Take a quick quiz to find out whether you‘re Alpha, Beta, or Omega.
Scent
Personality
Ideal Love Pattern
Secret Desire
Your Dark Side
Start Test
4 Answers
Ulysses
Sahabat Novel
Desainer
Menggali lokasi syuting 'The Supper Club' selalu menarik karena serial ini punya atmosfer unik yang bikin penasaran. Setelah ngecek beberapa sumber, ternyata banyak adegan diambil di sekitar Jakarta, terutama di kawasan Senopati dan Kemang yang sering jadi latar belakang cerita. Beberapa scene outdoor juga difilmkan di Bandung, terutama di daerah Lembang yang suasananya lebih sejuk dan cocok buat adegan santai.
Yang bikin series ini makin memorable adalah penggunaan kafe-kafe aesthetic di Jakarta Selatan sebagai setting utama. Kalo lo perhatiin, beberapa tempat seperti 'Koul' atau 'Luciole' sering muncul. Ini bikin nuansanya jadi sangat relatable buat anak muda ibukota. Aku personally suka hunting lokasi-lokasi ini buat foto-foto!
2025-11-26 21:50:33
4
David
Ahli Novel
Agen
Pernah kepikiran gimana rasanya jalan-jalan ke tempat syuting favorit? Untuk 'The Supper Club', beberapa spot yang gampang dikunjungi antara lain kawasan Pasar Santa yang jadi latar episode khusus, sama jalan-jalan kecil di sekitar Blok M yang sering jadi background obrolan karakter utama. Yang menarik, production team pinter banget memanfaatkan lighting alami Jakarta sore hari buat bikin mood tertentu. Beberapa temen yang kerja di industri film bilang pilihan lokasinya sengaja dicari yang accessible tapi tetap terkesan eksklusif.
2025-11-29 08:01:55
5
Chloe
Pengamat
Mahasiswa
Aku dapet info dari forum penggemar kalau sebagian besar produksi 'The Supper Club' dilakukan di studio di Ciganjur. Tapi yang bikin menarik itu mix antara studio set dan lokasi nyata. Adegan di rooftop yang iconic itu ternyata shot di apartemen daerah Kuningan, lho. Beberapa penggemar bahkan pernah bikin thread buat tracking semua lokasi yang muncul di serial ini.
2025-11-29 20:40:29
12
Hannah
Rekomender
Peternak
Ngebahas lokasi syuting seri ini bikin aku flashback ke waktu hunting filming locations. Spot favoritku adalah kedai kopi vintage di daerah Menteng yang muncul di season 2. Ternyata pemilik tempatnya sampe bikin menu spesial bernama karakter utama! Keren ya gimana sebuah serial bisa bikin tempat biasa jadi iconic. Kabarnya beberapa adegan terakhir malah sempet shooting di Bali buat special episode.
2025-11-30 11:40:01
8
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Rahasiaku Diketahui Sang Chef!
Zhang Ruyue
0
220
Jemima Harsa adalah supermodel terkenal yang diam-diam menyimpan gangguan makan berbahaya. Karier dan reputasinya seketika hancur total setelah sebuah skandal pecah akibat kesalahpahaman fatal yang membuat Chef Nathan sangat membencinya. Demi menyelamatkan masa depan masing-masing, keduanya kini terpaksa harus bekerja sama kembali dalam sebuah proyek profesional.
Apakah kolaborasi penuh ketegangan ini akan menyelamatkan karier mereka, atau justru menguliti habis rahasia paling kelam yang selama ini mati-matian Jemima sembunyikan?
Aluna Prameswari hidup dengan dua wajah.
Siang hari ia mahasiswi berprestasi.
Malam hari ia bekerja di Eden Club—tempat yang dulu merenggut ibunya.
Segalanya masih bisa ia kendalikan sampai seorang VVIP meminta dirinya. Tidak untuk minum. Tidak untuk ditemani. Tapi untuk dimiliki.
Dan lelaki itu adalah Sagaras Mahendra Adiguna— pemilik baru Eden Club sekaligus dosen muda paling karismatik di kampus.
Di hadapan mahasiswa, ia panutan. Di balik pintu klub, ia ancaman yang membungkus diri dengan rayuan dan kekuasaan.
Terjebak antara ketakutan dan kebutuhan, Aluna dipaksa masuk ke dunia di mana batas antara cinta, kendali, dan kehancuran menjadi kabur. Akankah Aluna kembali menapaki jejak ibunya?
Menceritakan tentang Kampung Sepuh dan kejadian di dalamnya sesudah cerita KUTUKAN LELUHUR.
