Apa Peninggalan Kerajaan Mataram Yang Masih Ada Sekarang?
2026-06-11 15:09:31
201
Ikuti16
Share
AditEman
Penggemar Novel
Resepsionis
Kuis Kepribadian ABO
Ikuti kuis singkat untuk mengetahui apakah Anda Alpha, Beta, atau Omega.
Aroma
Kepribadian
Pola Cinta Ideal
Keinginan Rahasia
Sisi Gelap Anda
Mulai Tes
3 Jawaban
Faith
Ahli Cerita
Analis
Dari perspektif sejarah, peninggalan Mataram itu kayak puzzle raksasa yang masih bisa kita temuin pecahannya sampe sekarang. Candi Borobudur mungkin yang paling dikenal, tapi sebenarnya ada banyak banget situs lain yang kurang terekspos. Misalnya kompleks candi Ratu Boko di atas bukti itu, pemandangannya surreal banget! Aku pernah kesana pas sunset, dan aura mistisnya bikin merinding. Uniknya, arsitekturnya beda sama candi-candi lain, lebih ke karakter istana kerajaan.
Yang sering dilupakan, pengaruh Mataram juga kuat banget dalam seni keris. Aku punya teman kolektor yang jelasin panjang lebar tentang filosofi di balik lekukan keris Mataram. Katanya, setiap lengkungan itu nggak random, tapi punya makna spiritual tertentu. Keren ya, benda sekecil itu bisa jadi medium cerita peradaban.
2026-06-17 00:08:40
14
Parker
Pemandu
Apoteker
Mengunjungi Yogyakarta selalu bikin aku terpana oleh warisan Kerajaan Mataram yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Candi Prambanan itu masterpiece banget, detail arsitekturnya nggak cuma megah tapi juga penuh makna filosofis. Aku pernah dengar cerita kalo relief-reliefnya itu nggak cuma buat hiasan, tapi juga semacam 'buku' yang ngarahin orang tentang nilai kehidupan. Yang nggak kalah keren, sistem irigasi tradisionalnya masih dipake sampe sekarang lho! Desa-desa sekitar masih ngandelin saluran air peninggalan Mataram buat ngairin sawah. Keren kan, teknologi jaman dulu bisa sesukses itu?
Satu lagi yang bikin aku salut, tradisi wayang kulit. Meski udah ribuan tahun, pertunjukan ini masih hidup dan bahkan jadi inspirasi buat konten modern kayak anime atau game. Aku sendiri suka banget nonton wayang versi kontemporer yang dimix dengan musik kekinian. Warisan budaya itu nggak harus kaku, kan? Justru dengan diadaptasi, generasi muda jadi lebih tertarik buat ngelestarikan.
2026-06-17 11:56:15
16
Alexander
Ahli Novel
Desainer
Sebagai orang yang suka eksplor wisata lokal, aku selalu recommend buat ngelihat langsung peninggalan Mataram. Selain yang monumental kayak candi, ada hal-hal sederhana tapi meaningful. Contohnya pasar tradisional Beringharjo di Jogja - itu umurnya udah ratusan tahun dan konsep tata letaknya masih pake pola dari jaman Mataram. Atau kuliner! Masakan jogja yang manis itu katanya terinspirasi dari selera keraton Mataram. Setiap gigitan gudeg sepertinya ngebawa cerita panjang tentang adaptasi budaya.
Yang paling personal buat aku justru gamelan. Dengerin alunan musiknya itu kayak mesin waktu yang langsung bawa imajinasi ke era kejayaan Mataram. Sekarang malah banyak komunitas anak muda yang belajar gamelan, bukti warisan itu tetap relevan.
2026-06-17 14:50:38
14
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
WARISAN YANG DIRAMPAS
Tetiimulyati
10
28.9K
Warisan yang seharusnya menjadi milik Nurma, malah dijual oleh kakak laki-lakinya setelah orang tua mereka tiada. Bukannya menjadi pelindung untuk adik perempuan satu-satunya. Usman dan Halim malah berbuat dzolim. Bahkan tempat yang menjadi mata pencaharian Nurma dan suaminya pun tak luput dari incaran mereka.
