Ada semacam getar aneh yang selalu muncul ketika kata 'hiraeth' disebut—seolah ada luka lama yang tersentuh. Dalam konteks budaya populer, terutama di cerita seperti 'Interstellar' atau soundtrack 'Celeste', hiraeth menjadi tema tersembunyi yang menggambarkan kerinduan akan rumah yang mungkin tidak pernah ada. Bukan sekadar nostalgia, melainkan semacam rasa kehilangan terhadap tempat yang belum pernah disentuh, atau versi diri yang belum pernah terwujud.
Di fandom-fandom besar seperti 'Attack on Titan' atau 'The Legend of Zelda', fans sering menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kerinduan Eren akan dinding yang hancur, atau Link yang merindukan Hyrule sebelum Calamity. Ini menarik karena hiraeth bukanlah metafora pasif—ia aktif menusuk dan membentuk karakter. Aku sendiri pernah menangis mendengar lagu 'Hometown' dari 'Made in Abyss', yang bagi ku adalah manifestasi sempurna hiraeth: merindukan sesuatu yang mustahil kembali.
Ada beberapa karya yang secara tidak langsung menyentuh nuansa 'hiraeth'—kerinduan mendalam pada rumah atau masa lalu yang hilang. 'Mushishi' menggambarkannya dengan indah melalui perjalanan Ginko, yang selalu menjadi pengamat di pinggiran masyarakat, menyentuh rasa keterasingan dan kerinduan akan tempat yang tak pernah benar-benar dimiliki.
Serial seperti 'Haibane Renmei' juga bermain dengan tema ini, di mana karakter-karakter tanpa ingatan mencoba memahami identitas mereka di dunia asing. Nuansa melankolisnya sangat mirip dengan hiraeth, meski tidak secara eksplisit disebutkan. Karya-karya ini berhasil menangkap esensi kerinduan yang dalam tanpa perlu menjelaskannya secara verbal.
Ada satu adegan di 'The Lord of the Rings' yang selalu membuat dadaku sesak—ketika Frodo berdiri di pelabuhan abu-abu, memandang Middle-earth untuk terakhir kalinya. Itulah hiraeth dalam bentuknya yang paling murni: kerinduan akan tempat yang tak bisa kembali, bahkan jika kau masih berdiri di atasnya. Peter Jackson menyampaikannya melalui bidikan kamera melambat, musik yang merayap pelan, dan ekspresi Elijah Wood yang campur aduk antara lega dan nestapa.
Di 'Howl's Moving Castle', Diana Wynne Jones menciptakan metafora brilian melalui istana berjalan Howl—bangunan rusak yang terus-menerus mencari 'rumah' meski sebenarnya sudah membawa rumah itu di punggungnya. Aku sering merasa Studio Ghibli menguasai seni menggambarkan hiraeth tanpa dialog, seperti adegan Sophie yang menyentuh batu pualam di pasar, tiba-tiba teringat masa kecilnya yang hilang.