***
Ujang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan kuliah demi memenuhi keinginan sang ibu.
Toh, dia juga belum berhasil menemukan pekerjaan yang sesuai.
Di kampung, sesuai permintaan sang ibu, Ujang menjaga warung peninggalan bapaknya.
Hanya warung, itu yang ada di pikiran Ujang. Tetapi...satu per satu keanehan mulai terjadi. Lampu yang mendadak padam, suara-suara menganggu, dan berbagai hal-hal di luar nalar lainnya.
Dia penasaran. Sebenarnya...ada apa dengan warungnya? Atau mungkin...bukan warung melainkan...kampungnya?
Leya Kalyana seorang pelayan yang bekerja di salah satu villa besar milik tuan Mafia yang bernama Aldrich Davian kafael.
Awal pertemuan mereka memang tidak terlalu baik.
Hanya saja karena sering bertemu Aldrich merasakan perbedaan dari Leya yang mampu membuat dia merasa sangat sayang pada pelayan itu, hingga dia menjadikan Leya sebagai pelayan kesayangan dia.
Sayangnya Leya tidak tau bahkan Aldrich adalah seorang mafia yang pindah ke Villa itu hanya untuk bersembunyi dari banyaknya musuh musuh yang ingin menghabisi dia.
Apakah Leya akan mau menjadi kesayangan tuannya itu?
Apalagi tuannya itu adalah seorang Mafia.
Sepasang suami istri bernama Halid dan Miska di tugaskan oleh perusahaan untuk mengelola perkebunan sawit yang udah terbengkalai selama sepuluh tahun.
Mereka tinggal di rumah mewah yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit tersebut. Namun kemewahan yang tersaji tak seindah yang mereka bayangkan. Rumah mewah itu ternyata menyimpang banyak misteri.
Sanggupkah mereka bertahan di rumah tersebut? Atau mereka memilih menyerah?
Penulis: Ayaa Humaira (ini akun ke dua Ayaa Humaira)
"Misteri Rumah Tua di Sudut Jalan"
Rina, seorang penulis lepas, tiba di sebuah kota kecil yang penuh dengan rahasia kelam. Tertarik dengan cerita mistis tentang rumah tua di sudut jalan yang konon angker, ia memutuskan untuk menyelidikinya lebih lanjut. Penduduk lokal memberikan peringatan agar menjauhi rumah tersebut, namun rasa ingin tahu Rina mengalahkan rasa takutnya. Saat pertama kali memasuki rumah itu, Rina langsung disambut oleh pengalaman mencekam: suara-suara aneh dan perasaan bahwa dia sedang diawasi.
Seiring penyelidikan yang lebih mendalam, Rina menemukan sejarah kelam rumah itu dan penghuninya. Ia menemukan sebuah buku harian tua yang mengungkapkan insiden-insiden mengerikan yang terjadi bertahun-tahun lalu, termasuk hilangnya seorang anak kecil secara misterius. Rina mulai diganggu oleh mimpi buruk dan fenomena poltergeist, dan merasa bahwa ada entitas yang mencoba berkomunikasi dengannya.
Kejadian-kejadian aneh semakin intens saat Rina menggali lebih dalam, dan ia mulai menyadari bahwa beberapa penduduk kota tidak sepenuhnya jujur. Teror meningkat saat Rina bertemu dengan seorang medium dan mengadakan sesi pemanggilan arwah, yang membuka pintu ke dunia yang lebih gelap. Melalui petunjuk yang ditemukan, Rina akhirnya mengetahui bahwa rumah tua tersebut menjadi saksi ritual gelap yang dilakukan oleh sekte rahasia.
Dalam pencariannya untuk mengungkap kebenaran, Rina bertemu dengan keturunan sekte yang mencoba mengakhiri teror di rumah itu untuk selamanya. Namun, kekuatan jahat yang mereka hadapi ternyata lebih kuat dari yang mereka duga. Dengan bantuan sekutu baru, Rina berencana untuk melakukan konfrontasi terakhir dengan entitas jahat di rumah tua tersebut.
Setelah pertempuran yang sengit, mereka berhasil mengusir roh-roh jahat dengan pengorbanan besar. Namun, meski ancaman telah berlalu, Rina masih dihantui oleh kenangan dan misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan, meninggalkan pintu terbuka bagi kelanjutan cerita yang lebih mendalam.
