella Agri, gadis itu menopang dagu dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya sibuk menusuk-nusuk helai white toast yang dikenal sebagai roti. Roti berselimut selai kacang itu, seharusnya sudah memenuhi isi perut Fidella. Wajahnya nampak pucat tanpa riasan, hal yang tidak biasa ia lakukan selama ini. Fidella adalah pribadi yang perfeksionis dalam segala hal, dia tidak pernah ingin tampil biasa di depan orang-orang. Oleh sebab itu, make up menjadi salah satu kebutuhan vital yang tidak boleh Fidella lewatkan dalam kesehariannya. Akan tetapi, hal itu tidak begitu ia perhatikan hari ini. Aneh, semua orang dapat merasakan adanya kejanggalan, meski Fidella tak bermaksud mengutarakan isi hatinya. Pandangan gadis itu sayu bagai sekuntum mawar yang tidak tersentuh kesegaran air belasan hari lamanya. Entah hal apa yang sedang Fidella pikirkan, yang jelas sepertinya itu cukup mengganggu. "Kau ke
Read more
The Real Loser
"Kau tahu, seseorang yang tidak bisa berkaca diri adalah pecundang sejati."                                -Sagara Affandra- Tatapan murka itu tak sedetik pun menyingkir dari mata Fidella. Rasa kesal, kecewa, dan marah berbaur jadi satu.  Kesal, saat mendengar dokter lain menggantikannya untuk mengoperasi Mr. Janson. Kecewa, pada Dr. Harold yang sudah bertindak sewenang-wenang dan menyalahi aturan. Marah, karena ternyata Sagara adalah orang yang menggantikan dirinya.  Benar-benar sial. Fidella merasa hari ini Tuhan tidak mengizikannya untuk merasa sedikit tenang.  Langkah tak sabar Fidella menunjukkan bahwa gadis itu ingin segera menuntaskan permasalahan ini dengan Sagara. Pecundang sialan itu selalu bisa membuat Fidella jadi kebakaran jenggot.  Beberapa
Read more
Terlalu Sakit untuk dimaafkan
"Maaf, semua ini memang salahku." Fidella menunduk sesal. Ia tahu kata maaf tidak akan memperbaiki keadaan. Hanya saja Fidella tetap melakukannya, setidaknya dengan meminta maaf bisa sedikit mengurangi rasa bersalah di hatinya. Fidella sedang berada di ruang kerja Dr. Harold, terletak di lantai enam belas dengan ukuran cukup luas membuat siapa saja bisa melihat pemandangan kota New York yang padat dan tidak pernah tenang. Bangunan-bangunan klasik menjulang tinggi seperti hendak menggapai langit di kawasan Civic Center Manhattan. Di sebelah utara tampaklah Broadway dan kawasan Chinatown. Beralih ke timur terdapat pemandangan indah dari sungai East dan jembatan Brooklyn yang bisa kita nikmati dengan mudah kapan saja. Semua keindahan yang bisa memanjakan mata itu sama sekali tidak memberikan hiburan apa pun untuk Fidella. Wanita itu masih berdiri di samping sofa. Memainkan jemarinya tanpa sadar, sementara Dr. Harold s
Read more
Pria Idaman
"Sudah lama?" tanya Fidella menghampiri Stevan, napasnya terdengar tak beraturan selepas berlari sepanjang jalan takut tunangannya menanti terlalu lama. "Tidak, hanya lima belas menit. Satu jam pun aku sanggup untuk menunggumu, Sayang." Stevan mulai menggombal, Fidella tersipu lantas memukul pelan dada bidang prianya. Stevan mengunci tangan mungil itu di sana, mengikis jarak antara dirinya dengan Fidella kemudian merengkuh kekasihnya erat. "Ahh, aku sangat merindukan pelukan hangat wanita manja ini," tutur Stevan, menyimpan dagunya pada puncak kepala Fidella. "Aku juga sangat merindukanmu, Honey. Kau tahu, akhir-akhir ini Sagara kembali berulah. Aku selalu dibuat kesal setengah mati olehnya," gerutu Fidella sambil mengeratkan pelukannya. Gadis itu menenggelamkan wajah lelahnya pada dada bidang sang kekasih; mencium aroma maskulin khas prianya yang teramat ia suka. 
