LOGINAdik laki-lakiku mendorongku jatuh ke jurang, nyawaku berada di ambang kematian. Namun, ibu yang merupakan kepala tim penyelamat, malah hanya memedulikan pergelangan tangan adikku yang terkilir. Dengan napas tersengal-sengal, aku memohon padanya agar menyelamatkanku. Ibu malah menatapku dengan wajah dingin dan berkata, "Adikmu sudah terluka, kenapa kamu nggak melindunginya? Masih saja berpura-pura lemah di depanku? Kalau begitu, kamu tinggal saja di sini sendirian dan renungkan kesalahanmu!" Dia lalu berbalik dan memerintahkan seluruh petugas penyelamat untuk pergi, melarang siapa pun menolongku. Akhirnya, aku meninggal sendirian di daerah terpencil. Setelah mendengar kabar kematianku, ibu menjadi gila dan memeluk jasadku yang sudah membusuk sambil terus memanggil, "Anakku sayang."
View MoreIbu gemetaran, lalu berjongkok untuk memunguti foto-foto itu satu per satu. Di setiap foto, proses Arsana mendorongku terekam dengan jelas. Tangan yang belum sempat dia tarik kembali terlihat begitu mencolok.Ternyata, sejak awal Paman Sandi tidak percaya aku adalah orang seperti yang dikatakan Arsana. Dia mendatangi warga sekitar untuk mencari saksi. Barulah diketahui bahwa pada hari kejadian, ada sebuah tim geologi yang menempatkan alat pendeteksi di bawah sebuah pohon besar di tepi jurang itu. Alat tersebut merekam dengan jelas seluruh proses kejahatan Arsana.Aku menatap Paman Sandi yang kini ditumbuhi banyak janggut halus di wajahnya, perasaan berterima kasih muncul dari lubuk hatiku. Demi kebenaran kematianku, dia berlari ke sana kemari tanpa kenal lelah. Jika ada kehidupan berikutnya, aku pasti akan membalas kebaikannya.Ibu berbalik dan menampar Arsana dengan keras dan suaranya bergetar, "Kenapa? Dia kakak kandungmu. Kenapa kamu tega melakukannya?"Kepala Arsana terlempar ke sa
Gluduk ....Di luar, kilat menyambar terang dan menerangi wajah Arsana. Wajah yang dulu selalu tampak patuh dan menggemaskan itu, kini seolah berubah menjadi wajah iblis di mata ibu.Ibu tertegun, suaranya gemetar saat membuka mulut. "Tapi, kakakmu dulu ...."Belum sempat Ibu menyelesaikan kalimatnya, Arsana sudah menyela dengan kesal, "Dulu dia memang kasih tahu kamu. Lalu apa akhirnya? Bukankah kalian berdua tetap memperlakukannya seperti transparan?"Seolah menyadari nada bicaranya terlalu keras, Arsana segera meredam ekspresinya dan kembali memasang wajah lembut seperti biasanya. "Ibu, selama Ayah nggak menceraikanmu, kamu akan jadi istrinya selamanya. Perempuan di luar sana nggak akan pernah bisa mengancam posisimu."Arsana mengusap air mata di wajah Ibu dengan lembut. "Ibu, pikirkan baik-baik. Aku yakin kamu pasti akan memaafkan Ayah."Setelah itu, dia kembali mengenakan headset dan menutup pintu kamar tidurnya.Ibu tetap terdiam, pikirannya kosong. Sampai tanpa sengaja dia mendo
Di mata Arsana melintas secercah rasa kesal, tetapi di wajahnya tetap terpasang ekspresi penuh kepiluan. "Ibu, aku juga nggak tahu. Aku cuma bilang Kakak berkata nggak mau tinggal di rumah yang ada aku di dalamnya. Aku nggak pernah bilang dia kabur dari rumah. Mungkin setelah mendorongku, dia memang berniat pergi dari rumah, tapi nggak nyangka akhirnya malah mencelakakan dirinya sendiri."Amarah membuncah di dalam dadaku. Aku sudah mati, tetapi Arsana masih saja menjelek-jelekkanku.Selesai berkata demikian, Arsana tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di lantai dengan suara keras. Air matanya mengalir deras. "Kakak, aku minta maaf. Kalau waktu itu aku nggak menghindar, seharusnya yang jatuh ke bawah jurang adalah aku. Kalau begitu, kamu nggak akan mati."Setiap kalimat Arsana seolah menyiratkan bahwa orang yang seharusnya mati adalah dirinya. Orang tua yang begitu memanjakannya mana mungkin sanggup melihatnya seperti itu. Ibu tersentak seolah baru sadar, dia menghapus air matanya lalu m
Mata Ibu seketika membelalak. Dia meraih tangan perawat itu dan bertanya dengan panik. "Orang yang kucari itu namanya N-A-Y-A-K-A. Sus, kamu salah dengar nggak? Jangan-jangan cuma nama yang kebetulan sama?"Perawat itu menepis tangannya dengan tidak sabar. "Nggak salah. Namanya memang itu. Jasadnya ditemukan di bawah sebuah jurang, meninggal karena kehabisan darah."Ibu terhuyung mundur beberapa langkah, wajahnya seketika pucat pasi, seolah tidak berani memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Nggak mungkin. Aku nggak percaya. Dari ketinggian segitu, mana mungkin sampai mati?""Di punggung jenazah ada sebuah lubang. Kami menduga ada benda tajam yang menembus ke dalam tubuhnya. Kasihan sekali, sudah meninggal beberapa hari tapi nggak ada yang menemukan. Jenazahnya bahkan sudah mulai berbau."Kata-kata perawat itu menghancurkan sisa harapan terakhirnya. Dia berjalan sempoyongan menuju kamar jenazah. Saat sampai di depan pintu, tenaganya seakan lenyap. Dia berdiri lama di sana tanpa sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.