Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
A Life Ransomed in Lies

A Life Ransomed in Lies

To ransom my husband from the black market, I threw myself into relentless work, earning every penny I could. My son suffered alongside me, sharing in my exhaustion and deprivation. Years of malnutrition had left him vulnerable, and eventually, he was diagnosed with leukemia. I wept as I scraped together money from relatives and friends to pay for his chemotherapy. But on the way to the hospital, a sudden, unbearable pain wracked him. In his struggle, he accidentally bit off his own tongue and died in agony before we even reached the doors. I clutched my son's ashes and went straight to the black market, determined to use the borrowed money to bring my husband back. The moment I stepped in, I overheard a conversation between Joe Masseria and his men. "Boss, Sandra comes every month with her payments. She's suffered a lot just to ransom you," one said. At that moment, a widow—Joe's sister-in-law, long mourning her late husband—appeared beside him. "Joe," she said, her voice calm but cutting, "all these years, you've protected me from harm, even giving me the title of a mob boss's wife. But you've kept Sandra in the dark the whole time. Isn't that… terribly unfair to her?" Joe's eyes were cold, devoid of any pity for me. He scoffed. "Fairness is ruthless. She's had all this love from me. What's a little suffering compared to that? "But she's waited for me all these years. It's time I returned—before she loses her mind and comes after you. "If she's still sensible, I'll make sure her and her son's quality of life improves a bit." I understood everything in that instant. Holding my son's ashes to my chest, I wept until it felt as if my heart would shatter. Joe—your so-called fairness killed my son. And I am done waiting for you.
Short Story · Romance
88 viewsCompleted
Read
Add to library
Red Shoes Murderer

Red Shoes Murderer

Cathalea
Kota Manhattan gempar. Di musim semi yang cerah, mayat seorang gadis ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tangan dan kakinya terikat, sepasang kakinya yang dibungkus sepatu berwarna merah hancur tak berbentuk menyisakan tulang kaki yang remuk. Tak terbayangkan betapa besar rasa dendam yang dimiliki pelaku terhadap korban hingga ia berbuat sebrutal itu. Sebuah misteri terpahat di tungkai yang tersisa, berupa angka tiga yang dibuat dari darah. Tidak ada yang bisa mengerti makna angka yang tertulis itu. Apakah korban ke-3? Atau ... tanggal pelaku membunuh korban? Atau ... sebuah isyarat akan ada korban berikutnya dalam waktu tiga hari? Kent Bigael, detektif dari unit pembunuhan langsung turun ke TKP. Pria yang terkenal temperamental itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Dalam 20 tahun karirnya sebagai polisi, baru kali ini ia melihat korban dengan kondisi begitu. Korban yang dibakar ada, yang tusuk dan dimutilasi pun banyak. Namun, korban dengan kaki remuk baru kali ini ia temukan. Bersama partnernya, detektif Joey, Kent berusaha menemukan pelaku. Ia mengumpulkan bukti-bukti lalu menyusuri satu persatu jejak yang ditinggalkan korban. Namun, baru saja memasuki hari ke tiga, korban yang lain kembali ditemukan. Ciri-cirinya persis sama. Kent terdiam, udara di sekitarnya terasa membeku. Ia sadar saat ini sedang berhadapan dengan seorang psycho, pembunuh berantai yang saat ini sedang melakukan permainan yang menantang penegak hukum kota Manhattan bermain adu tangkas. Lewat sikap brutal yang ia tujukan pada pemakai sepatu merah, ia ingin menunjukkan bahwa gaya hidupmu bisa membawamu pada kematian. Lewat angka-angka yang terukir ia berkata, jika kalian pintar temukanlah aku dalam waktu yang kutuliskan. Ada apa dengan sepatu merah? Mengapa pelaku hanya mengincar korban yang memakai sepatu merah?
Thriller
106.7K viewsOngoing
Read
Add to library
PREV
1
...
404142434445
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status