Pernah dengar teman dari Jawa Tengah bilang 'sampun' saat ngobrol santai? Awalnya kupikir itu cuma basa-bali, tapi ternyata lebih dari itu. Kata ini adalah bentuk krama inggil dari 'wis' atau 'sudah' dalam bahasa Jawa, dipakai untuk menunjukkan kesopanan ekstra. Biasanya digunakan saat bicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Misalnya, 'Kula sampun nedha' artinya 'Saya sudah makan' dengan nuansa sangat halus.
Yang menarik, penggunaan 'sampun' juga sering ditemukan dalam wayang kulit atau upacara adat. Kata ini seperti bumbu rahasia yang bikin percakapan terasa lebih berbudaya. Aku sendiri suka memperhatikan bagaimana penutur Jawa mengalihkan antara ngoko, krama madya, dan krama inggil dengan lancar—seperti melihat tari bahasa yang hidup.
Dulu waktu sering main ke Jogja, aku penasaran kenapa beberapa orang tiba-tiba ganti gaya bicara jadi lebih formal. Ternyata mereka sedang beralih ke krama inggil, dan 'sampun' adalah salah satu kata kuncinya. Berbeda dengan 'wis' yang kasual, 'sampun' membawa aura kesantunan klasik. Contohnya, ketika seorang abdi dalem keraton berkata 'Panjenengan sampun rawuh', itu jauh lebih hormat daripada sekadar 'Kowe wis teka'.
Lucunya, generasi muda Jawa sekarang kadang mencampur 'sampun' dengan bahasa gaul untuk efek komedi. Tapi dalam konteks seremonial, kata ini tetap sakral. Aku pernah melihat guru bahasa Jawa menjelaskan bahwa memilih antara 'wis' dan 'sampun' itu seperti memilih antara sendal jepit dan beskap—sama-sama fungsional tapi beda tingkat formalitasnya.
Ada kehangatan unik dalam bahasa Jawa ketika seseorang memilih menggunakan 'sampun' alih-alih kata biasa. Ini bukan sekadar pengganti 'sudah', tapi semacam penghormatan linguistik. Aku belajar dari pengalaman ngobrol dengan mbah-mbah di Solo bahwa kata ini sering dipasangkan dengan subjek 'kula' sebagai bentuk kerendahan hati. Misalnya 'Kula sampun ngertos' artinya 'Saya sudah mengerti' dengan sentuhan rasa sungkan. Bedakan dengan 'Aku wis ngerti' yang terasa lebih ceplas-ceplos. Keindahannya terletak pada bagaimana satu kata bisa membawa serta nilai sopan santun turun-temurun.
2026-07-02 20:44:04
4
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Bertahan Di Sampingmu
Erna Azura
10
14.5K
Sean Maverick, pria lajang, tampan dan mapan itu sudah dua kali menumpahkan minuman ke gaun Shamika Princess di dua pesta berbeda.
Lucunya, pertemuan yang menjengkelkan tersebut justru membuat Shamika Princes jatuh cinta pada Sean.
Namun sayang, pada pertemuan ketiga mereka—Princes mengenalkan Sean pada Kayana Shaqeenarava Gunadhya yang merupakan kakak sepupunya.
Sean malah menaruh hati pada Kanaya dan menggunakan Shamika Princes untuk mendekati gadis itu.
Kadung cinta, Princes rela menjadi perantara Sean dengan Kayana.
Princess tidak serta-merta membenci Kanaya karena tahu Kanaya tidak pernah mau berkomitmen dengan satu pria apalagi jatuh cinta.
Jadi Princes bertahan tetap berada di antara Sean dan Kanaya sambil menyadarkan Sean jika hanya dia yang memiliki cinta tulus kepadanya.
Tapi sampai kapan Princes sanggup mengorbankan perasaannya demi Sean?
"Uh ... Sayang, pelan-pelan, ya. Nanti sahabatku bangun."
Sahabatku dan suaminya ternyata sengaja melakukan hubungan intim di depanku demi kenikmatan mereka sendiri.
Suara desahan mereka yang penuh gairah dan godaan membuat mukaku panas dan jantungku berdebar tak karuan.
Aku sampai menahan napas, berharap mereka cepat selesai. Akhirnya, sahabatku pun pingsan karena kelelahan.
Namun, detik berikutnya, suaminya malah memelukku dan menindih tubuhku.
Setelah mengalami keguguran, Louisa menjadi istri yang seperti diharapkan Sammy.
Dia tidak lagi berbagi cerita tentang momen menarik kesehariannya, tidak lagi menelepon di tengah malam karena Sammy tidak pulang. Bahkan saat dia dijebak orang hingga harus ditahan polisi, dan polisi memintanya menghubungi keluarga agar bisa dibebaskan dengan jaminan, dia hanya menjawab dengan tenang bahwa dia tidak punya keluarga, lalu menjalani masa penahanan selama seminggu tanpa protes.
