Share

Aku Seorang Swordmaster

Aku sudah paham. 

Mungkin ini yang disebut isekai.  Aku ini murid SMA kelas dua biasa, seorang yatim piatu baru yang ditipu oleh pamannya sendiri. Alih-alih berperan sebagai wali, dia malah mengambil semua hartaku. Kemudian, anaknya yang sama sampah seperti dirinya, menindasku di sekolah.

Dia yang menyebabkan aku mati. 

Leon Wijayah, namaku sebelumnya  saat di bumi. Berbeda dengan namaku yang terkesan kuat dan berani, aku hanyalah anak dengan tubuh lemah, dan kurus. Membuat mereka gampang sekali menyiksaku

Lantas saat ini, aku masuk ke tubuh seorang anak yang sama denganku, umurnya tujuh belas tahun. Dia tertimpa cermin peninggalan leluhurnya, saat benda itu akan dipindahkan. 

Nama cermin itu Mirror of Dope. 

Akion sudah dikenal sebagai ahli pedang jenius, seorang  swordmaster termuda di seluruh benua. Walaupun wajahnya terlihat kejam, tetapi tidak bisa kupungkiri kalau wajah ini seratus kali lebih tampan dariku di bumi. 

Akion berhasil menjadi swordmaster termuda. Kemampuan yang tidak disangka-sangka terlahir dari keluarga Baron miskin pada umurnya yang ke enam belas tahun

Bahkan, aku sendiri takjub dengan prestasinya itu.

Karena itu kekaisaran dan bangsawan lain menyimpan kekhawatiran pada Keluarga Baron, khususnya Akion. 

Baron adalah gelar bangsawan yang rendah. Apalagi Baron Sanktessy bukanlah Baron dengan wilayah kekuasaan yang makmur, kaya, dan luas. Hanya dipenuhi dengan hutan kegelapan dan penuh monster

Sehingga banyak dari pihak mereka yang awalnya menjauhi keluarga Baron Sanktessy mendekat, bukan hanya untuk berteman, bekerja sama, tetapi juga untuk menghancurkan keluarga ini. 

Aku meminum kopiku seteguk. 

Wah, rasa yang luar biasa enak. Padahal waktu aku di bumi, aku tidak bisa menikmati kopi pahit ini. Mungkin, inilah rasa kejantanan yang hanya orang-orang jantan menyukainya. 

Aku tertawa dalam hati. Akan tetapi, tanpa sadar sudut bibirku terangkat sebelah. 

“Maaf, Tuan Akion. Apa aku melakukan kesalahan?“ Kesatria muda bernama Levian itu khawatir. 

“Hahah, tidak.”

Tubuhnya  merinding. Sepertinya aku tahu kenapa.

Aku melihat ke arah lain, aku lupa wajah ini menakutkan bagi mereka. Wajah yang terlalu serius. 

“Levian, kau sudah bersama denganku berapa lama?”

“Sejak Anda berumur sepuluh tahun, Tuan Akion.” jawabnya dengan tenang. 

Berarti sekarang umurnya 27 tahun. 

“Bagaimana dengan keahlian berpedangku sekarang?”

“Walaupun tetap memesona, masih ada kekurangan di dalamnya.”

Aku mengangguk. 

Baru sebulan aku di sini, aku mempelajari apa pun yang mereka berikan. Tubuh dan otak ini mengingatnya dengan baik. Namun, entah kenapa, aku selalu merasa ada yang kurang. 

“Apa yang kurang itu, Levian?” Sorot mataku berubah tajam kembali. 

Dia menelan ludah selembut mungkin, terlihat sepertinya dia tidak mau aku tahu. Dia sedikit khawatir salah menjawab dan menyebabkan aku tersinggung.

“Ketajaman serangan Anda, Tuan Muda.”

Dia ragu melirikku. 

“Serangan Anda selalu tajam sebelumnya dan kerusakan yang diberikan itu luar biasa. Bahkan, gunung pun bisa terbelah saat Anda mengayunkan pedang .”

Aku mengangkat alis karena kaget. Apa dia memang sekuat itu? 

“Dan, Anda tidak ragu-ragu dalam bertarung. Seperti kemarin ....” Dia berhenti mengatakannya, seolah takut akan responsku. 

Ya, aku tahu. Kemarin, rumah Keluarga Baron diserang oleh penyusup dan aku bahkan ragu-ragu untuk mematahkan tangannya. 

“Tenanglah, Levian! Aku tahu, aku memang ragu kemarin.”

“Tuan Akion, Anda harus ingat, banyak keluarga yang menyerang  keluarga ini. Menghancurkan seorang swordmaster seperti Tuan Muda adalah kesenangan bagi mereka.”

Aku menghela napas pendek dan memberikannya berkas yang telah kubaca. Membaca sejarah kekaisaran dan mengenal semua struktur bangsawan itu melelahkan. 

Aku tidak menyangka, makhluk sempurna sepertimu—Akion, sungguh ada. 

“Tuan Muda Akion, waktu kita hanya  tersisa kurang dari enam bulan lagi. Perwakilan dari masing-masing bangsawan akan berkumpul di kekaisaran. Jika kekuatan Anda masih seperti ini  dan mereka  tahu Anda hilang ingatan, maka serangan yang datang akan lebih parah dari kemarin.”

Aku setuju dengan itu. Bukankah mereka sekelompok sampah yang tidak mau mengakui kehebatan Akion. 

Akion, kau itu berkah. Namun, mereka memperlakukannya seperti penjahat. Sungguh sampah ada di mana-mana. 

Aku mematahkan pena dengan kesal. 

Levian hanya diam. 

**

Baik Levian maupun Bastian, keduanya sudah setuju bahwa sekarang untukku tampil di muka umum kembali. Selama ini, aku menghindari kerumunan. Aku hanya bertemu beberapa pelayan, keluargaku dan Levian. 

Berpura-pura sibuk, tetapi memang nyatanya aku sibuk, sih. 

Akhirnya, tiba waktuku muncul kembali di depan pasukan yang Akion punya. Ya, sebenarnya ini kali pertama untukku. 

Jantungku deg-degan. Bagaimanapun juga mereka adalah kesatria yang terlatih. Apakah mereka tahu aku hanya berpura-pura menjadi Akion? 

Ah, tidak mungkin. 

Aku sudah berdiri di depan mereka. Keringat yang membasahi tubuh kekar mereka sungguh menjelaskan betapa keras mereka berlatih. 

Aku memegang dada bidang Akion, dan mengaguminya tanpa sadar. Aku iri setiap kali melihat tubuh penuh bekas luka dan kekarnya. 

Ini tubuh yang sangat diimpikan di Bumi. 

“Tuan Muda, Anda harus membalas salam mereka.” Levian berbisik. 

Aku bahkan tidak sadar bahwa mereka telah mengucapkan salam padaku. 

“Salam bagi seluruh Prajurit Black Forest terhormat. Semoga dalam kegelapan sekalipun, kita bersinar.”

Mereka mengangkat kepalanya bersamaan. 

Aku sudah diberi tahu bahwa, kebanyakan dari kesatria di sini bukanlah berasal dari keturunan kesatria. Hanya berasal dari masyarakat umumnya, seperti petani, seorang pekerja kasar atau anak yatim piatu. 

Akion tidak pernah menganggap asal usul itu penting. Yang paling utama adalah kerja kerasmu, kemampuanmu, dan loyalitasmu. 

Maka dengan janji yang saling dijaga, Akion mengajar mereka dengan keras. Beberapa menganggapnya neraka. 

Ah, lihat itu! Cara mereka mengayunkan pedangnya, mataku melirik tajam, tubuh dan ingatan ini merespons sebuah kesalahan yang mereka buat. 

Aku mengambil tongkat kayu. Levian hanya memerhatikan. 

“Siapa namamu?” Aku sudah berdiri di hadapannya. 

“Harry dari pasukan kedua, angkatan pertama, Tuan Akion.” Dia menjawab dengan kuat, ada getaran ketakutan yang kurasakan. 

“Harry, apa kau pikir kau bisa mengalahkan monster dengan keahlian berpedang seperti itu?” 

“Saya akan berusaha, Tuan Akion”

Aku sedikit tertawa. Itu menyeramkan. 

“Aku tidak ingin kau mati muda.” 

Sepertinya Akion dan Harry umurnya tidak jauh berbeda. 

“Lebarkan kuda-kudamu, jika fondasi bawahmu serapuh itu, bagaimana kau bisa menahan gerakan pedangmu saat beradu?” Aku memukulkan pelan pedang kayuku ke kedua kaki Harry. 

Harry melakukan apa yang kuperintahkan. 

“Apa kau malu?”

Harry terlihat kebingungan. 

“Angkat tanganmu yang lebar, letakan jari-jarimu pada pegangan pedang. Tekankan bahwa kau akan mati.”

Aku menatap tajam. 

Harry dengan panik mengulangi apa yang kuarahkan. Tidak mudah awalnya baginya untuk menyelaraskan gerakan denganku. 

Hasilnya, dia takjub sendiri dengan kekuatan penghancur yang dia hasilkan. 

Aku tersenyum. Levian yang menghampiriku tadi, terlihat khawatir karena semua pasukan sedang melihat sikap lain dari tuan muda mereka yang mempunyai sisi manis.

BERSAMBUNG••••

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Agus Sutikno
mulai seru nih
goodnovel comment avatar
austinsteve4843
lamanya update bab baru ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status