Masuk"Tolong Sandra. Lahirkan anak untuk suamiku. Aku gak minta apapun selain pernikahanku!" Terjebak pada hutang budi dan rasa bersalah, Sandra tak bisa menolak untuk meminjamkan rahimnya pada sang kakak. Awalnya, ia hanya berpikir bahwa semua itu hanya tentang janin tapi siapa sangka ada rahasia lain yang akhirnya terungkap. Sanggupkah Sandra bertahan ketika cinta dan pengkhianatan menjadi satu?
Lihat lebih banyakHari yang dinanti pun tiba. Hotel mewah di kawasan Jogja malam itu diselimuti atmosfer kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya berkilauan, menyinari karpet merah yang dilewati oleh para tamu undangan kelas atas. Jajaran menteri, pengusaha sukses, hingga sosialita papan atas hadir demi acara lelang amal eksklusif yang diadakan oleh desainer papan atas, Nadine Wirahadi.Di antara kerumunan tamu, Rasya Kumala tampil anggun dengan gaun malamnya bersanding dengan Viviane yang mengenakan gaun hitam berbelahan tinggi. Mata Rasya menyipit tajam saat menangkap siluet Sandra atau yang lebih mereka kenal sebagai Momy Aleya—sedang berbincang akrab dengan Nadine di dekat panggung utama. Sandra malam itu tampak teramat memesona dengan salah satu gaun Arunika rancangannya sendiri, sebuah perpaduan tenun dan sutra pastel yang memancarkan aura berkelas."Lihat perempuan itu," desis Rasya, mempererat cengkeramannya pada gelas kecil di tangannya. "Sok suci sekali dia berdiri d
Hari-hari berjalan biasa bagi Sandra. Studionya memang selalu ramai hanya menambah jam saja. Di satu sudut, mesin jahit menderu tiada henti menyelesaikan pesanan di bawah komando Rian. Sementara di sudut lain, di bawah pengawasan Sandra, sepuluh gaun mahakarya untuk lelang amal Bu Nadine perlahan mulai mewujud. Potongan kain batik sutra bermotif kontemporer berpadu apik dengan brokat prada, menciptakan siluet anggun yang memukau mata.Hingga pada sore hari di hari kelima, deru mesin mobil yang sangat familiar memecah keheningan pekarangan rumah Joglo.Sandra yang baru saja keluar datang berhenti dan membalikkan badan. Jayadi melangkah turun dengan senyum lebar, disusul oleh Dewantara yang langsung mengancingkan jas kasualnya."Papa! Mas Tara!" seru Sandra, matanya berbinar riang menatap kedatangan dua pria itu."Halo, Sandra. Wah, menantu Papa makin bersinar saja setelah pameran kemarin," sapa Jayadi hangat, menepuk pelan bahu Sandra.Dari arah dalam rumah, Helen buru-buru keluar ber
Pagi harinya, Sandra bergegas ke studio hingga tak sempat sarapan karena telpin mendadak dari stafnya. "Mbak Sandra, ada tamu di ruangan Mbak Sandra. Katanya dari Jakarta dan ingin bertemu langsung dengan Mbak," lapor seorang staf administrasi begitu Sandra menjejakkan kakinya. Sandra mengangguk sambil merapikan blazernya.. "Katanya namanya Ibu Nadine, Mbak." Mendengar nama itu, senyum Sandra langsung mengembang. Sandra buru-buru melangkah ke ruang tamu studionya. "Halo, Sandra! Ya ampun, selamat ya atas sukses besarnya di Maison Veloura kemarin!" sapa Nadine begitu melihat Sandra masuk. Wanita sosialita itu langsung bangkit dan memeluk Sandra dengan hangat. "Terima kasih banyak, Bu Nadine. Suatu kehormatan Bu Nadine berkenan datang," jawab Sandra ramah seraya mempersilakan Nadine duduk kembali. Nadine tertawa renyah, meletakkan tas jinjingnya ke samping sofa. "Tentu saja. Aku harus sering-sering berkunjung ke studio kamu ini, yang sekarang jadi incaran semua fashion e
Rasya memaki sendiri sambil menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat karena amarah yang memuncak. Rencana besarnya untuk membuat Helen histeris dan memicu keributan besar di keluarga Dewantara hancur berantakan hanya dalam hitungan detik. Kepalanya terasa pening, tidak habis pikir mengapa reaksi Helen justru sedatar dan sangat santai itu. Kini, ia memasuki mobil lalu bergegas pergi meninggalkan kediaman Dewantara. Tanpa Rasya tahu jika Jayadi, ayah Dewantara melepas kacamatanya sambil bersandar di kursinya. Pria paruh baya itu menggelengkan kepala, lalu meraih ponsel di atas meja. Ia menekan sebuah nomor, menghubungkan panggilan konferensi antara dirinya, sang istri yang berada di Yogyakarta, dan putra tunggalnya, Dewantara, yang saat ini sedang dalam perjalanan bisnis dengan Ardi. Begitu semua saluran terhubung, suara tawa renyah langsung pecah dari speaker ponsel saat laki-laki tambun itu menceritakan tuduhan Rasya. "Papa be
"Siang!" Anita yang sedang merapikan stok kain mendadak menoleh ketika pintu kaca terbuka dan seorang pria tinggi masuk sambil membawa beberapa paper bag eksklusif berlogo restoran mahal."Ya?" Anita terkejut. Butiknya biasa ramai dengan kaum hawa, kalaupun ada laki-laki, karena mereka menemani
"Kau bisa langsung ke kantor setelah menurunkan aku!" Ucap Elena tanpa menoleh. Matanya menatap jalanan lewat kaca jendela di sampingnya. Setelah malam tadi, ia mulai enggan untuk mendekati Dewantara. Dewantara menoleh sekilas. “Sejauh apa prosesnya? Sandra bilang baru pemeriksaan awal.” Tanya De
Sandra menarik kursi di depan sofa. “Silakan duduk.... Tante,” ucapnya ragu. Desi tak menjawab. Ia tetap berdiri, menatap ruangan itu dengan sorot mata tajam, menyapu sofa, meja, pintu kamar mandi, bahkan jendela yang sedikit terbuka. Sambil terus berjalan hingga berhenti di sudut jendela. Menata
Sandra bersiap ke rumah sakit setelah Elena menelponnya pagi-pagi. Jadwal pemeriksaan. Hal yang kadang membuat Sandra berdebar. Sesuai dengan arahan, ia segera datang menemui Bastian. Setelah memastikan serangkaian dokumen, Bastian meminta beberapa tenaga kesehatan untuk menyiapkan yang dibutuhkan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak