Share

Count Invit

Tanka merengek seperti anak kecil agar bisa ikut denganku. 

Rengekannya membuatku pusing. Bagaimana tidak, dia berteriak di telingaku meminta agar  dia bisa ikut. 

“Ajak saja Tanka, Tuan Akion.”

Wajah Tanka berubah senang, Levian membelanya. Wajahnya menggambarkan bahwa dia mendapatkan sekutu yang mendukung keinginannya.

“Bukankah Tanka lebih baik tinggal di sini dan menjaga harta ini?”

“Ayolah Tuan Akion, gunung Berk sendiri pun, tidak akan bisa dimasuki oleh sembarang orang.” Wajah Tanka cemberut. 

“Aku sudah terkurung di sini selama empat ratus  tahun. Aku kan, juga ingin menghirup udara lain,” tambahnya.  

“Apa kau bisa  mengunci pintu masuknya lagi?” 

“Itu hal yang sangat mudah, Tuan Kesatria.” Jarinya digerak-gerakan membentuk lingkaran dengan sikap yang sepele. 

“Levian, namaku,”

“Ya, Levian.” Senyumnya.  

“Tuan Akion, harta ini tetap terlindungi. Apa Tuan Akion tidak merasa kasihan pada Tanka?”

Aku menatap lurus ke Levian. Beberapa detik ekspresinya berubah menjadi kaku. 

“Baiklah ....”

Mereka berdua tidak sadar telah menjadi Sekutu. Menambah satu orang lagi dalam perjalanan mungkin bagus. 

“Tapi kau harus bersembunyi dengan baik.”

“Itu hal yang sangat mudah!” Tanka terbang sangat tinggi. Sayapnya bercahaya lebih terang, bahkan disekitarnya, aku melihat seperti serbuk emas yang berterbangan. 

“Tidak akan ada yang bisa melihatku kecuali yang kuizinkan.” Dia mengedipkan matanya dengan centil. 

Seharusnya tidak kuragukan sihirnya. 

**

Setelah pertemuan kami dengan Tanka beberapa hari yang lalu, akhirnya kami tiba di pintu masuk wilayah Invit. 

Seorang kesatria mendatangiku. Wajahku yang tertutup tudung jubah tidak dapat mereka lihat dengan jelas. 

“Identitas.” 

Suara yang tidak bersemangat. Aku memang melihat banyak kereta dagang yang keluar masuk Invit. Wilayah yang berbeda dengan Sanktessy. 

Aku mengambil tanda pengenal keluargaku yang sebelumnya tertempel di baju, dan tertutup oleh jubah. Aku memperlihatkannya. 

Dari balik tudung jubahku, dia memasang wajah ragu yang berulang kali melihatku yang tertutup tudung. 

Aku membuka tudungku, memandangnya dari atas kuda yang kurasa aku melihatnya seperti menekan. 

“Ah, Tuan Muda Sanktessy. Silahkan masuk.”  Dia mengizinkanku masuk dengan raut wajah panik. 

“Bukanlah itu swordmaster termuda dalam sejarah kita?”

Seorang kesatria lainnya berbisik padanya.  

“Ya, dia adalah sosok yang luar biasa. Sayang sekali, dia harus terlahir di keluarga Baron yang miskin dan punya banyak hutang.” Suaranya terdengar seperti rintihan yang mengasihaniku. 

Aku tersenyum kecil tanpa melihat mereka. Itu hanya cerita lama yang akan segera kuputuskan. 

Kuda kami pun berjalan dengan cepat menuju ke rumah pamanku. 

Rumah termewah disini, seorang Count Invit. Pamanku memiliki beberapa usaha perdagangan. Hasil bumi yang bagus, dan laut yang indah membuat wilayahnya cukup makmur. 

Dia selalu ambisius, bahkan untuk sesuatu yang tidak mungkin dia miliki. 

Kami dipersilahkan masuk oleh pelayannya. Tidak ada sambutan yang hangat, seolah hubungan darah tidak ada arti apa pun. Lagi-lagi aku merasa geli sendiri, seharusnya aku yang sangat paham akan itu, bukan? 

Aku telah mengalaminya. 

Aku duduk di ruangan kerja pamanku. Secangkir minuman pun, Count Invit tidak menyuruh pelayannya untuk menyediakannya padaku. Seakan yang datang adalah benalu. 

Dia masih mengabaikanku, dia sibuk berkutat dengan catatannya. 

