Ada satu anime yang langsung terlintas di benakku ketika mendengar pertanyaan ini, yaitu 'March Comes in Like a Lion'. Ceritanya mengikuti Rei Kiriyama, seorang pemain shogi muda yang hidup sendiri dan terisolasi. Namun, hubungannya dengan tiga bersaudara Kawamoto—Akari, Hinata, dan Momo—menjadi inti kehangatan dalam cerita ini. Akari, sang kakak tertua, mengambil peran seperti ibu bagi Rei, sementara Hinata dan Momo memberinya rasa keluarga yang ia rindukan. Anime ini luar biasa dalam menggambarkan bagaimana ikatan kakak-adik bisa menjadi penyelamat dalam hidup seseorang.
Selain itu, 'My Neighbor Totoro' juga patut disebut. Meskipun bukan serial, film ini menangkap murninya hubungan antara Satsuki dan Mei dengan cara yang memikat. Ketika ibu mereka sakit, mereka saling mengandalkan dan menemukan keajaiban dalam dunia Totoro. Studio Ghibli benar-benar menguasai seni menggambarkan dinamika keluarga yang penuh kasih, dan ini adalah contoh sempurnanya. Setiap kali menonton adegan mereka bersama, aku selalu tersenyum karena kejujuran dan kepolosan yang terpancar.
Ada satu cerita tentang seorang kakak perempuan yang selalu mengorbankan kebutuhan pribadinya demi adiknya. Mereka tumbuh dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan, dan si kakak sering melewatkan makan siang di sekolah hanya untuk menyisihkan uang jajannya. Uang itu kemudian dipakai membeli buku gambar untuk adiknya yang bercita-cita jadi ilustrator.
Ketika kuliah, dia bekerja paruh waktu sebagai guru les hingga larut malam. Semua penghasilannya dipakai membayar biaya kursus menggambar adiknya. Yang bikin haru, dia sendiri sebenarnya ingin kuliah di bidang seni tapi memilih jurusan akuntansi karena lebih mudah dapat kerja. Sekarang adiknya sukses sebagai desainer, dan si kakak selalu bilang itu adalah kebanggaan terbesarnya.
Ada satu film yang langsung terlintas di kepala ketika membahas hubungan kakak-adik yang mengharukan di sinema Indonesia—'Yuni' karya Kamila Andini. Meskipun bukan sepenuhnya fokus pada dinamika kakak-adik, film ini menggambarkan perlindungan dan dukungan tersirat antara Yuni dan kakak perempuannya dengan begitu alami. Adegan-adegan kecil seperti berbagi lipstik atau saling menjaga rahasia keluarga terasa sangat autentik, seolah Kamila Andini menyelipkan potongan kehidupan nyata ke dalam layar.
Yang membuat 'Yuni' istimewa adalah ketiadaan drama berlebihan. Konflik justru muncul dari tekanan sosial sekitar, bukan pertengkaran saudara klise. Kakak-adik di sini digambarkan sebagai tim yang menghadapi dunia bersama, bukan saling menjatuhkan. Nuansa 'quiet rebellion'-nya mengingatkan pada film Asia lain seperti 'Shoplifters', tapi dengan sentuhan lokal yang kental—mulai dari dialog sehari-hari sampai tension antara tradisi dan keinginan pribadi.
Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana hubunganku dengan kakak tiriku berkembang dari dua orang asing menjadi saudara yang saling mendukung. Awalnya, kami bahkan tidak tahu harus bicara apa—ibunya menikah dengan ayahku ketika aku berusia 12 tahun, dan dunia terasa berputar terlalu cepat. Tapi suatu malam, saat aku ketakutan karena badai, diam-diam dia masuk ke kamarku dengan buku 'The Hobbit' dan membacakan untukku sampai aku tertidur. Itulah awal dari ritual kami: setiap akhir pekan, kami berbagi cerita dari buku yang berbeda.
Kini, setelah 10 tahun, kami merencanakan bisnis kecil-kecilan bersama—sebuah kedai buku dengan sudut baca khusus untuk anak-anak yang takut petir. Kakak tiriku itu mengajariku bahwa ikatan darah bukan satu-satunya cara untuk menjadi keluarga; kadang, yang kamu butuhkan hanyalah seseorang yang mau berbagi ketakutan dan impianmu di tengah malam.