Catalog
9 chapters
Prolog
"Pertemuan itu manis, sekalipun kamu tidak menginginkannya, tapi kelak kamu akan merindukannya"-Raga dan Lentera-***"Abang lihat!" Ameta menunjukkan hasil gambarnya kepada Raga. Tangannya penuh coretan, begitu juga dengan wajahnya, tapi sepertinya gadis kecil itu tampak acuh, sekalipun nanti Laila sang ibu akan memarahinya karena wajah dan tangannya yang penuh dengan coretan warna-warni.Raga diam, tak menggubris sama sekali. Ia lebih memilih menatap keluar jendela, menikmati guyuran hujan yang akhir-akhir ini sering turun membasahi bumi."Abang ishh, lihat dulu kalau Meta ngomong" rengek Ameta, tangannya yang kecil menarik ujung kaos Raga menarik perhatian kakaknya. Tapi dasarnya Raga cuek, tetap saja Raga mengabaikannya.Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Raga dan Ameta. Keduanya berbalik menatap Rahardjo dan Laila datang membawa gadis kecil yang meringkuk ketakutan b
Read more
Lentera Alenae Rinjani
Untuk kamu yang menolak cahayaku, tidak perlu menjauh, aku tau caranya untuk mundur.-Lentera Alenae Rinjani-***Seorang gadis remaja cantik dengan rambut hitam lurus sepinggang sedang duduk dikursi santai kamarnya yang terletak dilantai dua.Dinginnya malam tidak menyurutkan keinginan remaja cantik ini untuk berdiam diri ditemani keheningan yang semakin terasa. Ia sadar pada akhirnya hanya sepi dan kegelapan yang akan menjadi teman setia didalam hidupnya meski banyak orang yang mengatakan bahwa mereka tulus mencintai dan akan selalu bersamanya. Perjalanan hidup yang tidak mudah membuatnya belajar untuk tidak menitipkan hati pada siapapun.Mata dengan manik coklat dan bulu mata panjang serta lentik sedang menatap sendu bulan purnama yang bercahaya indah malam ini. Ingatannya kembali melayang kehari itu, hari dimana ia kehilangan segalanya."Ara sayang kemarilah, lihat Mama dan P
Read more
Awal Untuk Menjauh
Jika kamu lelah bertahan, maka mundur adalah pilihan terbaik. -Raga dan Lentera- *** Derap langkah kaki kecil milik Ara terdengar menuruni tangga menuju ruang makan yang sudah pasti ada mama dan papa angkatnya.  "Loh Ra, kok udah siap aja jam segini sayang?" tanya Laila pada putri angkat kesayangannya saat melihat Lentera yang sudah rapi dengan seragamnya.  "Iya Ma, mulai hari ini Ara kesekolah mau pakai sepeda." jawabnya sambil mencium punggung tangan mama dan papanya, kebiasaan Ara yang tidak bisa di ubah membuat Ameta juga ikut terbiasa. "Kenapa nggak bareng Bang Raga sama Meta pakai mobil?" tanya Rahardjo menatap Lentera penuh tanya yang kini sudah duduk dimeja makan dan menyantap roti buatan mamanya. "Nggak papa, Pa. Ara cuma mau olahraga pagi aja. Lagian juga kalau bareng Bang Raga pakai mobil sering mepet waktu, Pa sampai sekolahnya karena mac
Read more
Raga Adi Pradana
Sekeras apapun logikamu menolak, masih ada hati yang akan selalu menerima.-Raga dan Lentera-***Dengan perasaan emosi Raga berjalan menyusuri koridor sekolah lalu menaiki tangga menuju rooftop tempat ia dan teman-temannya biasa menghabiskan waktu disaat tidak ingin berada di kantin sekolahMereka bukanlah anak berandal yang selalu bolos atau tawuran. Justru mereka sebaliknya, anak yang memiliki prestasi secara akademik maupun non akademik. Tapi mereka pun bukan anak cupu. Prestasi yang mereka miliki membuat semua murid menjadi takut dan segan terutama pada seorang Raga Adi Pradana. Siswa tertampan yang memiliki sejuta pesona namun juga memiliki lidah yang sangat berbisa membuat semua murid ketar-ketir jika berhadapan dengannya. Meski begitu tidak menyurutkan para siswi untuk mendapatkan cintanya."Ga, lo kenapa sih? Masih pagi ini Ga, udah aja lo emosian, lagian Agil ke
Read more
Ucapan Menyakitkan Raga
