Short
Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah

Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah

By:  AnonimaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Adik laki-lakiku mendorongku jatuh ke jurang, nyawaku berada di ambang kematian. Namun, ibu yang merupakan kepala tim penyelamat, malah hanya memedulikan pergelangan tangan adikku yang terkilir. Dengan napas tersengal-sengal, aku memohon padanya agar menyelamatkanku. Ibu malah menatapku dengan wajah dingin dan berkata, "Adikmu sudah terluka, kenapa kamu nggak melindunginya? Masih saja berpura-pura lemah di depanku? Kalau begitu, kamu tinggal saja di sini sendirian dan renungkan kesalahanmu!" Dia lalu berbalik dan memerintahkan seluruh petugas penyelamat untuk pergi, melarang siapa pun menolongku. Akhirnya, aku meninggal sendirian di daerah terpencil. Setelah mendengar kabar kematianku, ibu menjadi gila dan memeluk jasadku yang sudah membusuk sambil terus memanggil, "Anakku sayang."

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah meninggal, arwahku melayang ke sisi ibu. Ibu yang barusan menatapku dengan wajah dingin, kini malah menarik tangan adikku dan mengusapnya perlahan dengan penuh rasa sayang.

"Arsana, Ibu akan segera bawa kamu ke rumah sakit. Tanganmu pasti nggak apa-apa!" Ibu hendak membawa Arsana pergi ketika seorang paman dari tim penyelamat menghentikan mereka dan berkata dengan ragu, "Mira, Nayaka masih tergeletak di bawah jurang, sebaiknya kita evakuasi dia dulu."

Wajah ibu langsung menjadi ketus. "Untuk apa selamatkan dia? Dia bahkan gagal melindungi adiknya. Aku saja belum buat perhitungan sama dia. Biarkan dia sendirian di bawah sana, jangan ada yang tolong dia!"

Setelah berkata demikian, dia bahkan menoleh dan meludah ke tanah. Aku tersenyum getir. Padahal jelas Arsana yang mendorongku dengan kuat hingga pergelangan tangannya terkilir, tetapi di mata ibu malah aku yang dianggap tidak melindunginya.

Paman dari tim penyelamat itu tampak tidak tega. "Mira, tapi Nayaka terbaring di sana nggak bergerak sama sekali. Bisa jadi benar-benar terjadi sesuatu. Bagaimana kalau ...."

Ibu memutar mata dengan kesal dan melambaikan tangan dengan jijik. "Jangan pedulikan dia. Pasti dia cuma pura-pura karena takut dimarahi. Aku nggak akan tertipu. Dari ketinggian segitu memangnya bisa terjadi apa?"

"Biarkan saja dia pura-pura sampai puas lalu jalan kembali sendiri. Kali ini aku harus kasih dia pelajaran supaya aku nggak kesal setiap kali melihatnya!"

Setiap kata yang diucapkan ibu terasa seperti pisau yang mengiris jantungku, membuatku perih tak tertahankan. Dia adalah kepala tim penyelamat yang telah mengikuti operasi penyelamatan yang tak terhitung jumlahnya.

Seharusnya dia tahu bahwa ada begitu banyak faktor di luar prediksi di alam liar. Lengah sedikit saja bisa berujung kematian dan korban harus segera dievakuasi ke rumah sakit. Seperti jurang yang dia kira tidak terlalu tinggi itu, ternyata di bawahnya ada sebongkah batu tajam yang menonjol. Dan aku, jatuh tepat di atasnya.

Batu itu menancap dalam ke punggungku, menciptakan lubang besar yang dipenuhi darah. Namun, dia mengabaikan semua permohonanku. Dia hanya peduli pada pergelangan tangan adikku yang terkilir, bahkan melontarkan kata-kata kejam padaku.

"Apa gunanya kamu sudah sebesar ini, adik saja nggak bisa kamu lindungi. Benar-benar sia-sia aku melahirkanmu!" Dia bahkan masih belum puas, lalu berbalik dan memerintahkan seluruh anggota tim untuk segera pergi dan melarang siapa pun menolongku. Kalimat itulah yang memadamkan harapan hidup terakhirku.

'Ibu, apakah aku benar-benar sebegitu menjijikkan bagimu? Bahkan ketika aku hampir meninggal pun, kamu tetap tidak mau memberiku sedikit pun kasih sayang seorang ibu. Kalau memang begitu, nyawa ini aku kembalikan padamu hari ini.'

Paman itu masih ingin terus membujuknya, tetapi Arsana tiba-tiba menjerit kesakitan. "Ibu, pergelangan tanganku sakit sekali. Tanganku nggak akan patah, 'kan? Aku takut sekali."

Ekspresi ibu seketika berubah dari jijik menjadi panik. Dia langsung membawa kembali peralatan penyelamatan ke dalam mobil.

"Jangan khawatir, Arsana. Ibu nggak akan membiarkan ada sesuatu yang terjadi padamu. Kita segera ke rumah sakit."

Setelah itu dia berbalik dan membentak orang-orang lain, "Cepat pergi! Kalau sampai pengobatan Arsana tertunda, aku buat perhitungan sama kalian!"

Para anggota tim penyelamat saling memandang satu sama lain, lalu menghela napas dan naik ke mobil bersiap untuk pergi. Perlakuan yang sangat timpang seperti ini, sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku.

Akan tetapi, kenapa jantungku masih saja terasa sakit? Bukankah seharusnya aku sudah terbiasa dari dulu?
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status