เข้าสู่ระบบ"Tolong Sandra. Lahirkan anak untuk suamiku. Aku gak minta apapun selain pernikahanku!" Terjebak pada hutang budi dan rasa bersalah, Sandra tak bisa menolak untuk meminjamkan rahimnya pada sang kakak. Awalnya, ia hanya berpikir bahwa semua itu hanya tentang janin tapi siapa sangka ada rahasia lain yang akhirnya terungkap. Sanggupkah Sandra bertahan ketika cinta dan pengkhianatan menjadi satu?
ดูเพิ่มเติมSandra berlari sepanjang koridor rumah sakit. Hatinya sesak saat Elena menghubunginya lima belas menit yang lalu.
"Kakak!" Sandra membeku sesaat ketika melihat Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat, jemarinya saling meremas seperti menahan ketakutan. Meski bau antiseptik menusuk hidungnya, Sandra tetap maju mendekat. “Sandra… tolong aku.” Elena menatap Sandra dengan memelas. Dengan suara yang sedikit bergetar, berbeda seperti biasanya yang selalu tegas dan keras. "Aku cuma bisa mengandalkanmu, Sandra. Tolong!" Air mata kembali jatuh dipipi Elena yang mulus. "Kenapa...?" Pertanyaan Sandra menggantung karena Elena dengan cepat menyambar. "Aku gak bisa bilang sama Mama atau Papa!" lanjutnya lirih. "Cuma kamu, Sandra. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan pernikahanku. Menyelamatkan pabrik Papa!" Sandra masih tak bisa memahami kalimat Elena. Tatapannya kosong, seolah belum benar-benar memahami arah pembicaraan ini. “Maksud kakak apa?” Elena menelan ludah. Matanya berkabut. “Dokter sudah memastikan… aku gak akan bisa hamil. Tidak sekarang. Tidak juga nanti, Sandra!" Senyum pahit terukir di bibirnya. "Dewantara sudah tahu tentang kecelakaan ini, entah siapa yang memberitahunya. Dan dia tahu tentang kondisiku!" Elena menarik nafas tapi Sandra yang seperti tercekik. Hari bahagia itu hampir tiba, tapi Elena justru kecelakaan. "Dewa mau terus menikahiku asal dalam waktu satu tahun aku bisa memberinya anak. Kalau tidak… dia akan menceraikanku. Menarik investasi!" Jantung Sandra selalu berdetak tak karuan saat nama itu disebut. Dewantara Pratama. Siapa yang tidak mengenalnya? Pria mapan dari keluarga kaya. Anak tunggal pengusaha besar. “Lalu…?” Sandra masih tak bisa menghubungkannya. Elena menggenggam tangan Sandra erat-erat. Terlalu erat. “Aku ingin kamu melahirkan anak untuk Dewa, Sandra!" Tubuh Sandra menegang. Ada desiran halus yang mengalir cepat dalam darahnya. “Apa?” Suaranya nyaris tak terdengar. “Kau harus mengandung anak Dewantara. Anak itu akan lahir atas namaku. Aku mohon, Sandra. Ini satu-satunya cara. Aku gak mau perempuan lain!" Sandra menarik tangannya dengan kasar. “Gak bisa. Itu gila, Kak!" Dadanya naik turun. “Aku gak bisa. Aku gak akan mau menjadi duri dalam daging pernikahan kakakku sendiri.” Elena mulai terisak. “Sandra, hanya satu tahun dan setelah itu kau bisa bebas. Hanya kamu yang bisa melakukannya, Sandra!" Kalimat itu menghantam Sandra. Satu tahun saja katanya? Satu tahun yang akan membawa kebahagiaan bagi Elena, bagi orang tuanya. Lalu apa yang tersisa untuknya? Lahir sebagai anak haram yang tak pernah diharapkan. Selalu menjadi bayangan bagi Elena. Dan akhirnya harus melahirkan anak tanpa suami. Sehina itukah hidupnya? "Sandra!" Elena kembali menatap matanya. Memang hanya Elena yang berdiri di depan pintu