Aku menghindar bukan karena keinginanku, tapi kamu sendiri yang menginginkannya.-Lentera Alenae Rinjani-***Perpustakaan hari ini lebih ramai dari biasanya. Banyak murid yang datang dengan berbagai urusan. Ada yang mengerjakan tugas, ada yang ingin membuang waktu luangnya dengan membaca novel yang disediakan di perpustakaan, atau bahkan ada yang datang untuk tidur karena perpustakaan memang tempat yang ramai tapi tetep terasa hening.Salah satunya Lentera. Jemari panjang nan ramping itu sibuk menari diatas keyboard dengan tatapan fokus menatap layar laptop dengan sesekali berkedip indah sambil mendengarkan instrument musik dari headset yang tersambung dengan ponsel miliknya. Mengabaikan para pengunjung lain yang pasti juga sibuk dengan urusan masing-masing.Sejak bel istirahat kedua Lentera memutuskan pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan sesuatu yang telah ia niatkan dari semalam. Dan perpust
Read more
Keputusan Lentera
Seburuk apapun masalalu, bukan sebuah alasan untuk membuatmu jatuh.-Raga dan Lentera-***"Bye, Mi" goda Ameta pada Arumi saat mereka berpisah di parkiran mobil yang disediakan oleh pihak sekolah.Arumi mengabaikan Ameta yang sengaja menggodanya ditengah hari begini, ia langsung menuju mobil jemputannya tanpa menyapa Raga dan teman-temannya. Meski Raga adalah kakak kandung sahabatnya, Ameta. Ia tidak bisa ramah pada pemuda tampan itu kareana Raga adalah penyebab Lentera selalu merasa asing dikeluarga angkatnya."Cantik kok sombong toh neng" ucap Agil sedikit keras menyindir Arumi yang telah pergi tanpa membalas senyumnya yang sudah mengering, apalagi kulit bibirnya tampak pecah-pecah karena hari yang terik dan ia juga kurang minum air putih hari ini."Ayo bang" ajak Ameta lalu masuk kedalam mobil dan duduk dikursi sebelah kemudi."Gue duluan" pamit Raga kepada ketiga sahabatnya mesk
Read more
Mencari Lentera
Menjauh terkadang kamu perlukan, saat hatimu sudah tidak mampu lagi untuk bertahan.-Raga dan Lentera-***Raga tidak tau lagi, sudah sampai dimana batas kesabarannya menunggu kepulangan Lentera. Setelah tadi Laila mengatakan jika Lentera izin pulang telat, Raga seketika kehilangan nafsu makannya. Gadis itu, semakin hari semakin seenaknya sendiri. Bersikap seolah ia adalah orang yang paling di butuhkan di keluarganya.Mungkin jika yang lain bisa di kelabuhi oleh Lentera, tapi tidak dengan Raga. Jika dalam 5 menit ke depan Lentera tidak juga pulang, Raga akan mencarinya kemanapun gadis itu pergi. Gadis yang selalu saja mengacaukan hidupnya.Raga kembali melihat jam tangan ribuan dollarnya, hadiah dari Rahardjo di ulang tahunnya ke-17. Sudah jam 15 : 45, cukup larut untuk seorang siswi SMA pulang terlambat.Raga tidak bisa menunggu lagi lebih dari ini, ia harus mencari Lentera dan menyeret gadis it
Read more
Makan Malam
Jujurlah, pada hati mu. Kadang kamu baru bisa memahami apa yang hatimu inginkan ketika kamu mulai bersikap jujur pada dirimu sendiri.-Raga dan Lentera-***Mobil Raga memasuki gerbang rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi dan kokoh. Setelah memakirkan mobilnya, Raga keluar dan melihat sepeda Lentera yang juga telah terparkir khusus di tempat sepeda, itu artinya si pemilik sudah pulang.Saat memasuki rumah Raga mendengar suara ibunya sedang bicara dengan seseorang. Raga bisa nemebak dengan siapa ibunya berbicara."Sekarang Ara bersihkan diri dulu, setelah itu turunlah untuk makan malam." suara lembut Laila sayup terdengar di telinga Raga yang berjalan masuk kedalam rumah."Iya, Ma."Lentera segera menaiki anak tangga menuju kamarnya, saat itu juga sekilas ia melihat Raga yang berjalan masuk dengan menatapnya tajam. Raga memperhatikan Lentera yang naik kelantai du
Read more
Amarah Raga
Emosi itu seperti api, yang perlahan bisa membakarmu.-Raga Pradana-*Arsi*Dengan emosi yang teredam pagi itu Raga tidak mendapati Lentera di meja makan. Gadis itu mulai sesuka hati, pikirnya."Bang, nggak sarapan dulu?!" Teriak Laila tapi diabaikan oleh pemuda itu yang terus pergi keluar rumah."Yah, Meta ditinggal Abang," ucap gadis cantik itu saat melihat Raga yang pergi tanpa menunggunya."Pergi sama, Papa aja ya sayang?" Ameta mengangguk setuju dan kembali menyantap sarapannya."Abang tu aneh, bawaannya emosi aja, apalagi kalau sama Ara," gerutu Metta.Rahhardjo dan Laila saling pandang dan mendesah pelan.Entah kapan hati Raga bisa melunak pada Ara, pikir Mereka.*Arsi*Sepanjang perjalanan Raga tidak henti-hentinya mengumpat di dalam hati, fakta yang ia tau tadi malam membuatnya ingin memaki Lentera sepuas hati.'Apa yang kam
Read more
DMCA.com Protection Status