LOGIN"Ratu, bukankah Anda yang memerintahkan saya untuk datang tanpa busana zirah malam ini? Kenapa sekarang Anda malah gemetar saat tangan saya menyentuh leher Anda?" Lia, gadis malang yang mati setelah dipermalukan karena cintanya, terbangun di tubuh Arischa. Ratu tiran yang dibenci sekaligus diinginkan semua pria. Kini, dia dikelilingi 10 selir tampan yang masing-masing menyimpan niat tersembunyi. Ada yang ingin membunuhnya, ada yang ingin takhtanya, dan ada yang hanya ingin... tubuhnya. Dulu dia diinjak-injak, sekarang dia yang memegang kendali. Namun, saat sepuluh pria luar biasa ini mulai berebut perhatiannya di atas ranjang, mampukah Lia menjaga hatinya agar tidak jatuh lagi? "Satu malam untuk satu pria? Tidak. Malam ini, aku ingin kalian semua berlutut di hadapanku."
View More"Kamu bilang apa tadi, Lia?"
Arlan bertanya dengan nada mengejek yang sangat tajam. Dia merebut surat itu, meremasnya menjadi bola sampah, lalu melemparnya tepat ke wajah Lia.
"Kamu suka samaku? Kamu gak sadar kalau kamu miskin?”
Lia hanya bisa menunduk. Air matanya pecah, bersatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya yang berjerawat dan kusam.
Gelak tawa pecah di sekelilingnya. Lia merasa dunianya runtuh. Dia berbalik, ingin lari sejauh mungkin dari tawa-tawa yang menghunus jantungnya.
Namun, rasa sakit itu belum berakhir. Saat dia berlari dengan pandangan kabur karena air mata, seorang pengikut Arlan sengaja menjulurkan kaki.
Lia tersandung, tubuhnya terlempar ke arah jalan raya tepat di depan gerbang kampus.
TIIIIIIIIIIT!
Suara klakson truk yang memekakkan telinga adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum benturan keras menghantam tubuhnya.
Di detik-detik saat kesadarannya memudar dan rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan sarafnya, sebuah kemarahan besar meledak.
Jika Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi... batinnya dengan sisa tenaga. Aku tidak mau menjadi orang baik. Aku ingin menjadi wanita yang sangat kuat, sangat cantik, dan sangat berkuasa. Aku ingin pria-pria sombong seperti mereka merangkak di bawah kakiku!
Lalu, kegelapan total menelannya.
***
Aroma kayu cendana yang menenangkan dan keharuman mawar yang sangat kuat menyapa indra penciuman Lia.
Apakah ini surga? Tapi kenapa rasanya sangat wangi?
Lia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar yang luar biasa megah.
Bukan plafon putih rumah sakit, melainkan ukiran emas bergaya barok dengan lukisan mitologi yang artistik. Sebuah lampu kristal raksasa menggantung rendah, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat dan mewah.
Lia mencoba menggerakkan tangannya. Kulitnya terasa sangat halus. Saat dia bangkit duduk, dia menyadari dirinya berada di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra merah marun.
"Aku... belum mati?" bisiknya.
Dia terperanjat mendengar suaranya sendiri. Suara itu tidak lagi cempreng dan parau, melainkan terdengar seperti dawai harpa merdu, rendah, namun memiliki wibawa yang secara alami membuat siapa pun yang mendengar akan merinding.
Lia segera turun dari ranjang. Kakinya yang jenjang dan putih bersih menyentuh lantai marmer yang dingin. Dia berlari menuju sebuah cermin besar dengan bingkai emas murni yang ada di sudut ruangan.
Begitu sampai di depan cermin, napas Lia tercekat.
Wanita di dalam cermin itu bukan lagi Lia yang malang. Dia adalah perwujudan sempurna dari kecantikan yang mematikan.
Kulitnya seputih salju tanpa cacat sedikitpun. Rambutnya panjang terurai hingga pinggang, berwarna merah menyala sepekat darah.
Matanya berbentuk almond dengan iris berwarna emas tajam, dibingkai bulu mata lentik yang tebal. Bibirnya penuh, merah alami, dan menyimpan kesan sombong sekaligus menggoda.
Lia menyentuh wajahnya. "Ini... aku?"
Wanita ini mengenakan gaun tidur tipis berbahan sutra transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sensual pinggang ramping, dada yang membusung indah, dan kaki panjang yang menggoda.