Aku diam, memperhatikan apa yang dia lakukan. Sepertinya itu adalah buku kas miliknya. Dahinya mengerut, tangannya menyentuh kening seakan itu mampu mengurangi pikirannya. 

“Jika saja tidak ada benalu yang menempel kepadaku.” Dia memandangku dengan wajah yang begitu kesal. Sorot matanya itu, seakan jijik padaku. 

Benalu yang dia maksud pasti adalah keluargaku. 

Aku tetap diam. 

“Ke mana ayahmu?”

Suaranya lantang, tidak ada keramahan didalamnya. 

“Maafkan ayahku, Count Invit. Ayah sedang tidak bisa meninggalkan Sanktessy dan mengutusku kemari." 

Aku masih berbicara dengan ramah. 

“Dia menjualmu?” Seringai itu semakin lebar, tampaknya dia salah paham. Walaupun ayahku tampaknya kurang kompeten, tapi dia adalah ayah yang baik yang menjaga keluarganya. 

“Baiklah. Walaupun bayaran yang dia berikan tidak setimpal. Tapi sebagai keluarga jauhmu yang baik hati, aku menerimanya.”

Dia tersenyum licik. Wajahnya yang bulat dengan kumis tipis membuat kelicikan itu semakin menjijikkan. 

“Sepertinya ada salah paham disini, Count.”

“Maksudmu?”

“Aku diutus ke sini bukan sebagai pelunas hutang keluarga Sanktessy pada Count Invit,” jelasku. 

“Sombong sekali kau," dengusnya,  sekarang matanya itu penuh emosi. 

“Jadi untuk apa kau ke sini? Apa keluargamu yang miskin itu mampu membayar hutang seribu lima ratus keping emas?”

“Lihat wilayahmu yang miskin dan masyarakatnya yang kesusahan. Itu karena dipimpin orang yang tidak becus!" Dia terus mengoceh. 

“Dan kau, dengan sombongnya datang kesini, seakan mampu membayar hutang kalian. Pikirkan tentang penduduk Sanktessy yang seperti pengemis itu!”

“Padahal aku yang bermurah hati ini telah memberikan jalan terbaik untuk kalian. Kau menjadi bawahanku. Maka hutang akan lunas." Ekspresinya dingin penuh dengan keremehan. 

Aku sadar Levian yang berdiri di samping menahan amarahnya. Sedangkan Tanka telah mendekat ke wajah Count Invit dengan ekspresi meminta izin kepadaku untuk menendang wajahnya. 

Aku menggeleng pelan. 

“Hahahaha, tidak bukan.”

Count invit salah mengerti lagi

“Maksudku, kami mampu melunasi hutang kami.” 

Mata Count Invit tidak percaya, dia hampir saja mengeluarkan kata cacian padaku, saat aku mengeluarkan sekantung penuh isi koin emas. 

Mulutnya ternganga besar seakan jiwanya berhenti di tenggorokannya. 

“Kau mencurinya?” Dia menghardikku. Wajahnya penuh mengintimidasiku. 

“Perkataan anda sungguh tidak sopan, Count Invit!” Levian memegang pedangnya. Melihat sorot matanya yang menajam, aku tahu dia perlahan kehilangan kesabarannya. 

“Dasar tidak sopan! Beraninya kau menyelaku berbicara!” Count Invit menghardik Levian, tangannya yang bantat menunjuk Levian  kasar. 

“Lihat! Prajurit kurang ajar ini!” Suaranya semakin membesar, “Tidak heran dari keluarga miskin tidak terdidik!” Dia terus mengejek. 

“Izinkan aku memotong lidahnya, Tuan Akion.” Levian meminta izin kepadaku. Aku menggeleng. 

“Prajurit kurang ajar ini!” Count invit melemparkan buku dari atas mejanya mengenai Levian. 

“Pengawal!” Dia berteriak kencang memanggil pengawalnya. 

Pengawal masuk dengan cepat. Tiga orang kesatria berbaju lengkap mencabut pedangnya. 

“Tangkap mereka!” perintah count Invit. 

Ketegangan ini sungguh menarik, melihat sikap angkuhnya yang selalu berpikir bahwa dia di atas angin. 

“Ehm!” Aku batuk sekali tidak peduli dengan emosinya. 

Tiga orang Prajurit mundur melihatku. Mereka memang Prajurit yang terlatih dengan baik dengan perlengkapan yang bagus. Tapi mereka tidak akan lupa siapa aku, peringkat mereka berada jauh di bawahku. 

Jadi insting mereka memperingatkan untuk mundur dan hati-hati. 