saat dia akan terusir keluar rumah. Hanya Elena yang memintanya menemani sekolah ketika dia hampir dinikahkan. Bahkan saat ayahnya tak bisa berkata apa-apa, hanya Elena yang sanggup membuat ibunya luluh membawa Sandra ke rumah yang tak seharusnya ada dia. "Tolong aku, Sandra!" Sandra memjamkan mata sesaat. Harga dirinya bahkan sudah hilang sejak ia dilahirkan. Wajah Elena mengeras saat melihat Sandra tak bergeming. Air mata masih ada, tapi tatapannya berubah dingin. “Kau tega melihatku gagal menikah? Kau tega melihat aku diceraikan Dewa?" Sandra berdiri dengan Kaki yang gemetar. “Aku minta maaf, Kak. Aku benar-benar gak bisa.” Ia pergi sebelum hatinya melemah. Sandra menyerah. ***** Sandra membawa motornya ke butik kecil miliknya. Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya bernafas dengan lega. Di antara kain, manekin, dan mesin jahit, ia merasa menjadi dirinya sendiri, bukan anak haram, bukan adik tiri yang berutang budi. "Mbak. Ada tamu!" Sandra mengangkat kepalanya. Menatap salah satu pegawainya. "Siapa?" Harusnya mereka tak menerima tamu lagi. Sudah jam pulang dan mereka sudah lembur dari satu jam yang lalu. Tanpa menunggu dipersilakan masuk, laki-laki itu berdiri di ambang pintu. Setelan hitam rapi membungkus tubuh tinggi itu dengan sempurna. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi, tapi sepasang mata gelapnya langsung mengunci Sandra seperti serigala yang telah menemukan mangsa. "Kamu... bisa pulang." Sandra susah payah mengeluarkan kata-kata. Asisten kecilnya mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua di ruang kerja Sandra. “Pak Dewantara...” suara Sandra tercekat. “Gaun Kak Elena sudah selesai. Tinggal fitting saja. Mungkin besok....." "Kita perlu bicara!" Dewantara melangkah masuk lalu duduk di sofa. Menghentikan kata-kata Sandra begitu saja. Sandra menelan ludah sambil berdiru dan duduk di depan calon kakak iparnya. “Tentang apa?” “Jangan berpura-pura, Sandra.” Dewantara menatap wajahnya lekat. “Tentang permintaan Elena. Kamu pasti sudah tahu!" Sandra mengangkat dagu sedikit ragu. Jadi, Dewantara tak menolak keinginan gila calon istrinya? Sandra menatap Dewantara dengan susah payah agar terlihat berani. “Jawabanku tetap sama, Pak Dewantara!" Sudut bibir Dewantara terangkat tipis, sinis. “Kau pikir kau punya pilihan?” “Aku tidak akan merusak pernikahan kakakku,” Sandra kembali menegaskan. “Itu sudah keputusan final.” Dewantara tertawa pelan. Tidak ada kehangatan di sana. “Justru karena penolakanmu itulah, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi!" Sandra mengernyit. “Maksud kamu?" Pria itu melirik sekeliling butik, seolah menilai sesuatu yang remeh. “Tidak akan ada pernikahan karena Elena tak akan bisa punya anak!" Ia kembali menatap Maya. “Dan itu artinya… tidak ada lagi kerja sama antara perusahaanku dan pabrik milik ayahmu.” Sandra menghirup nafas pelan-pelan. “Pabrik ayah…?” lirihnya. “Kamu tahu kan, pabrik itu nyaris bangkrut,” potong Dewantara dingin. “Kau pasti tahu itu. Satu-satunya alasan mereka masih bertahan adalah suntikan dana dari keluargaku. Denganku.” Sandra mencondongkan tubuhnya mundur. Baginya dunia serasa cepat berputar. "Kamu... mengancamku?" “Aku hanya menjelaskan konsekuensinya.” Dewantara