Tiba-tiba, pintu besar berkukir naga di kamar itu terbuka.
Lia menoleh cepat. Seorang pria masuk dengan kepala tertunduk dalam. Pria itu hanya mengenakan jubah tidur sutra yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot-otot dada yang keras dan perut six-pack yang sempurna.
Wajahnya... Lia bersumpah Arlan sekalipun terlihat seperti remah rengginang jika dibandingkan dengan pria ini. Pria ini punya rahang yang tegas, hidung mancung, dan aura yang sangat maskulin, namun saat ini dia terlihat gemetar.
Pria itu berlutut di atas lantai marmer, kepalanya menunduk hingga menyentuh ujung kaki Lia yang telanjang.
"Ratu Arischa... Maafkan hamba karena terlambat sepuluh menit dari waktu yang Anda tentukan," suaranya berat, namun ada nada ketakutan yang kental di sana.
"Hamba mohon... tolong jangan kirim hamba kembali ke Ruang Hukuman Bawah Tanah. Hamba berjanji akan memuaskan Anda malam ini melebihi malam-malam sebelumnya."
Lia mematung. Ratu Arischa? Ruang Hukuman? Memuaskan?
Potongan ingatan asing mulai menyerbu kepala Lia.
Dia sekarang adalah Arischa Van Dhalia, Ratu dari Kekaisaran Aridonia.
Seorang penguasa tiran yang haus darah dan haus pria. Dia memiliki 10 selir resmi yang semuanya adalah tawanan perang atau putra bangsawan yang dipaksa menyerah padanya.
Pria di bawah kakinya ini adalah Rian, selir ke-10. Dia adalah mantan panglima perang dari kerajaan musuh yang dihancurkan Arischa.
Melihat pria setampan ini gemetar ketakutan di kakinya, sesuatu yang liar bangkit di dalam diri Lia. Dendamnya di masa lalu seolah mendapatkan tempat untuk dilampiaskan.
Lia mengangkat dagu Rian dengan ujung jari kakinya, memaksa pria itu mendongak menatap matanya. Mata emas Lia bertemu dengan mata biru Rian yang basah oleh air mata ketakutan.
"Rian..." Lia memanggil namanya dengan nada menggoda yang berbahaya.
Rian terkesiap, napasnya memburu. "Ya, Ratu? Apa pun perintah Anda... hamba akan melakukannya. Apakah Anda ingin hamba melepas baju ini sekarang? Atau Anda ingin menggunakan cambuk lagi?"
Lia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sanggup membuat pria manapun bertekuk lutut. Dia mendekat, membungkuk hingga rambut merahnya menyapu dada bidang Rian, lalu berbisik tepat di telinganya.
“Aku ingin—-”
“Ingin apa ratu?” cecarnya seraya menunduk.
"Aku—ingin sesuatu yang... menantang."
Lia menarik tangan Rian dan menempelkannya ke dadanya yang berdegup kencang, membiarkan pria itu merasakan panas kulitnya. Mata Rian membelalak, wajahnya memerah seketika.
"Katakan," bisik Lia lagi, "apakah kau membenciku, atau kau diam-diam menginginkanku hingga rasanya mau gila?"
Rian menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang besar mulai berani meremas pinggang ramping Lia dengan ragu namun penuh gairah.
"Hamba... hamba tidak berani membenci Anda, Ratu. Karena tubuh hamba... sudah mengkhianati saya sejak pertama kali Anda menyentuh saya."
Lia tertawa kecil, suara tawa yang sangat seksi. Dia baru saja menyadari satu hal. Menjadi Ratu yang jahat ternyata jauh lebih menyenangkan daripada menjadi gadis sampah yang baik hati.
Tapi Lia belum tahu, di luar kamar ini, sembilan selir lainnya yang masing-masing lebih licik dan lebih berbahaya dari Rian sedang merencanakan sesuatu untuk menggulingkan takhtanya.
Begitu sampai di penthouse, Arlan melepas jasnya dengan kasar."Lia, masuk ke kamar. Aku harus memeriksa log data Kael. Ada sesuatu yang aneh dengan suhu prosesornya di pesta tadi," perintah Arlan tiba-tiba.Jantung Lia seakan berhenti. “Apa dia menyadari dongle itu?” batinnya."Mungkin hanya karena udara aula yang panas, Arlan. Biarkan saja dia mati (off) untuk malam ini," Lia mencoba bersuara senormal mungkin.Arlan berhenti melangkah. Dia menatap Lia dengan mata menyipit. "Sejak kapan kau peduli pada efisiensi daya robot ini, Lia? Biasanya kau ingin dia selalu menyala."Arlan berjalan mendekati Robot Kael yang berdiri di sudut ruang tamu. Dia membuka panel kontrol di tengkuk robot itu. Lia menahan napas. Jika Arlan menemukan dongle enkripsi yang masih terpasang, tamatlah riwayat mereka."Buka protokol transmisi," perintah Arlan pada tabletnya.Lia berdiri terpaku di ambang pintu kamar. Dia melihat jemari Arlan menelusuri kabel-kabel halus di leher robot itu.Tiiit."Kosong?" gumam
Lia tersenyum. Senyum yang sempurna, hasil latihan di depan cermin selama berhari-hari. Dia menyapa para menteri dan pengusaha, menjawab pertanyaan teknis mereka tentang AI dengan kecerdasan yang membuat Arlan bangga."Nona Lia, Anda benar-benar otak di balik kemajuan Arlan Corp," puji seorang investor."Saya hanya membantu tunangan saya merealisasikan visinya," jawab Lia manis, sambil tangannya diam-diam meraba saku jas Arlan saat pria itu sibuk mengobrol.Dia mendapatkannya. Dongle enkripsi keamanan Arlan.Lia berpura-pura butuh ke kamar kecil. Arlan mengizinkannya, tapi memberi isyarat pada Robot Kael untuk mengikutinya.Di koridor sepi menuju toilet, Lia berhenti. Dia berbalik menatap Robot Kael."Kael, dengarkan aku," bisik Lia panik. Dia memasukkan dongle itu ke port rahasia di bawah pergelangan tangan robot itu, celah yang dia temukan saat "bekerja" kemarin.Lampu indikator di mata robot itu berkedip biru cepat."Akses... diterima..." suara mesin itu berdesis."Hubungkan ke Wi-
Suara berat Arlan terdengar dari ambang pintu.Lia tersentak. Dia melepaskan tangan robot itu secepat kilat dan berdiri. Jantungnya berpacu kencang.Arlan berdiri di sana, bertelanjang dada, menyandarkan bahunya di kusen pintu. Wajahnya datar, matanya menyipit curiga."Apa yang kau lakukan di sini jam 3 pagi?" tanya Arlan pelan. "Bicara dengan toaster canggihmu lagi?"Lia menarik napas dalam, memasang topeng dingin yang sering dia pakai saat bernegosiasi bisnis di Aridonia."Aku haus," bohong Lia. "Dan aku... aku cuma ingin memastikan kau tidak merusak coding-nya tadi saat mengamuk."Arlan berjalan mendekat. Dia menatap Lia, lalu menatap robot itu. Dia menyentuh leher robot Kael, memeriksa suhu mesinnya."Suhunya naik 2 derajat," gumam Arlan, curiga. Dia menatap Lia tajam. "Kau menyalakannya?""Tidak," jawab Lia cepat. "Mungkin... mungkin sistem pendinginnya bermasalah karena ruangan ini panas. Kau mematikan AC tadi."Arlan menatap Lia lama, mencari kebohongan. Tapi Lia balas menatapn
Tadi, di atas meja itu... ada sekian detik di mana dia lupa nama Kael. Ada sekian detik di mana dominasi Arlan, kepintaran Arlan, dan cara Arlan menyentuhnya membuat otaknya korslet. Arlan benar. Tubuhnya merespons. Dia mendesah. Dia menikmati gesekan itu meski hatinya menjerit menolak.Itu adalah pengkhianatan terburuk.Tiba-tiba, pintu kaca shower terbuka.Lia tersentak, menutupi tubuhnya dengan tangan. Arlan berdiri di sana. Dia sudah berpakaian santai kaos polos hitam dan celana sweatpants abu-abu tapi auranya masih sama mengintimidasinya."Jangan digosok terlalu keras, Sayang," tegur Arlan lembut. Dia masuk ke dalam shower, tidak peduli pakaiannya basah.Arlan mengambil spons dari tangan Lia yang gemetar."Kau akan melukai kulit indah ini," bisik Arlan. Dia mulai membasuh punggung Lia dengan gerakan pelan dan sensual. "Bekas merah di lehermu itu... biarkan saja. Itu tanda tangan seniman di atas karyanya."Lia memejamkan mata, membiarkan Arlan memandikannya lagi. Dia tidak punya t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.