Membicarakan 'Perburuan' langsung membawa kita ke suasana Jakarta yang begitu hidup di serial itu. Aku selalu terpukau dengan bagaimana latar belakang kota digarap dengan detail, mulai dari gedung-gedung tinggi di kawasan Sudirman sampai lorong-lorong sempit di daerah Mangga Dua. Beberapa adegan chase scene yang intense justru diambil di daerah industri Bekasi, yang memberinya nuansa urban gritty khas.
Yang paling berkesan buatku adalah episode dimana mereka menyusuri Kali Item—sungai hitam legendaris di Jakarta Barat. Pengambilan gambar di lokasi asli dengan pencahayaan low-key bikin atmosfer mencekamnya nyata banget. Bahkan ada adegan labirin di Pasar Glodok yang difilmkan 3 pagi butuh ketika pasar sepi, itu commitment levelnya gila!
Serial 'Lewat Tengah Malam' punya atmosfer yang begitu khas, dan itu enggak lepas dari lokasi syutingnya yang dipilih dengan cermat. Aku sempat ngobrol sama beberapa kru di forum film lokal, dan mereka bilang sebagian besar adegan diambil di sekitar Bandung, terutama daerah Lembang dan Dago. Nuansa pegunungannya yang sejuk plus arsitektur kolonial di beberapa spot bikin cerita mistisnya terasa lebih hidup. Beberapa scene juga syuting di Jakarta, khususnya di kawasan tua seperti Kota Tua buat adegan-adegan urban.
Yang menarik, rumah kosong angker yang jadi latar utama itu ternyata bekas vila Belanda di Lembang yang sengaja dibiarkan 'raw' sama production designernya. Mereka bahkan nambahin detail-detail creepy seperti lukisan retak dan perabot antik palsu. Aku pernah jalan-jalan ke sana pas syuting lagi libur, dan aura seramnya masih kerasa banget!
Kalau bicara tentang serial keluarga bangsawan, pasti banyak yang langsung teringat 'The Crown'. Syutingnya itu tersebar di berbagai lokasi megah di Inggris, tapi yang paling iconic ya Istana Buckingham—meskipun cuma exterior doang yang dipake. Interiornya difilmkan di banyak tempat seperti Lancaster House dan Wilton House, yang arsitekturnya mirip banget sama istana aslinya. Kerennya, mereka juga sempet syuting di Eltham Palace yang atmosfer vintage-nya pas banget buat adegan era 1940-an.
Selain itu, ada juga Castle Howard di Yorkshire yang jadi latar belakang beberapa adegan musim awal. Uniknya, produksinya pinter banget memanfaatkan sudut-sudut berbeda dari satu lokasi buat membuat ilusi tempat yang beda. Jadi penonton dikibulin halus biar ngerasa semuanya terjadi di istana yang sama!
Lihat langsung set istana yang dipakai di serial itu bikin jantungku berdebar—betapa detailnya dibuat sampai rasanya seperti kembali ke zaman Joseon.
Aku pernah jalan-jalan ke taman set yang sering disebut orang sebagai 'Dae Jang Geum Park' atau MBC Dramia di Yongin, dan banyak serial bertema istana, termasuk yang fokus ke dapur kerajaan, memang syuting di sana. Tempat itu dibangun khusus sebagai replika kompleks istana: paviliun, halaman, koridor, sampai area dapur raksasa yang diatur supaya kamera bisa bergerak leluasa. Selain Dramia, beberapa adegan luar kadang diambil di lokasi wisata budaya seperti Korean Folk Village yang juga di Yongin—lokasinya cocok buat adegan pasar, latar rumah rakyat, atau kejauhan istana.
Kalau kamu nonton serial seperti 'Dae Jang Geum' alias 'Jewel in the Palace', mayoritas adegan istana interior sebenarnya syuting di set buatan di studio besar atau di taman set seperti Dramia supaya kru bisa atur pencahayaan, asap, atau adegan masak yang repot. Sementara itu, istana-asli di Seoul seperti Gyeongbokgung atau Changdeokgung jarang dipakai untuk adegan panjang karena regulasi pelestarian; mereka lebih sering jadi lokasi pengambilan gambar tertentu atau untuk shot eksterior yang singkat.
Pokoknya, kalau imajinasimu soal dapur kerajaan dicetak hidup di set, itu kebanyakan nyata: gabungan antara taman set yang dibuat khusus, studio tertutup untuk adegan memasak yang rumit, dan beberapa cuplikan di situs budaya. Kunjungan ke tempat-tempat itu bikin aku makin ngeh bagaimana drama dibuat—dan rasanya puas bisa pegang sendok rekreasi yang dipakai di set!