Bagaimana Nurma dan suaminya memulai hidup dari nol. Apakah akan datang pertolongan yang tidak diduga? Bagaimana juga akibat yang menimpa pada kedua kakak laki-lakinya? Simak kisahnya.
Saketi adalah keturunan pertama dari Prabu Erlangga, buah pernikahannya dengan Arimbi putri angkat Ki Bayu Seta. Meskipun, ia seorang putra mahkota, Saketi tampak bersikap seperti rakyat biasa. Ia tidak membatasi dirinya untuk berbaur dengan rakyat tanpa pandang bulu.
Saketi memiliki kesaktian sama persis dengan sang ayah, di usia dua puluh tahun, Saketi sudah menjelma menjadi seorang pendekar pilih tanding yang sangat disegani dan ditakuti oleh lawan.
Sang raja mempercayakan, Senapati Lintang sebagai juru didik bagi putranya itu. Dengan penuh harapan, putranya bisa menjadi seorang pendekar berbudi pekerti baik, dan menjadi pemimpin yang bijaksana.
***
"Bedebah! Kami tidak peduli dengan niat kalian. Pokoknya setiap yang datang ke tempat ini, itu tandanya mau setor nyawa," kata pria yang mengenakan ikat kepala merah sesumbar..
"Langsung serang saja mereka, Paman!" pinta Saketi, ia merasa geram dengan perkataan orang tersebut.
"Baik, Pangeran." Senapati Lintang mengangkat tangan sebagai isyarat, agar para prajuritnya segera menyerbu empat pendekar tersebut.
Para prajurit itu pun langsung menyerang dengan melontarkan senjata yang sangat mematikan. Tampak sinar-sinar merah melesat dari bagian depan dan belakang rumah tersebut.
Anjasmara, seorang putri patih kerajaan Majapahit, jatuh cinta pada seorang pemuda biasa. Damarwulan namanya, seorang lenjaga kuda di kediaman Lohgender. pepatah mengatakan bahwa cinta itu buta, atas nama cinta dia Anjasmara memutuskan untuk menikah dengan pemuda itu.
Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Damarwulan yang amat dicintainya bukanlah pria setia. Pernikahan yang awalnya sangat ia dambakan, berubah menjadi mimpi buruk.
Ia memohon pada dewa agar memberinya kesempatan sekali lagi. Dewa yang maha tinggi itu bersedia mengabulkan permohonannya. Namun dia tidak mendapatkan kehidupn keduanya begitu saja, kehidupam keduanya, dijalani oleh Asmara, reinkarnasi dari Anjasmara di dunia modern.
Mampukah Asmara memperbaiki keadaan dan mendapat akhir yang bahagia? bisakah dia kembali ke kehidupannya yang dahulu?
Di dunia persilatan kuno, Rong Guo menjalani kehidupan di sebuah sekte bela diri tanpa kekuatan apa pun. Terhina dan dianiaya oleh sesama anggota sekte, hidupnya tampak tanpa harapan. Namun, segalanya berubah saat ia menemukan sebuah artefak yang mengubah hidupnya.
Dalam perjalanan pencariannya untuk menguasai kekuatan artefak itu, Rong Guo menyadari bahwa dirinya bukanlah individu biasa. Terdapat garis keturunan darah yang menghubungkannya dengan artefak tersebut, dan dengan tekad yang membara, ia memulai pencarian untuk mengetahui identitas sejatinya.
Namun, perjalanan Rong Guo tidaklah mudah. Sebagai pewaris artefak kuno, ia menjadi target kelompok-kelompok yang haus akan kekuatannya. Rong Guo harus terus melarikan diri dan menyembunyikan identitasnya sebagai keturunan terakhir yang mampu menguasai kekuatan artefak itu.
Dalam kisah epik ini, Rong Guo akan menghadapi pertarungan sengit, mengungkap konspirasi besar dalam dunia persilatan. Setiap langkahnya membuka tabir rahasia, memunculkan teka-teki besar tentang garis darahnya dan mengapa ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan kekuatan artefak kuno.
Dalam "Warisan Artefak Kuno," semua jawaban terkait kekuatan luar biasa Rong Guo dan rahasia keturunannya akan terungkap. Mampukah ia mempertahankan warisan berharga ini ataukah akan luluh di tengah gempuran konspirasi dan pertarungan sengit? Temukan jawabannya dalam novel yang akan memompa adrenalinmu hingga halaman terakhir!
Di abad ke-9 Masehi, Kerajaan Mataram Fiksi yang berada di kawasan sekitar pegunungan Tengger menghadapi bencana besar—kemarau panjang yang menyebabkan kegagalan panen dan serangan misterius dari makhluk gaib yang muncul dari hutan belantara. Raden Jayaningrat, pangeran muda yang menyembunyikan kemampuan istimewa untuk memahami bahasa tumbuhan, mulai menemukan bahwa dirinya terkait erat dengan Batu Akar Raja—batu sakral kerajaan yang hilang dan dipercaya bisa menyelamatkan alam serta masyarakat.
Dalam perjalanan mencari kebenaran, Raden bertemu dengan Dewi Shinta Sari, penyihir alam yang menjaga gerbang menuju Bumi Akar—wilayah bawah tanah yang penuh dengan rahasia sejarah kerajaan. Bersama dengan pendeta tua Mbah Ki Semar yang menyimpan rahasia asal-usul kerajaan, mereka memulai perjalanan yang penuh rintangan ke dunia bawah tanah, menghadapi makhluk gaib dan ujian yang menguji tekad serta keikhlasan mereka.
Namun, bahaya tidak hanya datang dari alam. Patih Prabu Kala, penasihat raja yang penuh keserakahan, merencanakan untuk mengambil alih kekuasaan dengan memanfaatkan kekuatan batu akar. Ia menguasai kerajaan dan menyebabkan penderitaan rakyat, membuat Raden dan kelompoknya harus berjuang untuk mengembalikan keadilan serta menyelamatkan batu dari tangan yang salah.
Setelah melalui pertempuran hebat dan mengorbankan banyak hal, Raden berhasil mengalahkan Patih Kala dan memimpin kerajaan untuk memulihkan keseimbangan alam serta kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, ia harus membuat keputusan berat—apakah akan menyimpan kekuatan batu untuk diri sendiri dan kerajaan, atau mengembalikannya ke Bumi Akar untuk menjaga keseimbangan alam semesta yang abadi.
Novel ini mengangkat tema hubungan manusia dan alam, tanggung jawab kepemimpinan, konsekuensi keserakahan, serta cinta yang melampaui batas dunia dan waktu—menawarkan kisah mendalam yang menghubungkan sejarah, budaya, dan fantasi dalam karya berkualitas premium untuk pembaca yang menghargai literasi kelas atas.
Arga, seorang pemuda biasa dari Jakarta abad ke-21, terlempar secara misterius ke Nusantara era perang saudara antara Kerajaan Jenggala dan Kediri. Di tengah kekacauan, ia menyadari bahwa darahnya menyimpan warisan kerajaan kuno dan takdirnya sebagai Maharaja Dharmapala, sang pemersatu yang diramalkan akan menyatukan kembali pecahan bumi Nusantara.
Dalam pelariannya dari pasukan Kadiri, Arga bertemu Dewi, wanita tangguh yang kelak menjadi Permaisuri Nitiswari sosok yang tidak hanya menyelamatkannya, tapi juga menyalakan api harapan di hatinya. Bersama, mereka menyusuri lorong-lorong rahasia, menghadapi musuh-musuhnya, mengungkap pengkhianatan, dan membangkitkan kekuatan darah raja yang tidur selama berabad-abad.
Namun, jalan menuju takhta bukanlah jalan yang mulus. Pengkhianat bersembunyi di antara sekutu, musuh semakin dekat, dan Arga harus memilih: kembali ke dunia modern yang sunyi, atau tetap di sini, memimpin rakyat dengan hati, bahkan jika itu berarti kehilangan segalanya.
Ini bukan sekadar kisah tentang raja yang terlupa. Ini adalah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian untuk bangkit dari abu kehancuran, demi masa depan yang lebih baik.
Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno itu seperti puzzle sejarah yang masih bisa kita sentuh sampai sekarang! Candi Borobudur dan Prambanan pasti jadi yang pertama muncul di kepala, tapi sebenarnya masih banyak lagi. Misalnya, kompleks candi Sewu di Klaten yang arsitekturnya bikin melongo—serius, detailnya itu level dewa!
Ada juga Candi Kalasan dengan relief Kala-Makara-nya yang iconic, plus Candi Sambisari yang unik karena ditemukan terkubur 6 meter di bawah tanah. Jangan lupa Prasasti Canggal di Magelang, tulisan kuno yang jadi bukti literasi mereka. Kalau mau lihat langsung 'ATM' zaman Mataram, datengin Museum Sonobudoyo di Jogja— koleksi artefaknya bikin merinding!
Melihat peninggalan sejarah kerajaan di Indonesia selalu bikin aku merinding. Bayangkan, ratusan tahun lalu, tempat-tempat ini dipenuhi kehidupan yang sekarang hanya bisa kita tebak dari sisa-sisanya. Candi Borobudur itu masterpiece-nya Mataram Kuno, bukan cuma megah tapi juga penuh relief yang ceritain kehidupan zaman dulu. Keraton Yogyakarta masih aktif sampai sekarang, jadi kita bisa liat langsung bagaimana tradisi Jawa tetap hidup.
Di Sumatera ada kompleks Candi Muaro Jambi peninggalan Sriwijaya yang luas banget, sementara makam raja-raja Ternate di Maluku Utara itu sederhana tapi punya aura magis. Yang paling mengharukan itu reruntuhan Istana Bima di Sumbawa - sisa kejayaan yang sekarang cuma tinggal fondasi dan kenangan.
Pernah kepikiran nggak gimana sih suasana pusat pemerintahan Mataram Kuno dulu? Yang jelas, lokasi utamanya itu sempat berpindah-pindah seiring perkembangan zaman. Di era awal, Medang Kamulan di Jawa Tengah jadi pusatnya - bayangin aja kompleks candi megah seperti Prambanan yang mungkin jadi bagian dari landscape politik waktu itu.
Yang menarik, ketika Wangsa Isyana berkuasa, pusat pemerintahan pindah ke Jawa Timur sekitar abad ke-10. Area seperti sekitar Madiun dan Nganjuk diperkirakan menjadi ibu kota baru. Arkeolog menemukan banyak prasasti di wilayah ini yang menguatkan teori tersebut. Seru ya membayangkan bagaimana dinamika istana berlangsung di antara sawah dan pegunungan Jawa Timur?
Membahas Kerajaan Mataram Kuno selalu bikin aku excited, apalagi kalau ngomongin seberapa luas pengaruh mereka dulu. Dari yang pernah kubaca, puncak kejayaan Mataram itu sekitar abad ke-8 sampai 10 Masehi, dengan wilayah kekuasaan mencakup hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang. Ibukotanya sendiri sempat berpindah dari Medang di Jawa Tengah ke daerah sekitar Surabaya sekarang. Yang keren, pengaruh budaya dan politiknya sampai ke Bali juga lho! Mereka itu maestro membangun candi—bayangin aja 'Candi Borobudur' dan 'Prambanan' itu dibangun di era mereka. Aku suka ngebayangin gimana kehidupan sehari-hari di zaman itu, dengan sistem irigasi sawah yang sudah canggih dan jaringan perdagangan sama Sriwijaya.
Tapi yang bikin miris, kerajaan ini akhirnya runtuh karena kombinasi bencana alam letusan Gunung Merapi dan serangan dari kerajaan lain. Sisa-sisa kejayaannya sekarang cuma bisa kita lihat dari candi-candi megah yang bertahan sampai sekarang. Aku pernah road trip ke Jawa Tengah khusus buat napak tilas sejarah Mataram—serasa waktu berhenti di tempat itu.