mendekat lagi. “Kau menolak, aku pergi. Aku gak butuh perempuan cacat seperti Elena. Dan ayahmu akan kehilangan segalanya." Mata Sandra panas. Ia tak mengira Dewantara akan tega melakukan semua itu. "Bukankah kamu mencintai Elena?" Sandra menatap laki-laki arogan itu dengan bingung. "Cinta? Cinta saja tak cukup. Keluarga kami mewarisi kekayaan besar yang tak bisa putus saja di tengah jalan. Orang tuaku butuh penerus." Dewantara menunduk sedikit, sejajar dengan wajahnya. “Dan jangan lupa... aku bisa mendapatkan semua dengan mudah." Sandra mengepalkan tangan, hingga kukunya menusuk telapak sendiri. “Apa pun caranya,” ulang Dewantara pelan. “Dalam satu tahun.” Keheningan menggantung, menekan paru-paru Sandra hingga terasa nyeri. Hatinya menjerit sementara akalnya memberontak. "Jangan lupa, siapa yang mengabariku untuk datang dan menolong Elena malam itu!" Sandra menegang. "Kau bisa bayangkan apa yang Elena lakukan jika ia tahu semuanya?" Dewantara tersenyum samar. “B-baik! Aku mau!” teriak Sandra tiba-tiba. Suaranya pecah, penuh keputusasaan. “Aku mau! Aku mau melakukannya!" Dewantara terdiam sejenak. Lalu, perlahan, senyum samar terukir di wajahnya. Senyum kemenangan. “Bagus,” katanya singkat. "Tapi aku punya syarat!" Sandra buru-buru mengucapkannya. Satu alis Dewantara terangkat, senyum miring tipisnya seolah tertarik dengan apa yang Sandra ingin ucapkan. "Sebutkan."Malam turun perlahan di villa itu.Lampu-lampu taman menyala redup.Angin berembus pelan, membawa suasana yang seharusnya tenang—namun tidak bagi Sandra.---Di dalam kamar—koper kecil sudah terbuka di atas ranjang.Beberapa pakaian mulai tersusun rapi.Tidak banyak.Hanya yang benar-benar ia butuhkan.---Sandra berdiri diam di depannya.Tangannya menggantung di sisi tubuh.---Keputusan itu sudah ia ambil.Namun tetap saja—hatinya bergetar.---“Ini nyata…”bisiknya lirih.---Ia benar-benar akan pergi.Meninggalkan semuanya.---Tok.Tok.---Ketukan pelan di pintu membuat Sandra tersentak.---“Mbak Sandra…?”---Suara itu.Maya.---Sandra menelan ludah.Sejenak ragu.Namun akhirnya—“Masuk, Maya…”---Pintu terbuka perlahan.Maya masuk.---Langkahnya terhenti saat melihat koper di atas ranjang.---Matanya langsung membesar.---“Mbak… ini apa?”---Sandra tidak langsung menjawab.---Ia hanya menatap Maya.---Lalu—“aku mau pergi.”---Hening.---Beberapa detik—Maya tida
Sore itu, villa terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada suara langkah Dewantara.Tidak ada nada dingin yang mengatur segalanya.Hanya…hening.---Sandra duduk di tepi jendela.Tangannya mengusap perutnya perlahan.---Lima bulan.---Perutnya kini mulai terlihat jelas.Nyata.---Bukan lagi sekadar rahasia.---Namun anehnya—ia justru merasa semakin sendirian.---Kata-kata Elena.Tatapan Dewantara.Sikap semua orang di sekelilingnya.---Semuanya seperti potongan puzzle yang belum tersusun.---Dan hari ini—Sandra memutuskan satu hal.---Ia harus tahu.---Bukan dari dugaan.Bukan dari kata orang.---Namun dari…kebenaran.---Dengan langkah pelan—Sandra keluar dari kamar.---Ia memastikan Maya tidak melihatnya.---Langkahnya ringan.Namun jantungnya berdebar.---Ia tahu—ini berisiko.---Namun ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian.---Lorong villa terasa panjang.Sepi.---Sandra berjalan menuju ruang kerja Dewantara.---Pintu itu biasanya terkunci.Namun ka
Langit mulai gelap saat mobil Elena berhenti di depan rumah sederhana itu.Rumah yang kini terasa… tidak asing lagi baginya.---Tangannya masih menggenggam setir.Namun ia tidak langsung turun.---Dadanya naik turun.Pikirannya penuh.---Tentang Desi.Tentang Dewantara.Tentang dirinya sendiri.---Dan satu nama yang kini menjadi tempat pelariannya—Bastian.---Elena akhirnya membuka pintu mobil.Melangkah keluar.Udara sore terasa dingin menyentuh kulitnya.---Ia berdiri sejenak di depan pintu rumah itu.Seolah memastikan—bahwa ia benar-benar ingin masuk.---Tok.Tok.---Ia mengetuk.---Tidak lama—ponselnya bergetar.---Nama Bastian muncul di layar.---“Elena?”---“Iya… aku di depan rumahmu.”---“Oh…”Suara Bastian terdengar sedikit tergesa.---“Aku masih di rumah sakit. Ada pasien darurat.”---Elena terdiam.---“Kalau kamu tidak keberatan…”lanjut Bastian,---“masuk saja dulu. Kuncinya ada di bawah pot bunga.”---Elena melirik.Benar.---Ia mengambil kunci itu.-
Suara mesin di pabrik itu tidak lagi sekuat dulu.Beberapa unit berhenti.Sebagian lain masih berputar—namun tersendat.---Kain-kain yang biasanya menumpuk rapi kini berkurang.Beberapa meja kerja kosong.Para pekerja saling melirik.Bingung.---Di ruang kantor—Desi berdiri dengan wajah tegang.Telepon di tangannya belum juga berhenti berdering sejak pagi.---“Bagaimana bisa semuanya dibatalkan sekaligus…?”gumamnya frustrasi.---Di hadapannya, laporan keuangan terbuka.Angka-angka merah mulai mendominasi.---Pengeluaran tetap berjalan.Gaji karyawan.Biaya bahan.Operasional.---Namun pemasukan—nyaris terhenti.---Desi menekan pelipisnya.Napasnya berat.---“Kita tidak bisa seperti ini terus…”---Elena yang duduk di seberangnya hanya diam.Matanya fokus pada layar laptop.Jemarinya mengetik cepat.---Menghitung.Mengurangi.Mencari celah.---Namun hasilnya—tetap sama.---“Minus,” bisiknya pelan.---Desi menatapnya.“Seberapa parah?”---Elena menutup laptopnya perlah
Desi berjalan mondar mandir di kamarnya. Sesekali ia menatap ponsel yang terus saja ada dalam genggaman. Ia merasa aneh dengan Elena. Seharian ini, tak biasanya Elena terus menolak panggilannya. "Kenapa dengan anak itu!" Wiryawan yang sedang sibuk di meja kerjanya, sama sekali tak memperhatikan
"Siang!" Anita yang sedang merapikan stok kain mendadak menoleh ketika pintu kaca terbuka dan seorang pria tinggi masuk sambil membawa beberapa paper bag eksklusif berlogo restoran mahal."Ya?" Anita terkejut. Butiknya biasa ramai dengan kaum hawa, kalaupun ada laki-laki, karena mereka menemani
"Kau bisa langsung ke kantor setelah menurunkan aku!" Ucap Elena tanpa menoleh. Matanya menatap jalanan lewat kaca jendela di sampingnya. Setelah malam tadi, ia mulai enggan untuk mendekati Dewantara. Dewantara menoleh sekilas. “Sejauh apa prosesnya? Sandra bilang baru pemeriksaan awal.” Tanya De
Sandra menarik kursi di depan sofa. “Silakan duduk.... Tante,” ucapnya ragu. Desi tak menjawab. Ia tetap berdiri, menatap ruangan itu dengan sorot mata tajam, menyapu sofa, meja, pintu kamar mandi, bahkan jendela yang sedikit terbuka. Sambil terus berjalan hingga berhenti di sudut jendela. Menata






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น