LOGIN"Tolong Sandra. Lahirkan anak untuk suamiku. Aku gak minta apapun selain pernikahanku!" Terjebak pada hutang budi dan rasa bersalah, Sandra tak bisa menolak untuk meminjamkan rahimnya pada sang kakak. Awalnya, ia hanya berpikir bahwa semua itu hanya tentang janin tapi siapa sangka ada rahasia lain yang akhirnya terungkap. Sanggupkah Sandra bertahan ketika cinta dan pengkhianatan menjadi satu?
View MoreDesi berjalan mondar mandir di kamarnya. Sesekali ia menatap ponsel yang terus saja ada dalam genggaman. Ia merasa aneh dengan Elena. Seharian ini, tak biasanya Elena terus menolak panggilannya. "Kenapa dengan anak itu!" Wiryawan yang sedang sibuk di meja kerjanya, sama sekali tak memperhatikan apapun. Dulu, ia memang takut jika Desi akan melakukan apapun yang membahayakan, tapi sejak kejadian itu, ia sama sekali tak peduli. "Mas. Kamu gak nanya kenapa aku khawatir seharian ini?" Wiryawan hanya menoleh sekilas lalu kembali menunduk. Menatap nota-nota yang bertebaran di mejanya. Setiap akhir bulan, ia memang harus mencocokkan data laporan barang yang tersisa. Meskipun ada banyak staf yang sudah melakukan pekerjaannya, tapi tetap saja, Wiryawan perlu menyamakannya. "MAS!" "Mas. Elena tak seperti biasanya. Aku takut dia melakukan sesuatu!" Desi merendahkan suaranya. Ia menyerah. Meluapkan marahnya pada Wiryawan tak akan menyelesaikan apapun. Justru laki-laki itu akan sem
Dewantara telah berdiri di depan pintu. Laki-laki itu seperti jalangkung bagi Sandra. yang tiba-tiba muncul tanpa diminta lalu pergi tanpa berita. Dan di sampingnya… perempuan yang mungkin saja dimaksud Elena. Sandra tak bisa berkata apa-apa selain tersenyum. Ia segera melangkah mendekat ke arah Dewantara. Mereka saling memeluk sesaat. Bahkan, Dewantara masih sempat melayangkan ciuman di keningnya. Sedangkan perempuan itu, masih berdiri di dekat mereka dengan wajah santai. Rambut panjangnya diikat setengah, dengan wajah yang masih tampak segar meskipun tetap saja terlihat sedikit lelah. Senyum tipis bermain di bibirnya seolah situasi ini tidak menegangkan sama sekali."Apa yang kau gumamkan tadi? Getah? Getah apa?" Dewantara kembali bertanya saat mereka berjalan di sisi sofa dan duduk di sana. Sandra berusaha menelan ludahnya. “Oh... itu...." Ia benar-benar tidak siap menghadapi Dewantara sekarang. Apalagi ia baru saja mengeluhkan tentang hubungan mereka. Tatapannya me
"Ah tidak, Kak. Aku gak tahu apa-apa!" Sandra menggeleng cepat. Ia tak ingin buru-buru memberikan kesimpulan. Bisa saja yang Elena lihat bukan perempuan yang ia maksudkan. Elena mendengus lalu menyandarkan tubuhnya. Tangannya saling tertaut dan bermain di atas perutnya. "Kamu yakin? benar-benar gak tahu siapa perempuan itu?" Elena maaih bertanya dengan mata menerawang di langit-langit ruangan. Tanpa sadar, Sandra tertawa kecil. "Kakak ini aneh. Aku gak terlalu kenal dengan suami Kakak itu!" Katanya menekankan kalimat suami pada kakaknya, agar Elena tahu posisi Sandra bagi mereka. "Bagaimana mungkin aku tahu orang-orang disekitar Pak Dewantara. Kakak tahu sendiri, hari-hariku penuh dengan kain dan benang!" Elena menelan ludah. Apa yang dikatakan Sandra memang ada benarnya. Sejak dulu, Sandra selalu menjadi bayang-bayangnya, tak pernah sekalipun ingin menunjukkan dirinya sebagai putri Wiryawan yang lain. ""Ya. Aku tahu!" Suara Elena terdengar putus asa. "Mungkin aku ya
Paginya, Elena keluar dari kamar dengan langkah pelan. Rambutnya sudah rapi, pakaian kerjanya juga terlihat sempurna seperti biasa. Namun di balik penampilan itu, pikirannya masih penuh dengan kejadian semalam.Ia melirik ke arah ruang makan. Hanya ada dua orang di sana. Helen dan suaminya, Bagaskara. Kedua mertuanya tampak santai berbincang, hal yang tak pernah ia lihat pada orang tuanya. Helen sedang menuangkan teh ke dalam cangkir, sementara Bagaskara membaca koran dengan santai.Saat Elena telah mendekat. Helen tersenyum. “Pagi, Elena.”Elena memaksakan senyum kecil. “Pagi, Ma. Pa."Bagaskara menurunkan korannya sedikit. “Tidurmu nyenyak, Elena?"Elena mengangguk. “Lumayan, Pa." Ia melirik kursi-kursi yang kosong. Juga Kursi Dewantara.“Kau mencari Dewantara?” Helen bertanya lembut, “Dewa sudah berangkat pagi sekali. Dia bilang ada sesuatu yang harus ia kerjakan."Elena sedikit terkejut. “Pagi sekali?”“Iya,” jawab Helen sambil duduk. “Bahkan sebelum aku selesai menyiapkan sarap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews