author-banner
Rany Phee Whee
Author

Novels by Rany Phee Whee

The Billionaire's Little Victim

The Billionaire's Little Victim

Bagi Estela Calista, kecantikan adalah kutukan yang membuatnya dikhianati oleh teman-temannya sendiri. Bagi Edward Sebastian Alexander, kekayaan adalah penjara yang membuat ibunya menghalalkan segala cara demi seorang cucu, termasuk menjebak putranya sendiri.
Read
Chapter: bab 6 Rahasia di Balik Ruang Kerja
​Clarissa terpaku, wajahnya yang tadinya cerah mendadak pucat pasi. Ia ingin membalas, namun punggung Estela yang menjauh dengan langkah angkuh memberikannya tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Estela tidak lagi berjalan seperti mangsa, ia berjalan seperti pemilik tempat ini. ​Namun, di balik keberaniannya di kampus, Estela tahu bahwa ia hanya sekuat "izin" yang diberikan Edward. Di tengah koridor yang mendadak sunyi, Estela merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya. Ia tahu, satu langkah salah saja akan menghancurkan citra yang baru ia bangun. ​"Estela! Berhenti di sana!" teriak Clarissa, suaranya melengking tinggi, mencoba merebut kembali otoritasnya yang runtuh. "Kau pikir dengan mobil mewah dan gertakan murahan itu kau bisa menghapus fakta bahwa kau adalah sampah yang dibuang?" lanjut Clarissa berusaha mengintimidasi Estela ​Estela menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik. Ia hanya memiringkan sedikit kepalanya, membiarkan cahaya lampu koridor memantu
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: bab 5 Kembalinya Sang Ratu yang Terbuang
Malam itu, setelah pesta berakhir dan keheningan kembali menguasai mansion, Estela langsung mengurung diri di kamar. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya sementara pikirannya masih berkutat pada percakapan yang tak sengaja ia dengar tadi.​"Kau seharusnya sudah tidur, Estela," ucap Edward tiba-tiba. Pria itu sudah berdiri di sampingnya tanpa menoleh, menatap kegelapan taman mansion yang luas.​"Aku bukan lagi gadis kecil yang bisa kau jadikan alat, Edward," balas Estela. Suaranya stabil, dingin, dan mengandung nada tantangan yang nyata.​Edward berbalik, alisnya terangkat satu. "Oh? Perubahan suasana hati yang sangat cepat. Apa karena pengaruh sampanye tadi?" sindirnya tajam.​Estela melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Aku mendengar percakapanmu dengan ibumu. Tentang 'rahim yang disewa' dan 'kotak kaca'. Kau ingin aku memainkan peran sebagai istri yang patuh? Baiklah. Tapi sandiwara ini tidak gratis."​Edward menyeringai tipis—sebuah ekspres
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: bab 4 Perjamuan di Atas Bara
Matahari telah tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat di luar jendela besar kamar Estela. Namun, di dalam mansion Sebastian, cahaya lampu gantung kristal justru berpendar semakin terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak seperti monster yang mengintai di setiap sudut.​Estela berdiri di depan cermin, menatap gaun hitam pekat yang dikirimkan oleh asisten pribadi Edward beberapa menit yang lalu. Gaun itu berbahan beludru, sangat pas di tubuhnya, dengan potongan off shoulder yang mengekspos leher jenjangnya. Hitam, warna berkabung, pikir Estela. Sangat cocok untuk menandai kematian kebebasannya.Pintu kamar diketuk. Bukan ketukan kasar seperti ketukan datar Martha. Ini adalah ketukan yang tegas dan berwibawa.​"Masuk," ucap Estela pelan.​Edward masuk ke dalam kamar. Dia sudah mengenakan setelan tuksedo yang sangat rapi. Rambutnya disisir ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang kokoh. Pria itu berhenti beberapa langkah di belakang Estela, menatap baya
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: bab 3 Sangkar Berlapis Sutra
Dunia Estela seakan melambat saat deru napas Edward menyentuh kulit lehernya. Ruangan yang begitu luas itu mendadak terasa sempit, pengap oleh aroma parfum maskulin yang tajam dan dominasi pria di hadapannya. ​Estela memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan tarikan halus pada ritsleting gaunnya. Bunyi logam yang bergeser terdengar seperti vonis mati di telinganya. "Kumohon..." bisiknya parau, sebuah upaya terakhir yang sia-sia untuk memancing nurani pria di hadapannya. ​Edward berhenti sejenak. Jemarinya yang dingin menyentuh pundak Estela yang gemetar. "Tangisan tidak akan mengubah kontraknya, Estela. Di dunia ini, air mata adalah mata uang yang paling tidak laku."ucap Edward dingin ​Tanpa peringatan, Edward menarik gaun itu hingga merosot ke lantai, membiarkan Estela berdiri membeku dalam balutan pakaian dalam yang tipis. Namun, alih-alih melanjutkan tindakannya, Edward justru berbalik dan berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar. Ia menuangkan wiski ke dalam gel
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: bab 2 Sangkar Emas Sebastian
​"Tersenyumlah, Estela. Dunia sedang menonton calon 'Ratu' Sebastian Group." ​Suara Edward nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan jepretan kamera, namun nadanya yang sedingin es membuat Estela gemetar. Pria itu merangkul pinggang Estela dengan posesif, bukan karena cinta, melainkan untuk menyembunyikan fakta bahwa kaki gadis itu nyaris lemas untuk berdiri. ​Di depan mereka, berdiri Ny. Victoria Sebastian, dalang di balik tragedi semalam. Wanita itu tersenyum puas, sebuah kemenangan yang dibangun di atas kehancuran martabat Estela. ​"Edward, kau sudah dewasa. Ibu senang kau akhirnya mengerti tanggung jawabmu," ucap Victoria dengan nada manis yang memuakkan. Matanya yang tajam beralih ke Estela, menelanjangi gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. "Dan kau, Gadis Kecil... kau cukup beruntung. Dari sekian banyak wanita, takdir memilihmu untuk membawa pewaris kami." Lanjutnya dengan nasa sinis Estela mendongak, matanya yang sembab menatap mereka bergantian. "Tidak... aku ing
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: bab 1 Jebakan Di Balik Kemewahan
"Berapa harga yang disepakati ibuku untuk kesucianmu, Gadis Kecil?" ​Suara berat dan dingin itu menyambar seperti petir di tengah keheningan kamar 808 yang pengap oleh aroma sisa percintaan dan pengkhianatan. Estela Calista tersentak, selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya merosot, mengekspos bahunya yang dipenuhi tanda kemerahan. ​Estela menoleh dengan perlahan. Di sudut ruangan, pria dengan pahatan wajah setajam dewa Yunani itu berdiri sambil mengencangkan jubah mandi hitamnya. Matanya yang berwarna abu-abu gelap tidak memancarkan gairah yang semalam mereka bagi, yang ada hanyalah kebencian murni. ​"Aku... aku tidak mengerti maksudmu. Aku bahkan tidak mengenal ibumu!" suara Estela bergetar, serak karena tangis dan kelelahan. ​Pria itu, Edward Sebastian Alexander, mendengus sinis. Dia melangkah mendekat, setiap derap langkahnya terasa seperti lonceng kematian bagi harga diri Estela. "Jangan bermain drama di depanku. Kamu masuk ke sini tepat saat obat itu bekerja, di ka
Last Updated: 2026-03-27
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status