“Count Invit, aku ke sini untuk melunasi hutang Sanktessy. Tapi anda yang terlebih dahulu menghina.”

“Anak kurang ajar.'" Dia mendekat kepadaku, satu buku di tangannya hendak dia lemparkan padaku. Ketika dia berancang-ancang ingin melemparku, aku masih dengan santai berkata padanya. 

“Jika aku mau, aku bisa membunuhmu, Count.”

Dia diam tertegun melihat bocah yang selama ini diam saja dengan perlakuannya. 

Sekarang aku melunasi hutang. Aku tidak terikat padanya, pendudukku tidak  akan menderita lagi. Secara perlahan, aku mempunyai yang mereka pikir tidak. 

“Bahkan jika aku mau, wilayah Invit bisa kutaklukan sekarang." Aku menyombongkan diri. Dia harus ingat siapa aku, siapa seorang ahli pedang terkuat di benua ini. Wajahnya menegang, semakin putih karena tidak menduga aku akan mengancamnya. 

Intimidasi selalu berhasil di hadapan orang seperti dia. 

Aku berdiri melewati tiga Prajurit yang menghadang pintu. Kaki mereka gemetar dan mereka terjatuh. 

Ketegangan ini. Kau pasti menyukainya kan, paman?

“Ayo kita pergi,"

Levian bergerak. Dia masih tampak kesal. 

“Oh iya, pamanku. Terima kasih atas pinjamannya yang terdahulu, kupastikan Sanktessy tidak akan pernah meminjam darimu lagi." Aku tersenyum padanya. Senyuman itu membuatnya mundur, sudut bibirnya terangkat satu seolah akan mengumpat padaku. 

Aku suka melihatnya, dan meninggalkan rumah Count yang masih kudengar berteriak memaki-maki sambil menghancurkan perabotan rumahnya. 

Untungnya dia masih bisa berpikir. Jika dia berani mengarahkan pedangnya padaku, kupastikan saat itu juga dia kehilangan nyawanya. 

**

“Kenapa Tuan Akion tidak membunuhnya saja?” Bibir Tanka maju ke depan. Dia tampaknya masih kesal. 

“Kurasa membunuh babi kota itu sangat mudah.” Dia berhenti mengepakkan sayapnya di depan wajahku, membuatku berhenti melangkah. 

Aku tertawa kecil mengabaikannya. 

“Tuan Akion!”

“Tuan Akion!” Dia bergerak kesal mengikutiku yang berjalan mengabaikan omelannya. 

“Panggil Akion saja.” Aku mengizinkannya memanggilku begitu. Sejujurnya aku tidak begitu nyaman dipanggil tuan, terlebih saat aku ingin dekat dengan seseorang. 

Levian yang seorang guru dan kesatriaku menolak dengan tegas untuk memanggilku Akion. 

“Bolehkah begitu, Tuan Akion?”

Dia melirik ragu, sayapnya bahkan bergerak dengan tidak teratur. 

Bagiku, Tanka tidak akan bermasalah hanya memanggilku dengan nama. Tidak semua orang bisa melihatnya, dan dia bukanlah kesatriaku. 

“Tentu,” jawabku lembut. 

Jawabanku membuat respon tak terduga dari Tanka. Senyumnya sumringah, dia tampak seperti menerima hadiah yang sangat dia suka. 

“Oh Akion, aku memang menginginkannya sejak lama. Tapi kita kan baru bertemu.” Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mungkin karena aku keturunan Sanktessy, yang mana sebenarnya adalah tuan darinya. 

“Baguslah jika kau menyukainya.”

“Tentu aku menyukainya. Ini seperti kita tidak punya penghalang. Aku dan Caesar saling memanggil nama.”

Aku mengangguk setuju. Sepertinya, leluhurku—Caesar dan Tanka sangat dekat, dan Tanka sangat mengagumi. 

Matanya akan penuh antusias jika berkaitan dengan Caesar. 

“Apakah kita akan pulang, Tuan Akion?” 

“Tidak. Masih ada tempat yang harus dikunjungi.”

Saat itu bel berbunyi dengan jelas. Langkah kaki kami telah membimbing kami mendekati tujuanku dengan cepat. 

Gedung berwarna putih yang menjulang tinggi, keberadaannya sedikit menepi dari daerah padat penduduk. Tempat mereka berdoa, tempat mereka memberikan kepercayaannya, kuil suci di daerah Invit. Ada yang kucari disana. Setidaknya membuka mata ilmu pengetahuanku yang masih banyak butanya. 

BERSAMBUNG....

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status