Read more
Dilema Dua Cinta
Stevan Anderson, pria itu masih sibuk berkutat dengan segudang pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya di perusahaan San Capital Corporation, milik keluarganya. Ia menjabat sebagai manager keuangan di sana.  Pria itu perlu belajar banyak tentang berbagai ilmu dan taktik dalam menjalankan usaha, sebelum kelak menggantikan sang ayah sebagai direktur utama. Terlahir dari pasangan Sammuel Anderson dan Jenna Kirania, membuat kehidupan Stevan begitu diberkati dengan harta kekayaan yang melimpah.  Statusnya sebagai anak tunggal di keluarga besar Anderson, mau tidak mau memposisikan Stevan sebagai satu-satunya harapan untuk meneruskan bisnis yang telah dirintis kedua orang tuanya. Sejak kecil, pria muda bertalenta ini memang sudah diarahkan untuk belajar bisnis dan mengelola perusahaan.  Tidak seperti kebanyakan anak konglomerat lain yang merasa terkekang atau terbebani oleh keinginan orang tuanya. Stevan j
Read more
Ada Apa Dengan Stevan?
Fidella tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya yang akan digelar kurang lebih tiga hari lagi. Mulai dari menyewa gedung resepsi sampai menentukan tema dekorasi dilakukan oleh pihak keluarga Fidella. Stevan dan orang tuanya masih berada di Perancis; mengurus masalah pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan. Meskipun harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri, Nyonya Hara dan Reno Vinandra sama sekali tidak keberatan, terlebih ini demi kelancaran acara pernikahan putri sulung mereka. Sejauh ini semuanya berjalan sebagaimana mestinya dan terencana dengan baik. Jika dipresentasekan, mungkin persiapan pernikahan Fidella kurang lebih sudah mencapai angka 95%. Wanita itu sangat bahagia, tidak menyangka jika hubungannya dengan Stevan yang baru berjalan satu tahun terakhir ini bisa berujung di pelaminan. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi istri yang baik untuk Stevan. Kepala wanita itu sudah dipenuhi ole
Read more
Pernikahan Tak Terduga
"Aku sudah sangat merindukanmu." "Ahh, mengapa aku belum dipanggil juga? Rasanya satu menit ini sudah seperti satu jam. Waktu berjalan sangat lambat, ish, menyebalkan!" Fidella terus mendumel tak karuan, sebegitu tidak sabarnya dia menanti detik-detik terindah dalam hidupnya ini. "Aku sangat bahagia dan juga gugup, honey." Ketukan pintu terdengar sangat nyaring hingga membuat Fidella cukup terkejut akan hal itu. Nyonya Hara masuk menghampiri Fidella dengan tergesa. Wanita paruh baya yang nampak anggun dengan gaun putihnya itu memandang miris putrinya. Hatinya kian teriris melihat ekspresi bahagia Fidella.Wanita itu nampak sangat cantik menggunakan gaun pengantin panjang serta penutup wajah. Rambut sebahu yang dibiarkan tergerai membuat Fidella terlihat semakin manis. Sebuah aksesoris berbentuk kupu-kupu berwarna perak yang mengkilap semakin menambah kesan anggun pada penampi
Read more
Alasan Stevan
 "Angin tidak hanya berembus di satu tempat, Fidella. Semua akan berlalu dengan semestinya, kuatlah." -Sagara Affandra-  ***   Hai, Fidella.  Ini hari kesepuluh kita tidak saling menyapa. Seharusnya kita bertemu sekarang, berdiri di depan altar dan mengucap janji sehidup semati.  Kau pasti sangat cantik hari ini, kerugian bagiku karena tidak bisa melihat kecantikanmu itu. Membayangkannya saja sudah membuatku senang, apalagi jika aku berada di sana.  Cih, apa yang sedang aku lakukan sekarang? Memuji padahal aku sedang menyakitimu. Maaf, tolong maafkan manusia bodoh dan brengsek ini.  Aku tidak bisa menjadi mempelai priamu. Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk membahagiakanmu. Aku tidak bisa menjadi rumah untuk hatimu berpulang jika ia lelah.  Bukan a
Read more
Nikahi Aku!
Hening, tidak ada kata terucap dari keduanya setelah ucapan terakhir Sagara. Posisi duduk Fidella membelakangi Sagara, mereka berdua terlihat seperti pasangan pengantin yang sedang bertengkar. Bagaimana tidak? Penampilan keduanya pasti membuat semua orang yang melihatnya berpikir demikian. Fidella yang masih mengenakan gaun pengantin, juga Sagara yang mengenakan tuxedo hitam dengan gaya rambut tanpa poni itu cukup untuk menipu semua mata. Sepatu kulit Sagara yang mengkilap itu memunculkan bayangan sang pemilik dan seorang wanita di sebelahnya. Pria itu memang sengaja melihat bayangan dirinya dan Fidella dari sana. "Aku menepati janjiku. Jadi, berbahagialah." "Tidak ada alasan untukku bahagia saat ini," balas Fidella untuk yang pertama kalinya sejak Sagara hadir di sana. "Kenapa tidak? Sejatinya kau punya beribu kesempatan untuk bahagia setiap hari. Tergantung kemampuanmu menciptakan kebahagiaan it
Read more
DMCA.com Protection Status