Pada sore hari tujuh hari kemudian, terali besi kantor polisi terbuka dengan bunyi berderak.
Saat Louisa menuruni tangga, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak di depannya.
Pintu mobil terbuka, dan Sammy melangkah keluar mengenakan setelan jas buatan desainer ternama. Pria itu tinggi dengan kaki panjang, bahu lebar, dan pinggang ramping. Penampilannya angkuh dan dingin seperti biasanya, bagaikan embusan angin di bawah rembulan yang terang.
Jangan lupa subscribe ya, biar enggak ketinggalan update bab selanjutnya
Ada kalimat yang sampai hari ini masih kuingat. Kupikir rasanya sudah tertanam di benakku. Suatu hari aku mendengar ibu tengah bergosip di warung sayur, hingga kemudian aku datang untuk membeli beberapa bumbu masak yang kurang, wanita itu berkata dengan lantangnya sambil bekacak pinggang.
“Duh saya punya menantu kayak sampah!” ucap ibu kala itu. sontak saja semua orang di sana tercengang, tetapi bukannya meminta berhenti. Mereka malah semakin memancing ibu untuk bercerita banyak hal.
“Loh kok bisa, Bu? Eh, orang cantik gitu, dibilang sampah, bagaimana sih Bu!”
“Alah cantik doang buat apa kalau nyapu enggak bersih, mana ngepel aja maju! Keinjek lagi dong lantainya! Haduh saya tuh tiap hari saya sampai pakai koyo, punya mantu bukannya tambah enak. Malah capek, rumah saya yang bersihin, masak aja sama saya. Dia mana bisa masak? Sekalinya masak malah nyuruh suaminya. Ih najis banget! Bisa-bisanya si Dadan nyari istri yang enggak bisa ngapa-ngapain. Padahal, saya berharapnya Dadan nikah sama Nining, dia juga cantik, pintar masak. Bisa nandur di sawah, angon bebek juga tuh lihat anakannya sudah besar-besar. Lah ini, malah dapet orang kota, saban hari kerjanya maen hp!”
Sabar itu ada batasnya, aku baik pada mereka yang baik padaku. Aku juga kejam pada mereka yang kejam padaku!"
****
Sari marah saat tau uang bulanannya yang sedikit, masih harus dipotong suaminya karena alasan yang tak masuk akal.
Sementara didepan matanya, sang suami memberikan separuh lebih gajinya untuk ibu dan adiknya sendiri.
Sari yang merasa sabarnya sudah tertelan habis, memutuskan membalas setiap perlakuan licik sang suami.
Si Tumang dalam Legenda Sang Kuriang adalah sosok dewa yang di kutuk menjadi anjing oleh Sang Hyang Wenang karena kesalahannya. Sedangkan kekasihnya dikutuk menjadi Celeng Wayung Hyang. Si Tumang menikahi Dayang Sumbi. Namun kini Si Tumang yang lainnya ditakdirkan untuk menjadi suamiku karena menolongnya yang tengah sekarat di tengah hutan!
"Wah,ganteng banget! Dia siapa?"
"Mirip aktris korea itu lho."
"Tapi kok cewek di sebelahnya gitu sih."
Kata-kata itu selalu menyertai langkahku. Dimanapun dan kapanpun saat aku berjalan berdampingan dengan suamiku. Beginilah jika memiliki suami tampan rupawan. Tak ada satupun yang memandangku. Mungkinkah suami tampan itu anugerah? Ataukah justru petaka?
Padahal jika mereka tahu yang sebenarnya mungkinkah mereka akan kagum?
Ada satu kata dalam bahasa Sunda yang selalu bikin aku tersenyum setiap dengar orang ngomonginnya: 'hampura'. Awalnya kupikir ini cuma versi lokal dari 'maaf', tapi ternyata lebih dalam dari itu. Kata ini nggak sekadar formalitas, tapi bener-bener ngebawa beban emosional. Orang Sunda pakai 'hampura' ketika mereka merasa bersalah beneran, bukan sekadar basa-basi. Aku ingat waktu tinggal di Bandung dulu, ada tetangga yang nabrak tanaman pot-ku. Daripada cuma bilang 'permisi' atau 'sorry' ala kadarnya, doi merunduk sambil bilang 'hampura' dengan nada yang bikin aku langsung luluh. Rasanya kayak ada kerendahan hati yang tulus gitu.
Yang menarik, 'hampura' juga sering dipakai dalam konteks spiritual. Pas lebaran misalnya, anak-anak muda Sunda biasanya sungkem sambil bilang 'hampura' ke orang tua. Ini beda banget sama budaya 'maaf-maafan' di Jakarta yang kadang cuma sekadar tradisi. Kata ini mengajarkanku bahwa permintaan maaf itu nggak cuma soal ucapan, tapi juga tentang sikap dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan.